
Hari Aqiqah yang mereka tentukan tiba. Kediaman Fatim sudah di pasang tenda. Sehingga terkesan lebih luas dan sejuk.
Kursi dan meja tamu juga sudah di tata rapi. Beberapa sanak saudara terlihat hadir untuk membantu segala persiapannya.
Haji Dahlan turut hadir, karena ia di minta oleh papa Adam untuk menyembelih kambing yang akan di gunakan untuk aqiqah.
Leon dan Fatim memperhatikan dengan seksama, saat Haji Dahlan mulai menggoreskan pisau di leher kambing.
"Kamu tidak takut?" Leon menoleh pada istrinya yang berdiri disampingnya sambil memegang kreta stroller anaknya.
"Kalau aku takut lihat darah, tentu tidak akan menjadi dokter, kak." Fatim menaikkan sebelah sudut bibirnya sambil geleng-geleng kepala.
"Oh iya, benar juga sih." Leon terkikik kecil. Lalu perhatiannya kembali tertuju pada binatang yang sudah tak bernyawa itu.
Laki-laki kaum kerabat, mulai menguliti dan memotong kambing itu. Menjadi bagian yang lebih kecil, agar mudah di masak.
Tak kuat Fatim berdiri lama-lama, akhirnya ia memilih duduk di kursi, yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri.
Sejak kecil Fatim memang tidak memiliki rasa takut sedikit pun melihat hal-hal yang berbau darah. Ia sering melihat kakeknya menyembelih ayam, atau melihat hewan qurban yang di sembelih saat hari idul Adha.
Leon yang ikut duduk di samping Fatim, bangkit berdiri.
"Kamu mau kemana kak?" Fatim mengernyitkan dahi.
"Bantuin pegang-pegang kambing boleh ya? Dari pada pegang-pegang kamu, nanti aku bisa kesetrum sebelum waktunya."
"Kak Leon."
Fatim membulatkan matanya. Bisa-bisanya suaminya berkata seperti itu di dekat orang lain.
__ADS_1
Sementara yang ditatap justru tampak cengar-cengir, lalu berjalan mendekati kerumunan orang-orang yang masih menguliti daging kambing.
Fatim memperhatikan suaminya, yang tengah memegang potongan daging kambing, dengan wajah sedikit geli.
'Rasain tuh, geli kan? Mending pegang-pegang aku. Walaupun geli, tetap enak.' batin Fatim, lalu menyunggingkan senyum tipis.
Cukup lama Fatim melihat proses pemotongan hewan aqiqah nya, hingga anaknya mulai terisak. Ibu menyusui itu pun beranjak dari tempat duduknya menuju ke kamar.
"Fatim, kamu mau kemana?" Tanya mama Margaretha, melihat Fatim mendorong stroller nya.
"Mau ke kamar ma."
"Ya sudah, ayo Mama bantuin."
Mama Margaretha meminta stroller nya, lalu mendorong bayi kecil yang sudah mulai menangis.
Dengan hati-hati Fatim berjalan menaiki anak tangga. Tangan kirinya memegang bahu tangga, sedangkan tangan kanannya memegang perutnya yang masih terlihat besar.
"Sudah, ma."
Fatim sudah bersandar di kepala ranjang. Lalu kakinya diluruskan, dan ia melapisi pahanya dengan bantal. Agar anaknya tidak terlalu kesusahan saat menghisap ASI-nya.
Mama Margaretha meletakkan cucunya pelan-pelan dipangkuan ibunya.
"Minum yang banyak ya, biar cepat tumbuh besar." Mama Margaretha mengusap pelan pucuk kepala sang bayi.
"Mama tinggal dulu ke bawah ya. Siapa tahu ada yang butuh bantuan mama. Nanti kalau butuh apa-apa, telepon saja. Biar ada yang kesini membantumu."
"Baik, ma. Sudah dua Minggu juga Fatim melahirkan. Perlahan-lahan bisa mengerjakan pekerjaan yang ringan kok ma."
__ADS_1
"Iya, tapi mama juga tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu dan bayinya.
Fatim menganggukkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum. Tak ingin membuat mama mertuanya khawatir.
**
Kini olahan makanan yang terbuat dari daging kambing itu telah selesai di masak. Ada juga beberapa olahan makanan yang lainnya. Semua telah disajikan rapi di atas meja prasmanan.
Di dalam kamar, Fatim sudah memakai pakaian serba putih. Begitu juga dengan Leon dan putri kecil mereka.
"Kamu tampan sekali sayang."
Fatim memuji ketampanan suaminya, yang memakai Koko putih dan sarung berwarna senada. Di kepalanya juga bertengger peci berwarna senada.
Leon yang melihat bayangan istrinya dari pantulan cermin, menyunggingkan senyum. Lalu memutar badannya, dan kini keduanya berhadapan.
"Kamu juga cantik sayang." Leon memegang kedua sisi pipi Fatim.
Perlahan laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke arah wajah Fatim. Hingga hidung keduanya saling bersentuhan.
"Acara sebentar lagi akan di mulai. Ayo kita ke bawah." Ucap Fatim, ketika Leon menutup matanya dan hendak mengecup bibir Fatim.
Leon membuka matanya lalu mengerucutkan bibirnya, karena istrinya tak bisa bersikap romantis padanya.
"Kita yang memiliki acara. Kalau kita datang terlambat, semua orang akan memakluminya."
Setelah berkata seperti itu, Leon langsung melahap bibir istrinya. Fatim yang tak siap dengan serangan mendadak itu, seketika membulatkan matanya.
Dan ketika istrinya hampir kehabisan nafas, barulah Leon melepaskannya. Fatim pun memukuli dada suaminya. Tapi laki-laki hanya terkekeh kecil.
__ADS_1
"Jangan marah dong. Anggap saja itu mood booster buat aku. Bukan kah selama beberapa Minggu aku sudah puasa." Celoteh Leon.