Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
107. Info dari Leon


__ADS_3

Leon menggerutu kesal merasakan kelakuan grandpa dan grandma. Papa yang melihat hal itu pun penasaran dengan apa yang baru saja terjadi dengan putranya.


"Kenapa raut wajah mu terlihat tidak senang seperti itu Leon? Bukan kah tadi kamu terlihat senyum-senyum sendiri sebelum berangkat ke rumah grandpa?"


"Kalau jadi Leon, pasti papa juga akan kesel. Masa grandpa dan grandma bukannya bersikap tegas ke Wulan. Eh keduanya justru meniru apa yang dilakukan oleh cucunya itu." dengan bersungut-sungut kesal Leon menceritakan apa yang terjadi, sehingga membuat papanya cukup kaget.


"Apa! Jadi sekarang mereka sudah berbeda dengan kita?" ucap papa meminta kepastian pada Leon. Pemuda itu pun mengangguk mengiyakan.


Papa menyandarkan tubuhnya di kursi dengan pandangan lurus ke depan. Ia penasaran apa yang membuat mereka dengan cepat berubah. Padahal Minggu kemarin mereka baru saja beribadah bersama.


Apakah pemahaman baru itu memiliki sebuah daya tarik yang tinggi, sehingga tetangganya tidak ragu untuk melakukan suatu perubahan besar.


Leon dan papanya saling terdiam hingga akhirnya mereka tiba di kantor.


Papanya akan berusaha bekerja seprofesional mungkin, menyingkirkan hal yang tengah mengganggu pikirannya.


Berbeda dengan Leon yang masih saja melamun. Karena diliputi rasa jengkel, akhirnya ia menelepon Marquez untuk memberitahukan apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


Sementara itu negeri seberang, di tengah kota yang ramai, Marquez tengah melakukan meeting dengan karyawannya.


Ketika melihat layar handphonenya menyala, dan tertera jelas nama Leon yang muncul. Ia tidak begitu mempedulikannya. Ia menyelesaikan presentasi nya lebih dulu. Barulah ia menjawab panggilan telepon nya.


"Hallo Leon, ada apa sepagi ini menelpon om?" tanya Marquez ketika panggilan telah terhubung.


"Ini soal Wulan om." balas Leon tanpa basa-basi.


Sementara itu, Marquez yang mendengar nama anaknya disebut, segera memperbaiki posisi duduknya. Terlihat ia menjadi sedikit lebih tegang.


"Dia, grandpa dan grandma telah menganut keyakinan yang berbeda dengan kita om." tandas Leon.


Bagai petir di siang bolong, ucapan Leon benar-benar mengejutkan Marquez. Terlihat wajah laki-laki itu sangat tegang.


"Kamu tidak sedang bercanda kan Leon?"


"Buat apa Leon bercanda dengan om. Kalau om tidak percaya dengan apa yang Leon katakan, sebaiknya om kesini sendiri."

__ADS_1


"Hem, baiklah. Terima kasih infonya." Marquez langsung menutup teleponnya tanpa Leon sempat menjawab.


Dada laki-laki itu begitu bergemuruh hebat. Ia rela berpisah dengan anaknya dan mengirimnya jauh ke luar negeri, agar tidak ada yang mempengaruhinya dan menggoyahkan keyakinannya. Tapi disana justru ia telah melakukan hal yang di luar batas.


Terlebih kedua orang tua Marquez sendiri juga mengikuti apa yang dilakukan Wulan. Membuat laki-laki begitu heran dan sejuta rasa menyelimuti hatinya.


Ia menyuruh asistennya untuk merapikan semua dokumennya, lalu memesankan tiket pesawat untuk ke Belanda.


Marquez tidak fokus dengan urusan pekerjaan, akhirnya ia pun lebih memilih pulang. Dan tetap saja, sepanjang perjalanan ia terus terngiang dengan ucapan Leon tadi. Pemuda itu benar-benar telah merusak mood nya.


Sesampainya di rumah, mommy menyambut hangat kedatangan suaminya. Tapi raut wajah cemas tidak bisa dihilangkan dari seorang Marquez.


"Apa yang terjadi dengan mu honey?" tanya mommy dengan penasaran.


Marquez menatap wajah istrinya lekat, lalu menggeleng. Rasanya sulit sekali untuk mengatakan hal besar itu pada istrinya.


"Siapkan baju-baju kita. Karena sebentar lagi kita akan berangkat ke Belanda."

__ADS_1


__ADS_2