
Saat mencapai setengah perjalanan, Wulan mengernyitkan dahinya menatap wanita berjilbab yang berjalan di trotoar.
"Itu wanita yang sering berpapasan dengan ku." gumamnya sambil tersenyum tipis. Ia pun segera menghentikan laju mobilnya dan memanggil perempuan itu.
"Hai sister." seru Wulan sambil melambaikan tangannya, kepalanya pun ikut melongok keluar.
Wanita berjilbab yang merasa di panggil dengan sebutan 'sister' menoleh ke kanan dan kiri. Matanya terkunci pada sosok gadis cantik yang ada di dalam mobil.
Ia mengernyitkan dahi sambil sejenak berpikir. Wulan yang tak sabar segera membuka pintu mobil, dan keluar menghampiri wanita tadi.
"Hai. Apa kamu lupa dengan ku sister?" ucap Wulan pada wanita dihadapannya.
"Oh, apakah kamu yang menemani anak ku ketika aku meninggalkannya di toilet dulu?" tebak wanita berjilbab, dan Wulan seketika menganggukkan kepalaku sambil tersenyum tipis.
"Maa syaa Allah, aku tidak menyangka bisa bertemu dengan mu lagi sister."
Wanita itu tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya. Wulan pun menyambutnya dengan pelukan.
Kedua wanita itu seperti sepasang sahabat yang sudah lama tidak bertemu.
__ADS_1
"Aku sering melihat mu melewati jalan ini. Tapi aku tidak menyapamu, karena setiap hari aku pulang bersama grandpa ku. Baru kali ini aku membawa mobil sendiri menuju kantor."
"Oh iya, kamu mau kemana? Biar aku antarkan." tawar Wulan, setelah keduanya saling mengurai pelukan.
"Aku mau pulang."
"Baiklah, ayo masuk mobil ku. Aku akan mengantarkan mu sampai rumah."
"Oh, tidak usah. Aku takut akan selalu merepotkan mu terus sister. Lagi pula rumah ku dekat, sebentar lagi sampai." tolak wanita itu.
Namun Wulan terus mendesak untuk menerima tawarannya. Akhirnya, wanita itu pun mengalah. Ia masuk ke dalam mobil Wulan.
Gadis itu segera melajukan mobilnya. Dan kendaraan roda empat itu berjalan menuju alamat rumah yang ditunjukkan oleh wanita tadi. Untuk menghilangkan rasa penat, keduanya saling bertukar cerita.
"Assalamu'alaikum." ucap Natalie sembari membuka pintu. Ia pun masuk ke dalam rumah, di ikuti oleh Wulan.
Tampak gadis itu mengedarkan pandangannya, menyapu setiap sudut rumah yang tidak terlalu luas namun terasa nyaman.
"Mama." ucap gadis kecil sembari berlari ke arah Natalie.
__ADS_1
"Sayang, mana papa?" Natalie menggendong Anisa.
"Baru di dapur memasak pie buah kesukaan Anisa ma." celoteh gadis kecil dengan logatnya yang lucu.
"Bilang sama papa untuk membuatkan minuman tamu ya."
"Baik ma." Anisa segera turun dari gendongan mamanya, lalu berlari kecil menuju dapur.
Setelah Natalie mempersilahkan Wulan duduk, ia pamit ke dapur untuk mengambil minuman untuknya.
Tak lama kemudian, Natalie sudah berjalan menuju ruang tamu sambil membawa secangkir minuman dan pie buah buatan suaminya.
"Ayo dicicipi. Semoga kamu suka." ucap Natalie. Wulan pun segera menyeruput minuman yang ada di cangkirnya.
"Ini teh apa? Kenapa rasanya berbeda dari teh pada umumnya?"
Wulan kembali menyeruput teh itu, walau sedikit menyipitkan matanya.
"Ini teh dauh bidara. Apa kamu tidak menyukainya? Aku bisa menggantikan mu dengan soft drink atau yang lainnya."
__ADS_1
"Eh tidak, aku justru sangat menyukainya." Wulan meminum tehnya lagi sebagai tanda bahwa ia memang benar-benar menyukainya.
"Alhamdulillah." Natalie tersenyum lega.