Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
268. Kejutan untuk Fatim


__ADS_3

Sambil menikmati makan siang, keluarga besar Salman dan Wulan bercakap-cakap. Entah siapa yang memulainya, tiba-tiba mereka mulai membahas soal umroh.


Ya, dulu mereka pernah melaksanakan umrah bersama. Mereka bahagia bisa melakukan perjalanan jauh dengan seluruh keluarganya. Dan kini ingin mengulang momen itu lagi.


Salman dan Wulan sebenarnya ingin ikut, tapi kasian dengan bayinya yang masih berumur satu tahun. Mana bisa tahan duduk di pesawat berjam-jam lamanya. Sedangkan menempuh perjalanan satu jam dengan mengendarai mobil saja, sudah banyak bergerak.


"Apa kita tunda dulu saja sampai Maryam berumur sepuluh tahun?" Ucap papa Reyhan.


"Hah? Lama sekali, pa." Protes mama Laura.


"Iya, pa. Lama sekali. Lebih baik kalian berangkat dulu tidak apa-apa. In shaa Allah, umrah selanjutnya kita bisa ikut." Ucap Salman.


"Kamu tidak apa-apa? Papa tinggal sendirian?"


Salman terkekeh mendengar pertanyaan papanya.


"Pa, Salman bukan anak kecil lagi, yang takut ditinggal pergi jauh. Ada anak dan istri, juga asisten rumah tangga dirumah ini." Timpal Salman.


"Okay, kalau begitu sekalian titip urusin usaha papa ya."


"Daddy juga titip usaha padamu ya, Sal." Timpal Daddy Marquez.


"Aduh, kenapa Salman jadi tempat penitipan?" Keluh Salman, yang membuat mereka terkekeh.


"Kalau bukan kamu, lalu pada siapa lagi kami mau titip usaha, Salman?" Ucap Daddy, di sela-sela makannya.


"Sayang, sepertinya aku akan jadi orang paling sibuk sedunia. Kamu dengar sendiri kan apa yang diucapkan papa sama Daddy tadi?"


"Tidak apa-apa, asal kamu jangan lupa jalan pulang mas."


"Tidak akan, jalan pulang sudah aku hafal sampai di luar kepala. Kalau aku lupa, bisa pake GPS."


Mereka kembali terkekeh, baby Maryam yang tidak tahu apa-apa, juga ikut-ikutan terkekeh ketika melihat orang dewasa dihadapannya seperti itu.

__ADS_1


**


Hari sudah sore ketika keluarga besar Wulan berpamitan pulang. Sebenarnya opa Atmaja sudah menyuruh mereka untuk menginap, tapi Daddy Marquez merasa tidak enak. Sehingga ia menolak tawaran itu.


Sementara itu setelah selesai mengerjakan sholat, opa Atmaja menghubungi karibnya. Siapa lagi kalau bukan haji Dahlan. Ia akan mengajak karibnya itu untuk umrah bersama.


"Hallo, assalamu'alaikum ustadz." Ucap opa Atmaja, setelah panggilan terhubung.


"Wa'alaikumussalam. Atmaja, kau sudah bisa bercanda lagi. Berarti sudah sehat ya?" Balas haji Dahlan dari seberang sana.


"Aku tidak sakit, tentu saja aku bisa bercanda terus." Balas opa Atmaja disertai kekehan kecil.


"Dahlan, aku mau umrah dengan keluarga besan anakku. Apakah kamu mau ikut?"


"Oh, ya. Kapan itu, Atmaja?"


"Sebulan lagi, in shaa Allah. Ajak anak dan istrimu sekalian."


"Iya, aku akan sampaikan pada mereka."


"Siap."


Setelah puas bercakap-cakap mengenai umrah, mereka mengakhiri percakapan udara itu.


**


Di tempat lain, papa Marco juga baru sampai di rumah besannya. Setelah menekan bel, tak lama kemudian pintu dibuka.


"Tuan. Tuan dan nyonya besannya pak Adam dan nyonya Tiwi kan?" Ucap asisten rumah tangga yang membukakan pintu.


"Iya, bi. Apa majikan mu ada?" Balas mama Margareth sambil mengulas senyum.


"Ada, nyonya. Mari masuk dulu."

__ADS_1


"Terima kasih, bi." Mama Margaretha dan papa Marco masuk di ruang tamu, dan duduk disana.


Sementara itu, asisten rumah tangga berjalan menuju kamar majikannya dan mengetuk pintunya.


"Bibi, ada apa?" Tanya mama Tiwi yang baru saja selesai mengerjakan sholat Dhuha. Mukenanya juga masih ia pakai.


"Di bawah ada besan anda nyonya."


"Besan?" Ulang mama Tiwi sambil mengernyitkan dahi.


Setahunya besan ataupun menantunya tidak pernah menyinggung atau mengabarkan pada dirinya, kalau akan datang ke Indo, tapi kenapa ini tiba-tiba sekali?


"Tolong panggilkan Fatim ya, bi. Saya lepas mukena dulu."


"Baik, nyonya."


Sesuai perintah majikannya, asisten rumah tangga itu membelokkan langkahnya menuju kamar anak majikannya.


Seperti halnya mamanya, Fatim juga terkejut. Ketika mengetahui kedua mertuanya ada di Indo, dan sedang duduk di ruang tamu.


"Suruh tunggu dulu ya, bi. Fatim ajak Abidah dulu."


"Baik, non. Kalau begitu saya permisi dulu."


Setelah kembali ke kamar, Fatim merapikan penampilannya. Lalu mendorong stroller bayinya menuju ke ruang tamu.


Setelah sampai di bawah tangga, Fatim tertegun. Ternyata benar apa yang dikatakan asisten rumah tangganya.


"Fatim, kenapa kamu masih berdiri disitu sayang?" Tanya mama Tiwi, yang tak lama kemudian sudah sampai di belakang anaknya.


"Eh, oh. Tidak apa-apa kok, ma. Hanya terkejut saja, kenapa papa dan mama tidak kasih kabar sama kita dulu.


"Ya sudah, ayo kita kesana. Dan tanyakan hal itu pada mereka." Mama Tiwi merangkul bahu putrinya, lalu mengajak anaknya menemui besannya.

__ADS_1


"Mama, papa?" Gumam Fatim, sambil mengerjapkan matanya. Ketika sudah sampai di dekat kedua mertuanya yang tengah duduk.


"Fatim." Seru kedua orang tua Leon. Keduanya bangkit berdiri dan Fatim pun menyalami mereka, lalu berpelukan.


__ADS_2