
Fatim dan mama Margareth mulai merajut di taman belakang. Tentu saja naluri kewanitaan mereka mengajak untuk berbincang-bincang. Apa saja mereka bicarakan.
"Fat, kalau bisa punya anak lebih dari satu ya. Empat atau lima gitu. Biar rumah ini semakin ramai. Lihat saja, rumah mama begitu sepi. Hanya ada kita berdua."
Arghh...
Suara Fatim yang mengerang kesakitan, karena jari tangannya tertusuk jarum rajut. Seketika ia mengibas-ngibaskan tangannya. Meskipun tidak berdarah, tapi masih terasa cukup sakit.
Mama Margaretha meraih tangan Fatim lalu melihat nya sejenak.
"Tidak apa-apa kok, ma. Jarumnya kan tidak tajam. Cuma agak sedikit sakit saja."
Sebenarnya tadi sudah konsentrasi merajut. Tapi mendengar permintaan mama mertuanya soal anak, konsentrasinya langsung buyar karena terkejut.
Dari keluarganya saja, ia adalah seorang anak tunggal. Sedangkan dari keluarga suami, Leon juga adalah anak tunggal.
Jika sudah begitu, apakah mungkin bisa Fatim memiliki anak lebih dari satu. Seketika ia merasa paranoid sendiri.
"Kok, bisa sih terkena jarum? Biasanya juga tidak kan?"
"Fatim kaget saja, ma. Mama minta Fatim punya anak lima. Takut juga tidak bisa mengabulkan. Karena Fatim dan kak Leon sama-sama anak tunggal." keluh Fatim.
Fatim memang menganggap mama mertuanya seperti mama kandungnya sendiri. Begitu pula sebaliknya. Mama Margaretha sudah menganggap Fatim seperti anak kandungnya sendiri. Bukan lagi seorang menantu. Jadi, hal sekecil apapun tidak ada yang mereka tutupi.
__ADS_1
Mama Margaretha terkekeh sejenak mendengar keluhan anak mantunya itu. Lalu mulai menatapnya.
"Kamu kan masih muda. Apalagi, setelah menikah kamu langsung hamil. Itu tandanya kalian berdua sama-sama subur. Mama yakin, pasti kalian berdua bisa punya banyak anak. Biasanya orang sabar itu anaknya banyak."
"Hah, apa itu artinya mama kurang sabar? Jadi cuma punya satu anak saja." celetuk Fatim. Meskipun begitu mama Margareth tidak marah, dan justru tertawa.
"Iya. Mama dulu memang bukan orang yang sabar. Karena kelakuan suamimu dari kecil sampai besar sungguh..." mama Margareth tak meneruskan ucapannya, tapi justru geleng-geleng kepala sambil membuang nafas kasar.
"Dia itu benar-benar menguji kesabaran mama setiap harinya. Nanti kalau anakmu lahir, semoga bisa sabar seperti kamu ya sifatnya. Jangan sampai niru bapaknya." imbuh mama Margareth lagi.
**
Di kediaman Wulan.
Sejak melahirkan sampai sudah di bawa pulang, kaum kerabat Wulan dan Salman, rekan kerja datang silih berganti. Tentunya untuk menjenguk anak dan istri Salman.
Padahal bayi itu baru berusia lima hari. Tapi kecantikannya saja sudah terpancar. Apalagi jika ia sudah menginjak remaja. Tentu saja kecantikannya akan membuat banyak orang yang iri.
Tak hanya menjenguk, kaum kerabat juga membawakan banyak kado untuk baby girl yang namanya masih dirahasiakan. Dan akan diumumkan saat acara aqiqah nya berlangsung.
Mereka juga menggendong bayi kecil itu cukup lama, karena gemasnya. Dan ketika menangis, barulah bayi itu diserahkan pada Wulan untuk disusui.
Meskipun kedatangan sanak keluarga yang terdengar berisik dan bahkan sering membuat bayi Wulan menangis, kedua orang tua si bayi tidak mempermasalahkannya. Karena itu tandanya mereka nyaman bertamu.
__ADS_1
Di saat bayi itu selesai disusui, hingga akhirnya ia bersendawa besar. Hal itu menjadi bahan tertawaan semua orang. Tak hanya itu saja, bahkan si bayi kecil juga kentut besar. Sehingga kembali mengundang tawa.
"Dia pasti sudah kekenyangan." ucap salah satu kaum kerabat. Yang memang sudah berpengalaman memiliki anak bayi.
"Iya, Tan. Setiap selesai aku susui, pasti seperti itu." timpal Wulan.
"Tidak apa-apa. Itu justru bagus."
Cukup lama Wulan bercakap-cakap dengan sanak keluarga. Mereka pun segera pamit, karena masih ada pekerjaan lain. Selain itu, mereka juga tidak ingin mengganggu tidur bayi. Bagaimana pun juga, anak yang baru lahir itu memang doyan sekali tidur.
Tak berselang lama setelah kepulangan sanak keluarga, keluarga Wulan kedatangan rombongan keluarga haji Dahlan.
Mereka sangat senang mendapat kunjungan dari beliau. Keluarga Salman segera mempersilahkan mereka masuk, lalu menjamunya.
Mereka menengok kondisi Wulan dan bayinya. Sama seperti sanak keluarga Salman dan Wulan, mereka memuji kecantikan bayi kecil itu.
Setelah puas melihat bayi, haji Dahlan dan papa Andre berbincang-bincang dengan keluarga Salman yang laki-laki. Sedangkan Wulan berbincang-bincang dengan Aisyah, umi Rosyidah, dan juga Omanya.
Aisyah turut senang, karena sahabatnya sedang berbahagia mendapatkan bayi yang sangat cantik dan yang terpenting sehat.
Aisyah bahkan berpelukan erat dengan Wulan. Dan keduanya sampai menitikkan air mata karena haru. Saat awal tadi mereka bertemu.
Baby Jundi yang berada dalam pangkuan Aisyah, tangannya terlihat menggapai bayi yang tengah berada dipangkuan Wulan. Hal itu membuat mereka terkekeh geli.
__ADS_1
"Sepertinya bayimu naksir bayi ku, Ai?" celoteh Wulan.
"Mungkin begitu. Karena tahu bayimu sangat cantik." balas Aisyah.