
"Apa kamu tidak takut dosa. Berani-beraninya pegang tanganku." ucap Salman geram.
"Apa itu, dosa? Tidak kelihatan kan. Aku hanya ingin berteman dengan mu." balas si gadis itu dengan santainya.
"Aku tidak suka memiliki teman perempuan. Karena tidak ada pertemanan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Kecuali, salah satunya akan condong memiliki perasaan yang lebih. Tolong, berhenti mengganggu ku. Aku sudah punya istri yang sekarang tengah hamil. Apa kamu tidak bisa berpikir, bagaimana jika posisi mu ada di Istriku. Tengah hamil, dan suaminya malah berdekatan dengan wanita lain. Allah itu membalas sesuai dengan perbuatannya. Jangan pernah mengganggu kehidupan orang lain, kalau kamu juga tidak ingin diganggu."
Setelah berkata seperti itu, Salman segera berlari kecil, menyusul teman-temannya yang mungkin sudah sampai di ruang meeting.
Sedangkan si gadis itu, diam mematung. Karena memikirkan ucapan Salman yang selalu menusuk hatinya.
Kenapa ada laki-laki yang mencintai wanitanya sebegitu dalam. Sedangkan si gadis itu tidak pernah merasakan dicintai oleh laki-laki yang begitu dicintainya.
**
Sudah tiga hari Salman berada di Surabaya. Setelah menyelesaikan acara tersebut, ia memilih langsung pulang.
Karena tak ingin bertemu dengan gadis yang entah datang dari planet mana. Dan membuatnya begitu merindukan istri dan calon bayinya. Yang ada dipikirannya sepanjang perjalanan pulang adalah keduanya.
Dan karena terlalu memikirkan keduanya, tak sengaja ia sampai menabrak pembatas jalan. Sampai kepalanya terantuk kaca mobil. Dan membuatnya pingsan.
Beruntung sebuah mobil yang kebetulan melintas di belakangnya berhenti dan pengemudinya yang seorang wanita turun dan mendekati mobil Salman.
Wanita itu melongokkan kepalanya dan melihat Salman yang kepalanya tertelungkup di atas kemudi.
__ADS_1
Ia berusaha membuka pintu dari dalam, dengan memasukkan sebelah tangannya. Akhirnya usahanya itu berhasil.
Ia pun segera merebahkan tubuh laki-laki yang di tolongnya di kursi kemudi. Agar bisa melihat seberapa besar lukanya.
Dan ia tampak syok, melihat laki-laki yang selalu mengucapkan kata-kata pedas padanya. Kini tak sadarkan diri.
Kening Salman sedikit lecet, dan berdarah. Ketika jari wanita itu di dekatkan ke hidung Salman, masih terdapat hembusan nafas. Wanita itu seketika lega. Karena laki-laki dihadapannya belum meninggal.
Tapi ia bingung, bagaimana cara menolongnya. Padahal Salman sudah bilang di awal jika ia tidak mau di sentuh oleh wanita.
Akhirnya, wanita itu mempunyai sebuah cara untuk membangunkannya, tanpa harus menyentuhnya. Ia memutar kunci mobil milik Salman, lalu menekan klaksonnya berulang kali dengan kerasnya.
Cara itu, benar-benar efektif menyadarkan Salman dari pingsannya. Laki-laki itu terlonjak kaget.
"Aku tidak macam-macam dengan mu. Hanya ingin menolong tanpa menyentuhmu. Ya sudah, aku pakai cara itu saja. Syukurlah kalau kamu sudah sadar." ucap gadis itu sambil tersenyum senang.
Salman tidak tahu harus sedih ataukah senang. Karena sudah di tolong, oleh gadis dihadapannya. Karena rasa tidak sukanya lebih besar dari rasa sukanya.
Tapi, adab yang baik ketika di tolong, harusnya mengucapkan terima kasih pada si penolong. Oleh karena itu, Salman berniat mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih, karena sudah mau menolongku." ucap Salman datar. Tapi bisa membuat wanita yang ada dihadapannya senyum senyum sendiri.
"Sama-sama." balas si gadis dengan suara yang lemah gemulai.
__ADS_1
"Maaf, aku harus segera melanjutkan perjalanan lagi. Permisi."
Dengan berat hati si gadis itupun menganggukkan kepalanya. Ia sedikit menggeser kakinya, agar mobil Salman bisa lewat.
Si gadis itu menatap mobil yang dikendarai Salman, melaju dengan kecepatan tinggi.
"Semoga, kalau ada apa-apa lagi dengannya. Aku datang jadi dewa penolongnya." gumam si gadis itu.
Sementara itu, di dalam mobil, Salman tak habis pikir. Kenapa bisa gadis itu yang menolongnya. Padahal ia tidak menyukainya.
Tapi, Salman mencoba berpikir realistis. Bahwa antara benci dan cinta itu bedanya tipis. Perjalanan hidup seseorang, tidak ada yang tahu.
Sepertinya hal nya dulu, tentang kisah cintanya bersama Wulan. Juga berawal dari pertemuan yang tidak sengaja. Dan seolah takdir terus mempertemukannya.
Awalnya Salman bersikeras menolak, tapi pada kenyataannya, sekarang ia justru cinta mati dengan isterinya.
Salman berdo'a, agar hatinya senantiasa dikuatkan untuk memiliki seorang istri saja. Sampai dua, tiga, empat dan seterusnya.
Karena menikah bukan hanya tentang naaafsu saja. Tapi juga tentang bagaimana bisa membuat pasangan kita, nyaman berada di samping kita.
Akhirnya setelah melewati hampir empat jam perjalanan, Salman tiba juga di rumah mertuanya.
Saat ia membuka pintu, ia sudah disambut dengan senyuman sang istri yang begitu cantik dimatanya. Dan membuatnya selalu kangen. Keduanya berjalan beriringan menuju kamarnya. Dengan posisi tangan Salman dibelakang pinggang istrinya.
__ADS_1