
Ketiga pasangan suami-istri itu menenangkan bayi mereka masing-masing. Hingga akhirnya Salman menyadari telinganya yang kebrisikan dengan suara binatang.
"Sepertinya aku tahu apa yang menyebabkan mereka menangis." Celetuk Salman.
"Apa?" Tanya mereka bersamaan.
"Apa kalian tidak mendengar suara itu?" Tanya Salman balik.
Mereka mendengarkan dengan seksama, dan baru menyadari jika dirinya sedang berada di depan kandang Siamang.
"Oh tidak, sepertinya kita ini sudah mulai tua. Salah satu tandanya, berkurangnya pendengaran." Ucap Leon.
"Kamu saja kali yang sudah mulai tua. Kalau aku, jelas tidak. Masih muda dan gagah. Iya kan, sayang?" Salman merangkul Wulan dan tersenyum padanya.
"Iya, kita kan baru punya anak satu." Imbuh Wulan sambil tersenyum ke arah suaminya.
Salman menggendong baby Maryam, dan berjalan mendekat ke arah kandang Siamang. Diikuti yang lainnya.
Ketiga laki-laki itu memberi pengertian tentang hewan Siamang, pada anak-anak mereka. Sehingga perlahan ketiga bayi itu tidak takut lagi, dan justru memperhatikan dengan seksama, Siamang yang tengah melompat dengan cepat, dari ranting pohon satu ke pohon yang lainnya.
Baby Maryam bertepuk tangan melihat hal itu. Kedua orang tuanya tersenyum melihatnya, karena bayinya mudah sekali untuk diberi pengertian.
Selanjutnya mereka berjalan, dan berhenti tepat di dekat kandang ayam hutan dan domba. Melihat anak-anak lain yang sedang asyik memberi makanan binatang-binatang itu, tangan baby Maryam bergerak seperti hendak meraih sesuatu.
__ADS_1
"Dad, yam(Dad, ayam)." Ucap baby Maryam sambil tersenyum.
"Kamu mau memberi makan ayam, sayang?" Tanya Salman sambil menatap putri kecilnya.
"Yeis, Dad." Baby Maryam bertepuk tangan dengan girangnya.
Salman menurunkan bayinya dan menggandengnya masuk ke dalam kandang ayam. Seorang pawang memberikan jagung pada Salman.
"Ayo sayang, ambil. Berikan ke ayam."
Baby Maryam mengambil satu biji jagung yang ada dalam telapak tangan Daddy nya, lalu melemparkannya ke arah ayam. Dan ayam itu segera mematuknya.
"Yei, hole." Seru baby Maryam sambil bertepuk tangan dengan girangnya.
Jadilah ketiga bayi itu masuk ke kandang ayam semua, dan memberi makan ayam. Mereka berseru kegirangan, setiap kali ayam-ayam itu mematuk biji jagung yang mereka lempar.
Cukup lama mereka berada di kandang ayam. Baby Maryam yang bosan, menarik tangan Daddy nya dan mengajaknya keluar.
"Baby, tunggu dulu. Kita masukkan uang ke kotak donasinya." Seru Salman pada anaknya, sehingga baby Maryam berhenti menarik tangannya.
"Why, Dad? Tadi sudah kan?" Baby Maryam bertanya dengan logat cedalnya sambil menatap Salman serius, layaknya orang dewasa yang sedang berbicara dengan sesamanya.
"Uang yang kita masukkan ke dalam kotak donasi, bisa dipakai untuk tambah biaya perawatan dan beli makanan untuk binatang-binatang yang ada di kebun binatang ini sayang. Mommy tadi sudah bilang kan? Kalau kita banyak berdonasi, banyak pahala pula pahala yang kita dapat. Kalau pahalanya banyak, nanti bisa cepat masuk surga." Terang Salman dengan penuh kelembutan pada anaknya.
__ADS_1
"Okay, dad." Baby Maryam mengacungkan kedua ibu jarinya pada Salman, yang membuat kedua orang tuanya gemas dengannya, dan mengecupnya berulang kali.
Kedua temannya yang melihatnya juga sangat gemas dengan baby Maryam, meskipun sudah punya baby sendiri.
Selanjutnya, mereka berjalan menuju kandang domba yang ada disebelahnya kandang ayam. Mereka juga melakukan hal yang sama. Memberi makan dengan rumput dan berdonasi.
Di setiap kandang yang mereka singgahi, ketika sedang diadakan pertunjukan, maka mereka akan memberi donasi.
Sengaja mereka melakukan hal itu, untuk menumbuhkan rasa peduli pada sesama makhluk ciptaan Allah, dan melatih keikhlasan.
Baru beberapa saja mereka melihat-lihat koleksi binatang yang ada di kebun binatang itu, tapi waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas.
Mereka menyudahi dulu aktivitas melihat-lihat binatang. Dan berjalan menuju masjid, yang ada di kebun binatang itu.
Bayi-bayi itu menirukan gerakan kedua orang tuanya ketika melakukan sholat. Meskipun belum sepenuhnya benar, tapi sudah membuat orang tua mereka sangat senang dan bersyukur. Setidaknya langkah yang mereka ambil dalam mendidik anak sudah benar dan perlahan dapat diterapkan oleh putra-putrinya.
Selesai mengerjakan sholat, mereka menikmati makan siang di bawah pepohonan yang rindang. Sambil menggelar tikar yang dibawa dari rumah.
Karena mereka membawa makanan dari rumah masing-masing, mereka mengumpulkan makanan itu dan saling berbagi untuk mencicipi rasa masakan teman-temannya.
Tak lupa, para ibu juga menyuapi bayinya dengan MPASI dari rumah.
Walaupun hanya rekreasi ke kebun binatang, sudah membuat mereka sangat senang. Karena selain bisa berkumpul dengan keluarga dan teman, juga bisa mendekatkan putra-putrinya. Ketiga bayi itu tampak rukun bermain bersama, sambil disuapi makanan.
__ADS_1