
Haji Dahlan menarik nafas panjang sebelum menjawab.
"Keduanya sama-sama baik nak, Leon.
Papamu ingin masuk dalam ajaran ini, berdasarkan seluruh pengetahuannya. Agar saat sudah memeluk Islam, ia bisa beribadah dengan benar.
Pendapat mu pun juga benar.
Hal itu seperti sebuah kisah yang pernah terjadi pada zaman Bani Israil. Nabi shallallahu alaihi wa sallam menceritakannya kepada umatnya agar menjadi pelajaran berharga dan teladan dalam kebaikan.
Dahulu kala, ada orang yang telah membunuh 99 jiwa. Lalu dia menyesal dan ingin bertobat. Serta bertanya tentang orang berilmu yang ada ketika itu. Kemudian ditunjukkan kepadanya seorang ahli ibadah.
Ternyata ahli ibadah itu hanyalah ahli ibadah, tidak mempunyai ilmu. Rahib tersebut menganggap besar urusan itu sehingga mengatakan, “Tidak ada tobat bagimu.” Laki-laki pembunuh itu marah, dan lantas membunuh ahli ibadah tersebut. Lengkaplah korbannya menjadi seratus jiwa.
Kemudian dia tanyakan lagi tentang ahli ilmu yang ada di masa itu. Ditunjukkanlah kepadanya seorang yang alim. Lalu dia bertanya, apakah ada tobat baginya yang telah membunuh seratus jiwa?
Orang alim itu menegaskan, “Ya. Siapa yang bisa menghalangimu untuk bertobat? Pintu tobat terbuka lebar. Akan tetapi, pergilah, tinggalkan negerimu menuju negeri lain yang di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Jangan pulang ke kampungmu, karena negerimu adalah negeri yang buruk.”
Akhirnya, lelaki itu pun pergi berhijrah. Dia berangkat meninggalkan kampung halamannya yang buruk dalam keadaan sudah bertobat serta menyesali perbuatan dan dosa-dosanya.
Dia pergi dengan satu tekad: meninggalkan dosa yang dia lakukan, memperbaiki diri, mengisi hari esok dengan amalan yang saleh sebagai ganti kezaliman dan kemaksiatan yang selama ini digeluti.
Di tengah perjalanan menuju kampung yang baik, dengan membawa segudang asa memperbaiki diri, Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkan dia harus meninggal.
__ADS_1
Takdir dan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala jua yang berlaku. Itulah rahasia dari sekian rahasia Allah Yang Maha bijaksana.
Tidak mungkin ditanya mengapa Dia berbuat begini atau begitu. Akan tetapi, makhluk-Nya lah yang akan ditanya, mengapa mereka berbuat begini dan begitu. Allah subhanahu wa ta’ala Maha melakukan apa saja yang Dia inginkan.
Semua yang ada di alam semesta, baik yang terlihat maupun tidak, adalah milik Allah azza wa jalla, ciptaan-Nya, dan di bawah pengawasan serta pengaturan-Nya.
Dia yang menentukan setiap perbuatan seorang hamba, 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.
Dia yang memberikan perangkat kepada seorang hamba untuk melakukan sesuatu. Dia pula yang memberi taufik kepada hamba tersebut ke arah apa yang telah ditakdirkan-Nya.
Pembunuh seratus jiwa itu adalah salah satu dari makhluk ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Dia ada di bawah kehendak dan kendali-Nya.
Ketentuan dan takdir Allah subhanahu wa ta’ala sudah pasti berlaku pula atasnya. Perbuatan zalim yang dikerjakannya adalah takdir Allah subhanahu wa ta’ala.
Namun, kalau begitu, zalimkah Allah subhanahu wa ta’ala? Kejamkah Dia kepada hamba-Nya?
Jawabnya sudah pasti, tidak. Sama sekali tidak. Dari sisi mana pun, Dia bukanlah Dzat yang zalim.
Apakah kezaliman itu? Kezaliman adalah berbuat sesuatu pada hal-hal yang bukan miliknya atau meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.
Siapakah Allah subhanahu wa ta’ala? Dan siapakah kita? Milik siapakah kita?
Kita milik Allah subhanahu wa ta’ala. Dia-lah yang telah menciptakan dan mengatur kita. Dia Maha tahu yang tepat bagi hamba-Nya. Dia Maha bijaksana. Dia meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Dia Maha tahu apa yang diciptakan-Nya. Dia Maha tahu apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya. Allahu akbar.
__ADS_1
Lelaki itu meninggal dunia. Dia mati dalam keadaan belum ‘beramal saleh’ sekali pun. Dia hanya punya tekad memperbaiki diri, bertobat dari semua kesalahan.
Hal itu terwujud dari keinginannya bertanya kepada mereka yang dianggap berilmu, apakah ada tobat baginya?
Semua itu tampak dari tekadnya pergi meninggalkan masa lalu yang kelam, menyongsong cahaya hidayah dan kebaikan.
Alangkah besar karunia Allah subhanahu wa ta’ala kepada dirinya. Alangkah besar rahmat Allah subhanahu wa ta’ala kepada para hamba-Nya.
Akan tetapi, alangkah banyak manusia yang tidak mengetahui, bahkan tidak mensyukuri nikmat tersebut.
Sungguh, andai kata kezaliman-kezaliman yang dikerjakan oleh Bani Adam ini harus diselesaikan dengan azab dan siksa di dunia, niscaya tidak akan ada lagi satu pun makhluk yang melata di atas muka bumi ini.
Sungguh, seandainya kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala yang lebih dahulu daripada rahmat-Nya, niscaya tidak akan pernah ada rasul yang diutus, tidak ada kitab suci yang diturunkan.
Tidak ada ulama dan orang saleh serta berilmu yang memberi nasihat, peringatan, dan bimbingan. Bahkan, tidak akan ada satu pun makhluk yang melata di muka bumi ini.
Kerusakan yang terjadi di muka bumi ini, di daratan maupun di lautan, tidak lain adalah akibat ulah manusia. Sementara itu, kesempatan hidup yang diberikan kepada mereka membuat mereka lupa, bahkan semakin menambah kedurhakaan mereka.
Itu hanya sekelumit kisah yang bisa jadikan sumber semangat untuk memperbaiki diri kita menjadi lebih baik tentunya.
Apakah sekarang kamu paham nak, Leon?"
Tidak hanya Leon, tapi semua yang ada di situ menghirup nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan pelan-pelan. Mendapatkan sebuah nasehat dari lelaki sepuh dihadapannya.
__ADS_1