Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
69. Intimidasi


__ADS_3

Sementara itu, di seberang jauh sana, Wulan tengah menikmati makan siang bersama grandpa nya. Tiba-tiba handphone yang ia letakkan di atas meja berdering dan layarnya terlihat menyala. Ia melongok melihat nama yang tertera di layar handphonenya.


"Mommy." desis Wulan. Lalu ia pun mengangkat telepon itu. Sedangkan grandpa tetap melanjutkan makan siangnya.


"Hallo mommy." sapa Wulan, ia melambaikan tangannya ke arah layar handphonenya. Karena Mommy nya mengganti panggilan telepon dengan panggilan video.


"Hallo genduk ayu mommy." balas mommy dengan wajah yang berbinar.


"Bagaimana kabar kamu sayang?" imbuhnya lagi.


"Alhamdulillah baik mom." cetus Wulan tanpa sadar. Membuat senyum di wajah mommy dan Daddy memudar.


Wulan seketika menutup mulutnya sambil membulatkan matanya, karena tampak salah tingkah.


'Astaga, kenapa bisa-bisanya bibir ini mengucapkan kata seperti itu lagi?' batin Wulan menyesal.


"Eh, maksud Wulan, Wulan baik-baik saja kok mom, dad. Bagaimana kabar Mommy dan Daddy?" ralat wulan sembari menyunggingkan senyum hambar.


"Oh kita baik-baik saja Wulan. Mommy sangat senang kalau kamu di situ baik-baik saja. Bagaimana kabar grandpa dan grandma?"

__ADS_1


Wulan mengarahkan layar handphonenya ke arah grandpa yang tengah menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Aku baik-baik Melati. Kamu jangan khawatir, disini Wulan aman bersama ku. Kami akan selalu menjaga anakmu dengan baik."


Mereka pun saling bercakap-cakap cukup lama


Hingga tak sadar, hampir satu jam mereka menghabiskan waktunya untuk hal itu.


"Papa, Wulan. Kita sudahi dulu ya pembicaraan ini. Karena disini hari sudah menjelang malam." ucap Daddy ingin mengakhiri pembicaraan itu. Karena tak kuat menahan rasa rindu yang membuncah pada anaknya.


Ia takut hatinya akan semakin melemah. Sehingga bisa saja ia lepas kendali dan menyuruh Wulan untuk segera pulang.


Mereka saling melambaikan tangan dan memberi kecupan jarak jauh. Setelah itu panggilan pun benar-benar berakhir. Namun mommy dan Daddy masih duduk di kursi taman.


"Nah, kamu sudah dengar sendiri kan honey. Wulan di sana baik-baik saja. Kamu sebagai ibu harus kuat. Doakan anak kita selalu. Sekarang ayo kita masuk ke dalam."


Marquez bangkit berdiri, dan keduanya berjalan beriringan menuju dalam rumah.


Sedangkan di seberang sana, Wulan dan grandpa kembali melanjutkan makan siangnya. Lelaki sepuh itu mengernyitkan dahi sambil mencuri pandang ke arah cucunya.

__ADS_1


"Kenapa grandpa melihat Wulan seperti itu?"


Wulan merasa tak nyaman karena grandpanya diam-diam memperhatikannya.


"Kenapa tadi kamu mengucapkan kata-kata yang asing di telinga grandpa?"


Wulan menghentikan kunyahan nya. Ia tahu pasti grandpa nya mulai curiga karena ia selalu lepas kendali mengucapkan kata-kata dalam pemahaman Salman.


Ia sendiri juga tidak mengerti, saat ia berkawan dengan Aisyah, meskipun gadis itu mengucapkan kata-kata yang sama, ia tidak terpengaruh. Tapi setelah bertemu dengan Salman, membaca buku darinya, semua itu seketika membekas di kepalanya.


'Oh Tuhan, aku mohon. Hapus semua dari memori ku segalanya tentangnya. Aku yakin akan kuasa mu.' batin Wulan penuh harap.


"Wulan tak sengaja grandpa."


"Sungguh?" Grandpa menatap Wulan semakin dalam. Gadis itu hanya mengangguk.


"Tapi grandpa tidak yakin Wulan. Biasanya kamu akan memberikan banyak alasan untuk meyakinkan kami. Tapi sekarang kamu justru menunduk."


Wulan semakin merasa tak nyaman, karena grandpanya mulai mengintimidasinya.

__ADS_1


__ADS_2