Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
253. Akhirnya...


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu, sayang?" Tanya Salman ketika masuk ke kamarnya. Ia menghampiri dan duduk di hadapan Wulan.


Sebenarnya ia tidak hanya duduk saja, melainkan melihat ke arah dada Wulan, yang mana bajunya sudah basah.


'Pasti itu adalah ASI-nya. Kasian sekali.' batin Salman.


"Apa kamu bawa pompa asi nya?" Tanya mama Laura.


"Zonk, ma. Banyak apotik yang sudah tutup. Ada apotik yang buka, tapi stoknya sudah habis duluan." Keluh Salman.


Mama Laura menghirup nafas dalam-dalam. Lalu menghembuskan pelan dan berlalu keluar kamar.


"Pa, coba obrak-abrik seluruh rumah ini. Cari pompa asi yang dulu pernah papa beli buat mama. HARUS KETEMU. NGGA PAKAI LAMA." Titah mama Laura dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.


"Apa?" Papa Reyhan membulatkan matanya.


Ucapan istrinya adalah sebuah perintah yang hukumnya adalah fardhu 'ain. Jika dikerjakan dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Namun jika tidak dikerjakan atau hasilnya tidak sesuai, maka akan mendapat omelan.


Papa Reyhan, secepat kilat turun ke lantai bawah dan membangunkan asisten rumah tangganya. Lalu menyuruh mereka gotong royong untuk mencari pompa asi yang sudah lama tidak di pakai itu.


"Tuan, ini yang anda cari." Ucap salah satu asisten rumah tangga, sambil memperlihatkan benda berwarna marun seperti terompet.


Papa Reyhan membalikkan badannya, dan matanya berbinar ketika melihat apa yang dicari sejak satu jam yang lalu akhirnya ketemu juga.


"Akhirnya ketemu juga." Gumamnya bahagia.


"Terima kasih ya, bi." Ucap papa Reyhan, dan segera berlalu pergi.


Sementara di dalam kamar, asi Wulan terus menetes dengan derasnya. Rasanya sakit tidak tertahankan.


Setelah menunggu sekian jam, akhirnya pintu kamar Wulan terdengar di ketuk. Mama bangkit berdiri, untuk melihat siapa yang mengetuknya.

__ADS_1


"Mama." Ucap papa Reyhan dengan riangnya. Seperti anak kecil yang sudah lama tidak bertemu dengan ibunya.


"Papa bawa tidak? Cepat sini kasih ke mama." Mama Laura menengadahkan tangannya.


"Iya-iya. Ini." Dengan sedikit sewot papa mengulurkan barang temuan asisten rumah tangganya tadi.


"Semoga masih bisa berfungsi dengan baik." Gumam mama sambil tersenyum dan menutup pintunya.


"Hanya itu saja? Tidak ada plus plusnya sedikit gitu? Awas saja nanti kalau balik ke kamar, akan ku jadikan tempe penyet sama sambel terong." Gumam papa Reyhan.


"Wulan, pakai ini ya." Mama Laura menunjukkan alat pompa asi pada menantunya. Lalu memberitahu petunjuk penggunaannya.


Setelah paham, Wulan pun coba untuk melakukannya. Memakai pompa asi memang sangat sakit. Tapi Wulan tidak menyerah, sehingga akhirnya ia berhasil memindahkan seluruh stok asi ke dalam botol dot.


Sekarang, kantung ASI-nya sudah tidak sakit lagi. Kini ia bisa sedikit menyunggingkan senyum.


"Alhamdulillah, sudah tidak begitu sakit. Terima kasih ya, ma."


"Baik, ma."


"Hem, sekarang mama tinggal ke kamar ya."


"Iya, ma. Terima kasih sekali lagi."


Setelah kepergian mama, Salman menatap istrinya sambil menyunggingkan senyum.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri seperti itu, mas?"


"Aku teringat omongan papa tadi."


"Soal?" Wulan mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Kalau tidak dapat pompa asi, aku disuruh untuk meminum asi mu."


"Apa?" Wulan memekik tak percaya, sehingga membuat bayinya terkejut dan menangis kencang.


Salman menoleh dan mendekati bayinya yang berada di dalam box. Pria itu menggendongnya dan coba menenangkannya.


Tapi, tidak kunjung mereda juga juga tangisannya. Sehingga ia menyerahkan pada Wulan untuk disusui.


"Mas, rasanya asi ku belum bisa keluar. Tadi kan sudah di sedot banyak sekali."


"Oh, iya. Kalau begitu minum yang ada di botol saja."


Wulan mengambil satu botol asi yang masih terletak di atas nakas, lalu membuka tutupnya dan menyerahkan botolnya pada suaminya.


Baby Maryam yang sejak tadi menangis, setelah mendapatkan apa yang dia mau, seketika terdiam.


"Sayang, kamu jangan terus menerus rewel ya. Kasian mommy nanti." Ucap Salman sambil mengecup kening putrinya.


Sementara itu di ujung lorong, mama Laura tengah memasuki kamarnya. Begitu ia mengunci pintunya, ia terkejut dan membulatkan matanya, ketika tiba-tiba badannya di angkat oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan papa Reyhan.


"Papa? Apa yang papa lakukan?" Ketus mama Laura sambil memukul dada bidang suaminya.


"Memang papa mau melakukan apa kalau sedang berduaan dengan mama? Ya mau cari pahala lah. Tadi kan papa sudah berhasil mendapatkan apa yang mama minta. Sekarang berikan dulu dong hadiahnya. Biar papa makin semangat melakukan perintah dari mama." Ucap papa Reyhan disertai kerlingan nakal.


Ia meletakkan tubuh mama Laura di atas tempat tidur pelan-pelan. Lalu mengecupnya tepat di keningnya.


"Mama siap kan, papa bikin tempe penyet malam ini." Kekeh papa Reyhan sekali lagi.


"Ya ampun, pa. Kita sudah punya cucu."


"Mau punya cucu, mau punya buyut. Ya bodo amat. Yang penting papa masih kuat, seperti remaja umur dua puluh satu tahun." Mama Laura hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suami yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


__ADS_2