
Fatim sudah tertidur pulas. Tapi Leon belum juga bisa tidur. Dengan lembut ia membelai wajah istrinya. Lalu mengecup keningnya. Dan terakhir mengusap perut istrinya yang sudah sedikit membuncit.
Leon duduk sambil memeluk bantal, dengan pandangan yang menerawang. Ia tengah memikirkan sesuatu.
Sebagai seorang pemimpin rumah tangga, tak seharusnya ia terus merepotkan kedua orang tuanya untuk menanggung seluruh biaya hidup dan istrinya. Apalagi Fatim tengah mengandung. Yang tentunya memerlukan biaya yang lebih besar.
Masalahnya, Fatim di Indo juga membantu papanya kerja mengurus rumah sakit. Jika Leon memutuskan tinggal di Indo, maka ia tidak tahu harus bekerja apa.
Tapi di sisi lain, ia senang tinggal di Indo. Karena itu artinya bisa sering bertemu dengan Salman dan rekan papanya yang memiliki pondok pesantren itu. Ia bisa menimba ilmu pada mereka dengan nyaman.
Jika ia tinggal di Belanda, ia bisa membantu papanya mengurus perusahaan. Tapi nanti istrinya itu mau, di ajak menetap di Belanda atau tidak.
Di tambah lagi, ia belum tahu tentang kegiatan pengajian yang ada di Belanda. Bagaimana pun juga, ia adalah seorang mualaf.
Jadi ia memiliki tekad yang kuat untuk mengikuti kegiatan seperti itu. Demi memupuk rasa iman dan taqwa nya pada Allah.
Di tengah-tengah kegelisahannya, ia membuka dan membaca tafsir Al Qur'an. Karena memang belum bisa membaca huruf Hijaiyah nya.
"Lhoh, kamu kok belum tidur, kak?" tanya Fatim sambil menggeliat. Leon menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum.
"Tumben sekali sih, sampai malam seperti ini kamu membaca Al-Qur'an. Ayo dikeraskan suaranya, biar aku juga bisa mendengarnya."
__ADS_1
"A-aku, aku kan belum bisa membaca hurufnya, sayang. Aku hanya membaca terjemahannya saja." balas Leon malu-malu.
"Hem, kalau begitu, besok kita belajar sama-sama. Gimana? Tapi sebaiknya sekarang kita tidur dulu."
Leon mengangguk sambil tersenyum, lalu meletakkan Al Qur'an di meja nakas. Ia tidak ingin membuat istrinya itu kepikiran. Yang akan mempengaruhi pada bayi dalam kandungannya.
**
Pagi harinya, setelah menyelesaikan sarapan pagi. Leon dan Fatim duduk di teras balkon.
Biasanya tempat itu menjadi tempat favorit untuk menghabiskan waktu bersama Wulan. Keduanya akan duduk di teras masing-masing sambil bercerita. Atau lewat balkon, Leon melompat memasuki kamar Wulan.
Dan sekarang, tempat itu akan menjadi tempat favoritnya bersama sang istri untuk belajar membaca Al Qur'an.
"Sayang, kamu jangan marahin aku ya." ucap Leon merasa tidak enak, sepertinya lidahnya sangat susah untuk diajak menghafal.
"Kenapa harus marah. Dulu aku juga sama seperti mu, kok. Belajar di usia yang lebih tua memang cukup menguji kesabaran. Karena pikirannya sudah terpecah dengan banyak kepentingan lainnya."
"Kok kamu tahu aku sedang ada masalah, sayang?"
Leon yang tadi bersandar sambil mengibaskan buku di wajahnya, karena peluhnya menetes. Kini menegakkan badannya. Sementara Fatim mengernyitkan dahi mendengar suaminya sedang ada masalah.
__ADS_1
"Kamu, ada masalah apa, kak?"
Leon menutup mulutnya dengan satu tangannya, dan tangan yang satunya menghentikan aktivitasnya mengibaskan buku.
"Bilang saja. Tidak usah ragu. Siapa tahu aku bisa membantu. Yah, walaupun cuma bisa bantu doa." kekeh Fatim di ujung kalimatnya. Sementara Leon menghirup nafas dalam-dalam sebelum bercerita, tentang apa yang ia pikirkan semalam.
"Em, kita kan sudah menikah. Bahkan kamu juga sedang hamil. Sebagai seorang kepala rumah tangga, aku merasa belum bisa memainkan peran ku dengan baik. Bahkan aku masih perlu banyak belajar denganmu soal keyakinan kita ini."
"Aku tidak masalah dengan semua itu. Bagiku, kamu sudah memainkan peran mu dengan cukup baik, kak. Kamu terlihat bersemangat belajar sudah membuatku senang." potong Fatim. Ia tidak ingin suaminya patah semangat, dengan beberapa perbedaan yang ada.
"Terima kasih soal itu, sayang. Aku juga ada masalah penting lainnya. Hal ini menyangkut tentang domisili kita."
"Kenapa cara bicara mu yang seperti itu justru membuat ku takut ya, kak. Tidak seperti biasanya yang serba blak-blakan. Terus terang aku malah suka kamu berbicara yang seperti biasanya itu."
Leon menyunggingkan sedikit senyum, lalu menceritakan semuanya yang ia pikirkan semalam. Tanpa ada sedikit pun yang ditutup-tutupi dari Fatim.
Setelah selesai bercerita, Leon bisa menghirup nafas lega. Begitu juga dengan Fatim.
"Kak, sekarang aku kan sudah menikah denganmu. Jadi segala keputusannya, aku pasrahkan padamu. Bahkan jika aku harus ikut denganmu disini, aku juga tidak keberatan. Jika kamu tidak ingin ikut kerja di perusahaan papa dan ingin usaha mandiri, aku siap bantu kok."
Leon menghirup nafas lega, sambil menyunggingkan senyum ke arah Fatim. Tidak menyangka, jika istrinya bijak dalam setiap keputusan.
__ADS_1
❤️❤️