Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
62. Mimpi basah


__ADS_3

Leon pulang dari rumah grandpa Louis dengan kecewa. Hingga mukanya terlihat cemberut. Dan mengundang perhatian kedua orang tuanya.


"Bukan kah tadi kamu keluar sambil tersenyum bahagia, kenapa sekarang justru cemberut Leon?" tanya mamanya.


"Wulan ingin bekerja di tempat grandpa Louis ma. Itu artinya kita tidak bisa selalu berdua. Kecuali Leon ikut bekerja di perusahaannya. Tapi aku sudah terlanjur di tolak. Katanya harus membantu papa mengurus perusahaan sendiri. Padahal kesepakatan awal, dia yang akan ikut Leon bekerja ditempat papa."


Mama terkekeh kecil mendengar ungkapan hati anak semata wayangnya. Ia menyadari jika anaknya tengah dilema karena cinta.


"Biarkan dia membantu grandpa nya mengurus perusahaannya. Mereka memang benar, kamu harus membantu papa mengurus perusahaannya. Kalau bukan kamu yang membantunya, siapa lagi? Toh perusahaan itu nantinya akan jatuh ke tangan mu. Jika kalian berdua berjodoh, tak kan lari kemana Leon."


Leon hanya bisa mendengus kesal menanggapi ucapan mamanya. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


**


Di sudut kamar lain, yang letaknya jauh sampai beribu-ribu kilometer dari tempat tinggal Wulan sekarang. Salman belum bisa tidur, walaupun hari sudah larut malam. Sejak tadi ia hanya berguling-guling ke kiri dan kanan.


"Kenapa dua hari ini hati ku resah?" gumamnya.


"Tidak mungkin kepergiannya sampai membuat ku resah seperti ini. Memangnya siapa dia?"


"Harusnya aku senang dan lega kan sekarang? karena tidak ada yang mengganggu ku lagi."


Setelah bermonolog seorang diri, ia kembali memejamkan matanya. Namun, hampir satu jam tetap saja matanya masih segar.

__ADS_1


"Huft, sebaiknya aku melaksanakan sholat tahajud saja dulu."


Salman bangkit dari tidurnya, lalu segera berjalan menuju kamar mandi. 2 rakaat sholat Sunnah malam telah ia tunaikan dengan khusyu'.


Kali ini ia meminta ketenangan hati. Di jauhkan dari segala pikiran buruk, apalagi tentang wanita yang tidak ada hubungan apapun dengannya.


Setelah melaksanakan sholat malam, akhirnya tak lama kemudian ia bisa tidur.


"Berjanjilah pada ku. Kamu akan menjadi imam terbaik ku kak." ucap wanita yang ada dihadapan Salman dengan senyum hangatnya.


"Inshaa Allah, aku akan berusaha untuk menjadi imam yang baik untuk mu bidadari ku. Aku akan berusaha menjadikan mu bidadari, tidak hanya di dunia saja, tapi juga di akhirat kelak." balas Salman.


Suasana hening menyelimuti keduanya. Hanya terdengar deru nafas yang memburu dari sepasang anak manusia.


Wanita itu terlihat menundukkan pandangannya dengan pipi yang bersemu merah, karena Salman terus menatapnya.


Suasana masih sama seperti tadi, dan justru di luar, rintik air hujan mulai turun membasahi bumi. Seolah semesta kian mendukung keduanya memadu kasih.


Perlahan Salman mencondongkan tubuhnya dihadapan wanita di depannya, hingga mengikis jarak yang ada.


Jantung keduanya semakin berdegub kencang. Sehingga wanita itu menutup matanya untuk menghilangkan kegugupan yang menyelimuti hatinya.


Salman tak dapat lagi mengikat jiwanya yang seakan bergelora. Ia pun mencicipi bibir ranum warna pink yang ternyata rasa manisnya melebihi gula.

__ADS_1


Awalnya wanita itu hanya diam saja, sambil menetralisir rasa gugupnya. Namun lama-kelamaan, ia begitu menikmati kecupan yang diberikan Salman padanya.


Sedangkan Salman yang merasa wanita yang ada dihadapannya mulai rileks, perlahan mulai melakukan aksinya.


"Salman, Salman, Salman."


Seketika Salman tergeragap bangun. Pupil matanya melebar, memindai keadaan disekitarnya.


"Hah, a_aku tadi...."


Belum selesai ia bergumam, terdengar namanya kembali di panggil, yang di iringi dnegan suara gedoran pintu.


Bergegas ia pun turun dari ranjang tempat tidurnya, dan membuka pintu. Terlihat mama Laura sudah berdiri di ambang pintu.


"Salman? Kamu baru bangun tidur?" cetus mama sambil memperhatikan anak semata wayangnya dari atas sampai bawah.


"I_iya ma." balas Salman sambil meringis.


"Kamu sakit?" Salman menggeleng.


"Sudah sholat subuh kan? Soalnya ini sudah jam 9." tanya mama Laura dengan ragu.


"Astaghfirullah! Belum ma." Salman segera berlari ke kamar mandi. Mama yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum tipis.

__ADS_1


Sedangkan di dalam kamar mandi, Salman terkejut ketika hendak berwudhu, melihat celananya yang basah.


"Hah, apa ini air kencing? Atau aku... sebesar ini masih bisa mengalami mimpi basah?" gumam Salman dengan raut wajah heran.


__ADS_2