
Hari cepat sekali berlalu, tanpa terasa perut Wulan semakin besar. Karena usia kandungannya sudah menginjak sembilan bulan.
Meskipun begitu, gerakannya tetap terlihat lincah. Ia dan keluarganya sangat bersyukur, melihat hal itu. Karena ia pernah mengalami morning sickness, saat usia kandungannya berada di tri semester pertama. Hal yang umum bagi ibu-ibu hamil.
Kini ia tengah membantu suaminya menyiapkan apa saja yang akan dibawa ketika besok berangkat ke Surabaya. Untuk menghadiri acara counter yang diadakan tiap bulan. Ia harus menginap beberapa hari di sana.
Sebenarnya, Salman tidak ingin jauh dari istrinya yang tengah hamil tua. Tapi, apa boleh buat. Semua karena tuntutan pekerjaan. Hal itu juga cukup penting demi kemajuan usahanya.
Wulan juga sebenarnya tidak ingin berpisah dengan suaminya, dan ingin ikut. Tapi, bagaimana lagi, kedua orang tuanya juga melarangnya untuk ikut. Karena usia kandungannya yang mendekati hpl.
"Kamu hati-hati ya, mas disana. Kalau ada wanita yang mendekatimu, cepat menghindar. Nanti mentang-mentang badanku sedang gendut, kamu mencari kesenangan lain lagi disana." Wulan pura-pura marah dengan melipat kedua tangannya di depan dada dan mengerucutkan bibirnya.
"Astaghfirullah. Aku menikahi mu bukan karena badanmu yang langsing atau gendut. Aku mencintai dan menikahimu karena kamu adalah wanita yang baik. Jalan mu menemukan pemahaman yang sama denganku, membuatku salut."
"Yakin?" ulang Wulan.
"Yakin." Salman menganggukkan kepalanya.
"Bahkan, aku ingin meminta bekal buat persiapan beberapa hari di sana. Karena tak berjumpa dengan mu dan calon bayi kita. Pasti aku akan merasakan kesepian dan kangen." bisik Salman tepat ditelinga Wulan.
"Bekal apa?" tanya Wulan dengan polos. Ia tidak tahu apa maksud perkataan suaminya.
__ADS_1
Bukannya menjawab, tangan Salman mulai bergerak membuka baju yang dikenakan Wulan. Lalu mulai melancarkan aksinya dengan pelan. Agar tidak menyakiti istri dan calon bayinya.
Meskipun tengah hamil besar, Wulan masih bisa melayani suaminya dengan baik. Ia pun memejamkan mata karena kelelahan.
Salman tersenyum puas menatap istrinya, lalu menghapus peluh yang menetes di wajah dan badannya. Tak lupa ia mengecup kening serta perut buncit istrinya, sampai akhirnya ia ikut tertidur.
Hal itu memang menjadi kebiasaan baru dalam hidup Salman. Karena saat mengusap, perut Wulan akan bergerak, mengikuti gerakan tangannya. Terasa lucu dan menggelikan.
Keesokan harinya, Wulan mengantar suaminya sampai teras depan rumah. Sebelum suaminya berangkat, ia kembali berpesan untuk berhati-hati. Berhati-hati dalam segala hal.
Salman pun tersenyum dan mengangguk pada istrinya. Ia yakin, dibalik sikap posesif yang ditunjukkan oleh istrinya, ada rasa cinta yang dalam untuknya. Dan ia harus menjaga rasa cinta itu. Agar tidak memudar seiring berjalannya waktu. Dan justru bertambah lebat.
**
"Hei, kak. Bangun." ucap Salman sambil menepuk pipi gadis itu. Ia panik, karena di sepanjang lorong hotel, tidak terlihat ada orang.
Ia duduk di samping gadis itu sambil sejenak berpikir. Setelah sekian menit, ia menjentikkan jarinya. Lalu memasuki kamarnya, dan menelpon resepsionis untuk mengadukan tentang wanita yang menubruknya tadi.
Sementara gadis yang sudah terjatuh dilantai tadi, memicingkan matanya, ketika Salman justru masuk ke kamar.
'Apa laki-laki tampan itu tipe laki-laki terong makan terong. Kenapa melihat ku yang cantik dengan body yang aduhai, tidak membuatnya memasukkan ku ke kamarnya?' batin si gadis itu di antaranya kesadarannya yang tinggal beberapa persen saja.
__ADS_1
Setelah selesai menelpon, Salman kembali keluar. Dan berdiri di depan pintu. Demi berjaga-jaga jika terjadi sesuatu pada wanita muda yang mengenakan pakaian serba lima centimeter.
Sementara wanita itu berpikir, kenapa laki-laki tampan itu tidak kunjung membantunya. Dan malah berdiri di depan pintu.
Salman membuang pandangan, dengan melihat foto-fotonya bersama sang istri, karena tak ingin melihat dan berpikir yang macam-macam tentang perempuan yang tergeletak di depannya.
Bukannya ia tak mau membantu wanita itu, dengan memasukkannya ke kamar dan mengobatinya. Tapi ia tidak ingin timbul fitnah, yang bisa mengancam rumah tangga yang baru dibangun.
Tak lama kemudian, dua orang security datang bersama seorang laki-laki yang mengenakan jas rapi.
Salman pun menceritakan semuanya. Dan laki-laki yang memakai jas tadi meminta maaf sambil membungkukkan badannya pada Salman.
"Maafkan atas ketidaknyamanan yang dilakukan oleh salah satu penghuni hotel ini ya, pak." ucapnya, sebelum menyuruh kedua orang security mengangkat tubuh gadis itu, dan pergi meninggalkan Salman.
Salman masih berdiri di depan pintu, dan menatap mereka.
Mungkinkah semua ini adalah doa dari sang istri. Yang meminta pada sang Rabb untuk menjaga dirinya. Dan, ide yang melintas untuk menelpon resepsionis tadi, juga adalah jawaban dari doa istrinya.
Salman menghembuskan nafas. Ia meyakinkan diri, harus mengokohkan benteng hatinya, agar tidak ada yang berani merusak rasa cintanya untuk sang istri.
❤️❤️
__ADS_1