
"Wulan, mulai sekarang aku titipkan kamu dengan Salman. Semoga dia bisa menjagamu dengan baik. Kalua dia sampai membuatmu menangis, maka aku adalah orang pertama yang akan menghajarnya." ucap Leon sembari melirik Salman.
"Leon, aku sudah besar. Tidak akan menangis seperti dulu lagi. Jangan membuatku malu."
"Iya, semoga benar begitu. Bolehkah aku memeluk mu sekali saja."
Wulan menatap suaminya, seolah meminta persetujuannya. Walaupun ia tahu pasti suaminya tidak akan mengijinkannya. Karena tidak bukan mahram.
"Memangnya kamu mau kepala mu di tusuk pasak dari besi panas jika berani menyentuh Istriku?"
"Tuhan. Tega sekali kamu bicara." dengus Leon kesal, yang membuat mereka terkekeh bersama.
Kini mereka pun berfoto bersama. Leon tak ragu merangkul bahu Salman. Tampak mereka tersenyum bersama.
Lalu Leon pindah posisi. Berdiri di samping Wulan. Sehingga gadis itu diapit oleh dua pria tampan berbeda negara.
Sebelum berfoto, Salman menengok ke arah Wulan dan Leon. Demi memastikan bahwa laki-laki yang mengaku cinta dengan istrinya itu, tidak mencuri kesempatan.
"Kamu tenang saja. Aku tidak akan mencuri kesempatan. Sebelum kamu benar-benar menusuk ku dengan paku."
Wulan menahan tawa mendengar ocehan kedua pria disampingnya.
Setelah beberapa kali gaya, akhirnya Leon turun dari altar. Saat melewati jalan depan Fatim. Ia menyunggingkan senyum. Gadis itu membalas dengan hal yang sama sambil mengacungkan kedua jempol nya.
"Sayang, kamu ngapain seperti itu?" kedua orang tua Fatim menoleh pada anaknya.
"Eh, tidak apa-apa kok pa, ma. Cuma ini, kuku aku sudah panjang. Rasanya perlu di potong." Fatim berkilah sambil memperlihatkan ujung kukunya yang sudah lumayan panjang.
Kini tiba giliran keluarga Fatim yang berfoto. Mereka menaiki altar dan bersalam-salaman dengan pengantin dan kedua orang tuanya.
"Selamat ya kak. Akhirnya bertemu dengan jodohnya. Semoga bisa menjadi pemimpin rumah tangga yang baik."
__ADS_1
"Aamiin. Terima kasih do'anya."
Setelah percakapan singkat itu, Fatim dan Salman saling menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan tersenyum. Lalu Fatim beralih berdiri di depan Wulan.
Seperti halnya Leon, Fatim juga tersenyum manis pada Wulan. Meskipun keduanya baru pertama kali bertemu.
"Selamat ya kak. Semoga rumah tangga kalian selalu sakinah, mawadah dan warohmah."
"Aamiin. Terima kasih. Panggil saja aku Wulan. Sepertinya kita seumuran kok."
"Hihihi. Baiklah, Wulan. Kamu bisa main ke rumah ku, jika bosan. Mamaku dengan mama kak Salman berteman akrab kok."
"In shaa Allah."
Fatim dan wulan berpelukan. Lalu mereka melakukan beberapa gaya saat berfoto.
Setelah turun dari altar. Fatim tak sengaja melihat Leon, yang tengah tersenyum padanya sambil mengacungkan kedua jempol nya. Gadis itu pun membalas dengan senyuman.
Satu persatu acara telah mereka lewati. Hingga tak terasa sudah di penghujung acara. Semua bangkit berdiri, dan beranjak dari tempat duduknya. Lalu antri bersalaman dengan kedua mempelai.
Meskipun capek terus menyalami tamu undangan yang berjumlah ribuan, kedua pengantin tetap menyunggingkan senyum terbaik mereka.
Setelah acara itu selesai. Kedua pengantin itu berjalan memasuki rumah. Tak di sangka jika keduanya berjalan berbeda arah.
Salman berjalan menuju kamar tamu, dimana barang-barangnya berada. Sedangkan Wulan tentu saja menuju kamarnya.
"Hei, kenapa kalian berjalan terpisah?" ucap Daddy Marquez yang membuat keduanya menoleh bersamaan.
"Bukankah kamar saya yang itu, om?" tanya Salman dengan polosnya sambil menunjuk kamar yang ada dihadapannya.
"Sekarang kamar mu sudah jadi satu dengan Wulan, dan barang-barangmu sudah dibawa ke atas oleh asisten kami. Untung papa mu mengingatkan kami lagi. Kalau tidak, bisa-bisa kalian tidak jadi melewati malam pertama." kekeh Daddy. Yang membuat Wulan menyunggingkan senyum karena malu.
__ADS_1
Bisa-bisanya daddy-nya berkata seperti itu dihadapan menantunya.
"Hah. Papa bilang seperti itu lagi, om?" Daddy Marquez pun mengangguk.
'Malu-maluin tuh sih papa.' batin Salman.
"Ya sudah, kalian berdua ke atas gih. Terserah mau ngapain saja."
"Daddy." ucap Wulan dan mommy bersamaan. Sedangkan Marquez hanya meringis.
"Baik, om."
Salman berjalan mendekati Wulan, dan ia menyingkap gaun bagian belakang yang dikenakan istrinya, agar memudahkan ia berjalan menaiki tangga tanpa takut terjatuh.
"Terima kasih." balas Wulan sambil tersenyum hangat.
Daddy dan mommy melihat hal itu juga ikut menyunggingkan senyum. Keduanya semakin yakin, bahwa Salman adalah pemuda yang baik dan bisa memimpin rumah tangganya dengan baik pula.
Sesampainya di kamar, Salman mengedarkan pandangannya menyapu ke setiap sudut ruangan yang luas itu. Kamar yang di design khas Eropa. Tapi juga tak luput dengan tambahan aksen khas pengantin baru.
"Kamu suka dengan design kamarnya tidak, mas?" tanya Wulan yang mengalihkan pandangan Salman.
"Suka. Rasanya tinggal disini seperti tinggal di benua Eropa asli."
"Syukurlah kalau begitu, mas."
"Ka-kamu, memanggil ku, mas?" Salman tersenyum tipis.
"Kita sekarang kan sudah menikah. Tentu aku harus lebih menghargai mu. Masa iya, aku cuma panggil kamu namanya saja."
Salman meringis, lalu menangkup pipi Wulan dengan kedua tangannya..
__ADS_1
"Terima kasih untuk usaha mu menghargai ku, sayang." ucap Salman dengan lembut. Lalu mengecup kening Wulan, yang membuat wajah gadis itu bersemu merah.