
"Tidak usah di jawab. Aku tahu kok kalau kamu sedang patah hati. Bagaimana kalau kita memisahkan mereka saja. Agar aku bisa mendapatkan Wulan. Dan kamu bisa mendapatkan laki-laki itu."
"Apa! Kamu jangan bicara seperti itu. Meskipun aku patah hati, tapi juga tidak sampai senekad itu. Aku masih bisa berpikir. Mungkin kak Salman itu memang bukan jodoh ku. Kalau kita sampai berani memisahkan keduanya, maka yang jadi hantu atau setan yang sebenarnya ya, kamu." Fatim sampai menunjuk wajah Leon. Karena tidak habis pikir dengan niatnya yang di luar kendali.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan hubungan pernikahan mereka, dan ketahuan kamu yang berbuat ulah. Maka ku pastikan kamu masuk Islam, biar bisa menyesali semua perbuatan mu." tegas Fatim.
Meskipun ia marah, ia tidak mau berbicara buruk. Karena sejatinya doa itu akan kembali ke yang bersangkutan.
Leon meresapi ucapan Fatim, dan setelah sekian menit berpikir, ia membenarkannya.
"Kenapa kamu mengutuk ku seperti itu? Tidak ada kutukan yang lebih baik kah dari itu? Aku tidak suka mengikuti pemahaman mu. Karena tidak bisa melihat wanita kegerahan memakai baju yang ekstra lebar."
Fatim tersenyum simpul menanggapi ocehan Leon. Walaupun make up nya luntur, tapi Leon bisa melihat kecantikan yang tersembunyi di baliknya.
"Kami para muslimah semata-mata menutup aurat demi rasa cinta pada ayah, suami, atau calon suami. Karena jika kita tidak menutup aurat, mereka juga akan masuk neraka karena ulah perempuan. Tentu saja aku tidak mau melihat papa ku masuk neraka. Karena aku sayang sekali dengannya.
Menutup aurat bukan berarti jauh dari peradaban. Tapi justru selangkah lebih maju. Jangan terlalu membenci sesuatu berlebihan, bisa jadi suatu saat kamu akan sangat mencintainya. Begitu juga sebaliknya.
Jangan kamu mencintai sesuatu secara berlebihan, karena bisa jadi suatu saat kamu akan sangat membencinya. Karena benci dan cinta, itu bedanya tipis."
"Tenang, aku tadi hanya becanda kok." Leon terkekeh kecil untuk menutupi keburukannya, sempat mengajak ke hal yang tidak baik.
Ia merasa tidak enak dengan wanita dihadapannya, meskipun patah hati tapi masih bisa mengontrol diri. Berbeda dengan dirinya.
__ADS_1
Ia meraih tisu basah dan dengan pelan membersihkan wajah Fatim.
"Aku bisa melakukannya sendiri. Tidak perlu kamu bantu."
Fatim menyerobot tisu basah di tangan Leon, lalu membersihkan wajahnya dengan tisu itu. Setelahnya, ia melihat deretan make up yang berwarna-warni jumlahnya.
Ia bingung mau mengambil yang mana. Karena di rumah, make up-nya hanya tersedia lipstik, bedak tabur, dan air pembersih. Eyeliner juga pinjam punya mamanya.
Ia asal mengambil saja, lalu hendak mengaplikasikan di wajahnya.
"Jangan pakai yang itu!" seru Leon, sambil menahan tangan Fatim.
Ia mengambil spon yang sudah terkena bedak tabur dari tangan Fatim. Lalu meletakkannya di tempatnya.
"Sok-sokan sih. Padahal ngga bisa." cicit Leon.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu? Pasti hasilnya jelek nih." seloroh Fatim saat melihat Leon tengah serius menatapnya.
Sebenarnya ia juga merasa risih ketika ditatap seperti itu oleh seorang laki-laki.
"Siapa bilang. Nih lihat."
Leon mengeluarkan handphonenya, dan membuka aplikasi kamera lalu mengarahkan ke wajah Fatim.
__ADS_1
Ia berdiri sedikit membungkuk sejajar dengan Fatim yang masih duduk, lalu melihat wajah Fatim dari handphonenya.
Tanpa sengaja ia menekan tombol 'foto'. Jadilah keduanya foto berdua. Dan keduanya belum menyadari akan hal itu.
"Tuh, kamu cantik kan?" seloroh Leon tanpa sadar memuji fatim yang kini terlihat bertambah cantik.
Fatim mengusap wajahnya sendiri. Seolah-olah tak percaya dengan hasil kreasi Leon.
"Terima kasih. Kamu baru menyadari ya, kalau aku cantik. Padahal tadi bilangnya aku seperti hantu." Fatim tersenyum tipis, dan membuatnya semakin bertambah cantik.
"Biarpun hantu, kalau sudah di tangan Leon bisa berubah jadi cantik kok." keduanya terkekeh bersamaan.
"Ayo kita kesana. Kita tunjukkan kalau kita sudah tidak patah hati lagi." ajak Leon sembari menarik tangan Fatim.
"Hei, lepaskan. Sejak tadi perasaan kamu terus saja menarik tangan ku. Memangnya aku ini tali tambang. Yang bisa ditarik ulur."
Leon melihat tangannya yang melingkar di pergelangan tangan Fatim, lalu beralih memandang wajah cantik itu.
"Maaf." Ucap Leon sambil melepaskan pegangan tangannya.
Keduanya berjalan beriringan menuju ke depan. Beberapa tamu melihat ke arah Fatim sedikit terkejut, karena melihat wajahnya yang cukup cantik.
"Nah, apa ku bilang. Kamu jadi tambah cantik karena hasil ku make up. Tuh, mereka melihat mu sampai seperti itu." bisik Leon tepat di telinga Fatim.
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih ya. Aku pamit mau kembali duduk dengan kedua orang tua ku." ucap Fatim, lalu berjalan mendahului Leon.
Leon menatap Fatim dengan senyum melengkung di bibirnya.