
Genap dua Minggu Wulan dan Salman berada di Belanda. Besok keduanya akan pulang, dan kini mereka tengah bersiap-siap. Jauh-jauh hari keduanya mengabari Natalie dan suaminya. Agar tidak lupa untuk bersiap-siap.
Setelah mengemas seluruh perlengkapannya di dalam koper, Salman dan Wulan menghampiri grandpa dan grandmanya. Pasangan sepuh itu kini sedang duduk di sofa ruang Keluarga.
"Hem, grandpa dan grandma kok belum tidur?" Wulan memeluk grandma dari belakang.
"Bagaimana kami bisa tidur? Besok kan kalian akan pulang. Lebih baik, kalian menetap disini saja. Kami benar-benar kesepian. Apalagi hamil mu sudah semakin besar. Membuat grandma gemas. Dan jadi teringat saat dulu mengandung Daddy mu." balas grandma, yang membuat Salman dan Wulan terkekeh.
"Bagaimana dengan pekerjaan mas Salman yang disana, ma? Kasian dong, kalau ditinggal lama-lama. Ya sudah. Kami akan temani grandma dan grandpa sampai besok pagi. Biar tidak kangen lagi." saran Wulan.
Ia pun duduk di antar pasangan suami istri yang sudah sepuh itu. Sedangkan Salman duduk, di samping grandpanya.
Mereka berempat bercerita tentang banyak hal. Menikmati waktu-waktu terakhir di Belanda.
Salman sangat senang berada di kota tempat kelahiran Daddy mertuanya. Di situ ia belajar banyak hal dari pasangan suami-istri yang sudah sepuh itu.
Ternyata ada banyak cara untuk mengungkapkan cinta dan perhatian untuk orang yang kita cintai. Cinta itu, tidak pernah memandang strata sosial. Saling melengkapi. Saling mendukung. Saling mengingatkan. Dan cinta itu akan di bawa sampai mati.
Rasanya bicara soal cinta, itu tidak akan pernah ada habisnya. Karena Salman selalu merasa dikelilingi oleh orang-orang yang baik dan mencintainya.
Malam semakin larut, grandpa dan grandma menyuruh mereka untuk segera ke kamar, beristirahat. Agar besok pagi tidak bangun kesiangan.
__ADS_1
Tak lupa mereka memeluk dan mengecup pipi grandpa dan grandma sebelum beranjak dari tempat duduknya, menuju ke kamarnya. Dengan hati-hati Wulan menaiki anak tangga, dengan dibantu Salman.
"Rasanya, kita harus pindah ke kamar yang ada di lantai bawah saja sayang. Karena aku kasian melihat mu berjalan menaiki anak tangga dengan perut buncit mu." Salman mengusap lembut perut istrinya.
"Ini bagian dari olahraga. Biar aku dan bayinya juga sehat, mas."
"Hem, ya sudah kalau itu mau kamu. Tapi kalau kamu berubah pikiran, kasih tahu aku ya. Biar aku bisa menyiapkan kamar bawah di rumah mama." Wulan membalas dengan senyuman dan melingkarkan jari telunjuk dan ibu jarinya.
Setelah keduanya membersihkan diri, mereka segera naik diatas tempat tidur, dan berada dalam satu selimut.
Keduanya tetap bercengkrama sebelum tidur. Seperti halnya kegiatan yang dilakukan Rasullullah dulu. Keduanya benar-benar sangat bahagia, ditakdirkan menjadi sepasang suami-istri, dan sebentar lagi juga akan memiliki anak.
Salman menggelitiki pinggang Wulan, karena gemas dengan perutnya. Apalagi saat ia menggunakan baju kimono yang membuat lekuk tubuhnya semakin terlihat jelas.
Niat awal yang ingin bercengkrama agar istrinya lebih rileks, malah berujung membangkitkan jiwa kelaki-lakian Salman. Ia mendaratkan kecupan lembut di bibir istrinya.
"Sayang, kok aku tiba-tiba ingin ini itu ya." celoteh Salman, sambil mengusap pipi Wulan dengan lembut.
"Ngga boleh."
"Hah, serius. Sebentar saja." pinta Salman dengan penuh harap.
__ADS_1
Apalagi melihat beberapa bagian tubuh Wulan yang mengembang, bak adonan kue membuat laki-laki itu seketika menelan saliva dengan susah payah.
"Bolehnya nanti, kalau aku sudah melahirkan."
"Apa! Masa aku harus puasa selama itu?" protes Salman merasa kecewa.
Wajahnya yang tadi ceria berubah sedikit mendung. Dan Wulan yang melihat perubahan itu, tidak kuasa menahan tawanya. Sehingga meledak lah tawanya.
"Kamu, pasti mau ngerjain aku." Salman mendongak dan menatap istrinya yang sedang terpingkal-pingkal.
"Ish, sukanya ngerjain saja. Rasakan pembalasan ku." Salman menerkam istrinya, hingga tubuhnya rebah. Dan berada di bawah kukungan suaminya. Keduanya saling beradu pandang.
"Lakukan lah." ucap Wulan dengan suara yang sedikit parau.
Salman sangat puas malam terakhirnya di Belanda, digunakannya untuk memadu kasih dengan istrinya. Wulan pun sama. Ia juga puas, masih bisa melayani suaminya dengan baik. Meskipun ia sedang hamil.
Tak lama kemudian, Salman sudah terlelap tidur. Setelah ia membersihkan diri. Sedangkan Wulan justru tidak bisa tidur. Ia tidur dengan posisi menyamping, dan menatap dengan lama wajah suaminya itu. Lalu membelainya dengan lembut.
"Aku, sangat mencintaimu, mas. Terima kasih sudah mau menjadi imam ku." dengan lembut dan berhati-hati, Wulan memberi kecupan di kening suaminya. Agar ia tidak terbangun. Setelah itu, ia mencoba memejamkan matanya, agar bisa lekas tidur. Karena beberapa jam lagi, hampir memasuki waktu subuh.
❤️❤️
__ADS_1