Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
183. Wulan sakit


__ADS_3

Kini Salman dan Wulan sedang berada di kamar. Keduanya sedang rebahan sambil bercerita dan bercanda sebelum tidur.


Pasangan suami istri itu terkekeh membayangkan kejadian lamaran Fatim tadi. Sikap Leon yang seperti anak kecil terus terbayang di kepala mereka.


"Sudah ah. Masa yang jadi bahan cerita cuma Leon saja. Aku kapan?" Salman pura-pura marah, dan mengerucutkan bibirnya. Membuat Wulan gemas dan mencubit pipi suaminya.


"Istri ku kenapa sih, sukanya mencubit suaminya." dengan gemas Salman membalas cubitan istrinya dengan menggelitikinya, yang membuat wanita cantik itu terkekeh geli.


"Ampun, mas. Berhenti dong. Aku kebelet pipis lho nanti, kalau kamu terus menggelitiki ku." cicit Wulan sambil memberontak.


Salman menyudahi aksinya, ketika tiba-tiba Wulan mengerang karena merasakan sakit di bagian perutnya.


"Kamu kenapa sayang?" wajah Salman berubah menjadi tegang melihat istrinya memegangi perutnya.


"Ngga tahu deh, mas. Tiba-tiba perut ku sakit."


"Maafkan aku ya. Mungkin terlalu keras yang menggelitiki." Wulan mengangguk lemah.


Salman berangsur turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju dapur untuk mengambilkan air putih hangat bagi Wulan.


Setelah minum air hangat, Wulan kembali merebahkan diri di ranjang. Dan suaminya mengusap pelan perutnya agar ia merasa lebih nyaman. Sampai ia tertidur.


**


Keesokan harinya, seperti biasa Wulan terbangun dari tidurnya, karena merasakan mual. Badannya juga terasa lebih hangat.


"Kenapa sih, aku jadi mudah masuk angin?" gumamnya sambil membersihkan bibirnya yang kotor dengan air bersih.


Salman dengan mata yang masih tertutup sempurna, tangannya bergerak meraba sekitar tempat tidurnya. Dan merasa tidak menemukan tubuh istrinya, ia mulai mengerjap pelan.

__ADS_1


"Kok ngga ada." gumamnya.


Samar-samar ia mendengar suara gemericik air dan suara aneh dari dalam toilet. Bergegas ia menuju ke tempat itu. Karena teringat semalam istrinya sempat mengeluh sakit perut.


"Kamu masih sakit sayang?" Salman mengusap pelan punggung istrinya. Ia tadi langsung masuk ke dalam toilet, karena pintunya tidak di kunci.


Wulan menggelengkan kepalanya, sambil membasuh wajahnya dengan air agar terlihat lebih segar.


"Lhoh, kok wajahmu pucat?"


Walaupun sudah dibasuh air, wajah pucat Wulan tidak bisa disembunyikan.


"Nanti juga hilang sendiri sayang. Aku mau tidur lagi. Ayo temani." Wulan menarik lengan Salman yang masih terdiam. Akhirnya suaminya itu menurutinya.


Keduanya kembali tidur, dengan posisi Wulan memiringkan badannya dan memeluk Salman. Sementara laki-laki itu memijit pelan badan istrinya agar jauh lebih enak.


"Nanti kita periksa ke dokter ya." ajak Salman, tapi Wulan diam saja tidak menyahut.


Jam alarm berbunyi, yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Sengaja tadi ia memasang alarm, karena ingin menghadiri pernikahan Fatim. Salman menggeliat, dan tak lupa mengecek kondisi istrinya.


"Badannya sudah tidak hangat seperti tadi." gumamnya, ketika ia menempelkan tangannya di kening Wulan.


Ia mandi terlebih dahulu, agar istrinya juga bisa beristirahat lebih lama.


Setelah selesai mandi, tak lupa ia mengerjakan sholat Dhuha. Barulah ia duduk di tepi ranjang.


Melihat istrinya yang tidur pulas, membuatnya tidak tega untuk membangunkannya. Di tengah keheningan pagi, ia mendengar ketukan pintu. Bergegas ia membukanya.


"Apakah Wulan belum siap?" tanya mommy yang berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


Salman membuka lebih lebar pintu kamarnya, agar mommy mertuanya tahu jika Wulan masih tidur.


"Hah. Wulan masih tidur?" mommy menutup mulutnya yang menganga dengan tangannya. Melihat kelakuan anaknya.


"Hem, mentang-mentang di rumah sendiri bangunnya siang. Apa saat di rumah mu, ia juga bangun siang seperti itu, Sal?"


"Wulan selalu bangun pagi, mom. Tapi tadi malam dia sempat mengeluh kalau perutnya sedikit sakit, dan tadi pagi sesudah subuh ia juga muntah-muntah. Bahkan badannya juga hangat. Kalau sekarang alhamdulillah sudah lebih baik."


"Muntah-muntah? Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya. Mommy ijin masuk ya." Salman mundur sebagai tanda mempersilahkan mertuanya masuk ke kamarnya.


"Iya, badannya tidak hangat."


Semerbak bau wangi dari tubuh Salman dan mommy mampu membuat Wulan menggeliat. Dan akhirnya terbangun.


"Lhoh, kok mommy ada di kamar Wulan. Ada apa sih?" Wulan mengerjapkan matanya.


"Kata Salman tadi kamu sakit. Makanya mommy ingin lihat kondisi mu."


"Wulan tidak apa-apa kok, mom." Wulan menyunggingkan senyum.


"Ya sudah. Wulan mandi dulu ya." wanita itu bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju toilet.


Mommy pun segera berlalu keluar untuk membantu menyiapkan apa yang dibutuhkan oleh keluarga Leon.


**


Di lantai bawah, Leon tengah bersiap-siap. Berulang kali ia menghadap cermin untuk memastikan penampilannya rapi. Setelah itu ia kembali menghafal ikrar ijab qobul. Setiap kali menghafal, ia selalu berkeringat dingin.


"Gawat, gawat. Kalau seperti ini caranya, bisa malu aku dihadapan keluarga Fatim." gumamnya sambil melempar apa saja yang ada dihadapannya.

__ADS_1


"Leon, kamu sudah siap belum?" suara Mama Margaretha dan suara ketukan pintu, begitu mengejutkannya. Bergegas ia membukakan pintu untuk mamanya.


__ADS_2