Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
114. Shopping


__ADS_3

"Lhoh, om Marquez kapan datang?"


Leon terkejut ketika pagi itu melihat keluarga Wulan tengah berkumpul di luar rumah. Ia pikir, Daddy nya Wulan akan meminta dirinya untuk menjemput di bandara. Ternyata ia salah besar.


"Bukan kah kamu yang menyuruh Daddy ku untuk datang kesini? Masa ngga tau kalau sudah sejak kemarin pagi Daddy tiba." ucap Wulan dengan senyum sinis, membuat Leon terkejut.


Dari mana gadis itu tahu jika dirinya yang mengabari Daddy nya. Apa mungkin, om Marquez mengatakan pada keluarganya soal itu, pikir Leon. Laki-laki itu hanya bisa meringis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Leon, terima kasih telah menjadi mata-mata yang baik di keluarga ku. Tanpa mu mungkin rahasia besar ku tak kunjung terbuka." bisik Wulan ketika ia mendekati pemuda itu. Setelahnya ia segera masuk mobil.


"Ayo pa kita jalan." ucap Marquez ketika melihat anaknya sudah masuk ke mobil. Sementara Leon masih menatap kepergian keluarga Wulan dengan sejuta tanya di benaknya.


"Kenapa mereka terlihat bahagia sekali? Harusnya kan sekarang mereka tengah adu mulut karena berbeda pemahaman? Dan kemana mereka pergi? Aku harus cari tahu."


"Leon!" seru papanya yang membuat Leon tersentak kaget. Ia memutar badannya, dan melihat papanya hendak membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Ayo cepat berangkat. Pagi ini kita ada rapat." imbuh papanya lagi.


Leon pun hanya bisa mendengus kesal, karena rencananya untuk memata-matai keluarga Wulan gagal. Ia segera masuk ke mobil dan melajukan menuju kantor.


**


Sementara itu, Wulan sekeluarga sedang dalam perjalanan menuju masjid yang menjadi saksi bisu dimana Wulan berhijrah. Tak hanya ia saja, tapi grandpa dan grandmanya juga. Dan sekarang ia akan mengantar kedua orang tuanya.


Sungguh ia tak menyangka dan sangat bersyukur. Mereka yang awalnya menentang, walaupun tidak secara terang-terangan, akhirnya mau mengikuti apa yang dilakukannya.


Keluarga Wulan mengucapkan salam pada keluarga Natalie, lalu saling berjabat tangan dan berpelukan. Setelah itu, mereka segera masuk ke dalam masjid dsn bercakap-cakap disana.


Tak lama kemudian, beberapa orang datang menghampiri mereka. Rombongan itu adalah orang-orang yang bertugas menuntun orang menjadi seorang muslim.


Mereka menyampaikan beberapa informasi, sebelum akhirnya proses sakral itu pun di mulai.

__ADS_1


Mata mereka berkaca-kaca saat mengikuti proses tersebut, dan akhirnya buliran kristal bening itu tumpah setelah acara selesai. Mereka saling berpelukan hangat.


"Semoga kita bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah." ucap grandpa. Mereka pun mengaminkan doanya.


Setelah acara sakral itu selesai, sebagai ungkapan terima kasih dan rasa syukurnya, Marquez mengajak mereka untuk menikmati santap siang bersama.


Meskipun baru sekali bertemu, tampak sekali mereka akrab antara satu dengan yang lainnya.


Wulan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Natalie, karena berkat dialah ia mantap untuk mengambil sebuah keputusan.


Setelah selesai makan siang, dan melaksanakan sholat Dhuhur bersama, Wulan meminta Natalie untuk mengantarkan keluarganya menuju pusat perbelanjaan yang menjual pakaian muslim. Tentu saja dengan senang hati Natalie menyetujui hal itu.


Jiwa para wanita itu meronta-ronta ketika melihat warna warni gamis, jilbab dan accesorisnya yang memanjakan mata.


Bagai orang yang khilaf, mereka asal memasukkan semua itu ke dalam keranjang belanjaan. Dan ketika sampai meja kasir, barulah mereka sadar telah menghabiskan dana puluhan juta untuk menutup aurat.

__ADS_1


__ADS_2