
Setelah kepergian ibu dengan anaknya itu, Salman berjalan mendahului Wulan. Sehingga membuat gadis itu kelabakan. Karena belum sempat mengucapkan permintaan maafnya. Sudah menuduh Salman yang tidak-tidak. Bergegas ia memunguti satu persatu paper bag nya dan berlari kecil mengejar pujaan hatinya.
"Kak Salman tungguin Wulan." teriak Wulan.
Salman yang lagi-lagi malu dengan suara Wulan yang keras, seketika menghentikan langkahnya. Sehingga gadis yang berlari di belakangnya menubruk punggungnya.
Arghhh.....
Erang Wulan yang kesakitan sambil mengusap jidatnya.
"Maafin Wulan ya kak, tadi sudah menuduh kakak yang bukan-bukan. Lagian, kenapa kakak memakai atribut seperti itu? Apa sengaja memata-matai Wulan?" tanya gadis itu dengan penuh rasa percaya dirinya, dan untung saja tebakannya kali itu benar. Sehingga membuat Salman salah tingkah, hingga garuk-garuk kepala.
Ia membalikkan badannya dan menatap Wulan dengan rasa iba. Di saat gadis itu masih mengusap jidatnya, sambil menenteng banyak barang bawaan. Ingin membantu membawakan barang-barangnya tapi ada sekelumit rasa gengsi, yang membuat ia mengurungkan niatnya.
"Heem, sudahlah." balas Salman singkat, lalu berbalik arah hendak meninggalkan Wulan.
__ADS_1
Namun gadis itu segera mencegahnya. Ia mencekal tangan Salman kuat diantara paper bag yang terselip di balik tangannya. Jantung Salman seketika berdebar kencang merasakan tangan halus Wulan yang memegang tangannya.
"Sebagai permintaan maaf, temani Wulan makan yuk kak." rengek Wulan manja.
"Baiklah, tapi cari tempat yang ramai. Dan tolong segera lepaskan tangan mu. Kita bukan mahram."
Walaupun suaranya terdengar datar, tapi membuat Wulan bahagia. Tapi juga salah tingkah, karena telah lancang memegang tangan salman. Yang mana ia ketahui, di dalam keyakinan yang di anut Salman tidak boleh berpegangan selama belum semahram.
Keduanya berjalan menuju food court yang ada di mall itu.
Baru saja mulut Wulan terbuka henda berbicara, makanan nya yang mereka pesan sudah datang. Pelayan meletakkan makanan di hadapan keduanya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk berbicara.
Setelah pelayan itu pergi, Wulan memanjatkan doa seperti yang ada dalam buku tuntunan yang di pinjam dari Salman tempo hari.
Laki-laki dihadapannya mengernyit heran. Sudah dua kali ini Wulan mengucapkan kata seperti dalam pemahamannya. Saat itu juga ada debaran rasa bahagia yang kembali menyelimuti hati Salman.
__ADS_1
'Aneh, kenapa dengan jantung ku yang berdebar tak karuan ketika ia mengucapkan kata-kata itu? Sepertinya aku harus ke dokter untuk memastikan semua organ tubuh ku berfungsi dengan baik.' batin Salman.
"Kak Salman, ayo di makan, keburu dingin lho makanannya." ucap Wulan sambil tersenyum ramah yang menyadarkan Salman dari lamunannya.
"I_iya." balas Salman singkat, lalu menyuap sesendok lasagna ke mulutnya setelah mengucapkan doa.
"Kak, aku boleh bicara serius dengan mu?" ucap Wulan memecah keheningan di antara mereka.
"Bukan kah sejak tadi kami sudah berbicara tiada henti?" Wulan mengerucutkan bibirnya, Salman kembali ke mode awal, dimana ia selalu to the point dalam berbicara.
"Aku...... ingin belajar pemahaman yang kamu yakini selama ini." lirih Wulan sambil tertunduk malu. Namun hal itu masih bisa di dengar Salman.
Dan untuk yang kesekian kalinya, jantungnya berdebar kencang, karena rasa aneh yang kembali muncul.
'Ya Allah, apa aku tidak salah dengar? Dia ingin belajar pemahaman seperti yang aku pegang? Padaku?' batin Salman dengan wajah yang sedikit berbinar.
__ADS_1