
Pertemuan demi pertemuan terus mempertemukan Wulan dan Salman. Seperti pada sore hari itu, dimana Wulan sedang bermain ke rumah Aisyah.
Ia dan Aisyah memang teman satu fakultas. Yakni fakultas psikologi. Sejak kecil, keduanya memang selalu mengikuti program akselerasi, karena kemampuan berpikirnya yang luar biasa. Sehingga ketika di umur yang masih sangat muda, sudah bergelar sarjana.
Di sela-sela kesibukannya, dan setelah wisuda Aisyah membantu mengajar di pondok milik kakeknya. Sedangkan Wulan masih wira wiri sesuka hati.
Kedua orang tuanya memang memberi kebebasan pada gadis itu untuk melakukan apapun yang disukainya.
Mata Wulan membulat ketika melihat Salman keluar dari mobil dan berjalan menuju kediaman Aisyah. Senyum juga mengembang di wajahnya. Dan tak lupa, hatinya berdegup kencang ketika melihat lelaki pujaannya.
"Assalamu'alaikum." ucap Salman.
"Wa'alaikumussalam." balas Aisyah. Ia berdiri dan menghampiri Salman yang berdiri di ambang pintu.
"Maaf Aisyah, apa Fatih ada?"
"Ada mas, tunggu sebentar ya. Silahkan duduk." Aisyah berlalu ke dalam rumah, sedangkan Salman duduk di kursi teras. Tanpa ia sadari sejak kedatangannya Wulan terus memperhatikannya.
Tak lama kemudian, Aisyah sudah kembali bersama Fatih. Aisyah duduk di dekat Wulan, sedangkan Fatih keluar menemui Salman.
"Ai, kak Salman itu sudah punya pacar belum sih?" celetuk Wulan, matanya tak berkedip melihat punggung Salman yang tampak dari jendela. Aisyah menatap temannya sambil mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Dia itu tidak mau pacaran."
"What! Terus?" Wulan membulatkan matanya, menatap Aisyah tanpa kedip.
"Kalau dia suka sama perempuan, langsung di lamar." balas Aisyah enteng.
Ia kembali teringat akan peristiwa penolakannya terhadap Salman. Namun ia urung untuk mengatakan hal itu pada Wulan.
"Di lamar?" ulang Wulan dengan mata yang berbinar. Aisyah pun mengangguk.
"Lan, kamu.... ngga ada rasa kan sama mas Salman?"
"Apa! Aku ngga salah dengar?" kini Aisyah yang tampak terkejut, sambil membulatkan matanya. Wulan mengangguk yakin.
"Kamu ngga salah dengar Ai. Dia itu berbeda dengan laki-laki pada umumnya. Di saat banyak lelaki yang memuja dan bahkan memperebutkan ku, dia justru menjauhi ku. Dan justru itu yang membuat ku semakin tertantang."
"Wulan. Kalian itu beda agama." tandas Aisyah.
Ia tak ingin sahabatnya itu mengalami patah hati yang menyakitkan.
"Memang apa salahnya kalau kami beda agama Ai? Bukan kah pernikahan itu adalah menyatukan dua hati. Menerima setiap perbedaan yang ada. Tanpa harus mengungkitnya? Dan yang paling penting adalah kita saling mencintai."
__ADS_1
Aisyah menatap tajam ke arah Wulan. Ia baru menyadari jika sahabatnya telah jatuh cinta, yang setiap manusia akan mengalaminya.
Namun ia jatuh cinta pada pria yang tak mungkin bisa didapatkan nya, karena ada tembok pembatas yang tinggi menjulang. Yang tak mungkin bisa untuk di lewati.
"Wulan, hakikat cinta itu adalah mencintai seseorang dalam rangka ketaatannya pada Tuhannya. Tidak semata-mata nafsu belaka."
Wulan terdiam sekian menit. Ia memikirkan ucapan sahabatnya. Dalam hati ia mulai membenarkan ucapan Aisyah.
Tapi ia juga tak tahu apa sebabnya, hatinya bisa bergetar sejak pandangan pertama melihat Salman.
Akhirnya Wulan hanya bisa tertunduk lesu. Kuncup bunga yang hampir mekar, seketika layu.
Tuhan, kenapa Engkau ciptakan rasa bahagia ini, jika akhirnya aku akan bersedih?
Kenapa Engkau ciptakan pertemuan, jika akhirnya ada sebuah perpisahan.
Sungguh, rasa ini begitu menyakitkan.
❤️❤️
__ADS_1