Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
155. Menjenguk Leon


__ADS_3

Setelah sarapan pagi bersama, keluarga Wulan dan Salman berangkat menuju ke rumah sakit.


Meskipun Leon bukan anaknya, tapi Marquez dan Melati cukup khawatir. Begitu pula dengan grandpa dan grandma. Karena bocah itu sering keluar masuk rumahnya. Mencairkan suasana dengan segala kelakuan absturd nya.


Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, rombongan itu sampai di rumah sakit dimana Leon dirawat.


Mereka langsung menuju ruangan yang dimaksud, karena sudah diberitahu oleh mamanya Fatim sebelumnya.


Sesampainya di ruangan itu, mereka melihat keluarga Leon dan keluarga Fatim tengah berkumpul mengelilinginya.


Mereka pun saling beradu pandang dan melempar senyum. Tak lupa jabat tangan dan berpelukan mereka lakukan. Menganggap mereka seperti bagian dari keluarga sendiri.


Setelahnya, rombongan itu menanyakan kabar Leon. Di lihat dari luka luar, Leon memang menderita luka yang cukup serius.


Tapi di balik rasa sakit itu, Leon mempunyai sebuah kekuatan untuk sembuh. Yang berasal dari semangatnya untuk mendekati Fatim.


Ia senang berada di dekat Fatim. Karena gadis itu berbeda dari kebanyakan gadis yang pernah ia temui selama ini.


Fatim memakai baju serba panjang dan menutup rambutnya, di saat banyak para remaja yang tidak mau menutup auratnya.


Ia menahan diri dari berpacaran, di saat banyak remaja yang berlomba-lomba meng-upload foto selfienya bersama pacar masing-masing.


Mereka memamerkan kemesraan mereka pada orang lain. Padahal yang dipamerkan belum tentu menjadi pasangan sehidup semati nya.

__ADS_1


Ia selalu menyelipkan nasehat-nasehat ketika bercerita dengannya. Dan masih ada hal lain lagi yang membuat Leon tertarik pada Fatim.


Memang benar, ketika kita menerima nasehat dalam keadaan lapang dan senang, maka kita akan dengan mudah menerima nasehat itu.


Begitu pun sebaliknya, jika kita sudah membentengi diri kita terhadap suatu nasehat dengan rasa marah dan benci, maka sebanyak apapun nasehat yang kita terima, akan mental. Tidak masuk sama sekali.


Beruntunglah orang-orang yang mata hatinya dibukakan Allah pada suatu nilai kebenaran dan mau dengan ikhlas melaksanakan kebenaran itu.


Kini terlihat Leon tengah berbincang-bincang dengan rombongan laki-laki. Sedangkan mama Margareth tengah berbincang-bincang dengan rombongan perempuan.


Keluarga Salman dan Wulan juga membawakan oleh-oleh umrah untuk mereka. Penasaran dengan rasanya, keluarga Leon pun akhirnya mencicipi oleh-oleh itu.


Kesan yang dirasakan pertama kali saat memakan kurma, buah gurun pasir itu adalah rasa manis yang pas.


Roti Maryam/roti canai. Roti yang dibuat dari olahan gandum yang di giling. Biasanya roti itu lebih sering dimakan dengan kuah kari.


Semua itu terasa cocok di lidah mereka. Karena memiliki rasa yang tidak terlalu kuat. Keluarga Leon pun sekali lagi, mengucapkan terima kasih karena sudah mendapat banyak oleh-oleh.


Mereka tertarik dengan daerah yang baru saja keluarga Wulan dan Salman kunjungi. Suatu saat nanti mereka pun ingin pergi berlibur di sana.


Di tengah perbincangan itu, Salman menganjurkan Leon untuk rutin mengkonsumsi vitamin herbal seperti madu, habbatussauda, propolis dan minyak zaitun. Untuk mempercepat proses penyembuhannya.


Karena di dalam vitamin yang disebutkan Salman tadi, semuanya telah tercantum dalam kitabnya.

__ADS_1


Keduanya terlihat cukup akrab. Rasa benci yang dulu mengakar di hati Leon, sudah semakin terkikis habis. Karena melihat kebaikan yang ada dalam diri Salman dan keluarganya.


Mereka terus saja bercakap-cakap, hingga tak menyadari jika dokter yang menangani Leon, mengucapkan salam sembari masuk ke ruangan.


Perhatian mereka beralih pada Leon yang sedang di periksa oleh dokter.


"Kondisi keseluruhannya cukup bagus. Perlahan memang menunjukkan perubahan yang signifikan. Apa yang anda rasakan saat ini?" tanya sang dokter setelah memeriksa Leon.


"Sebenarnya saya sedikit mengantuk, dok. Tapi rasa kantuk itu teralihkan dengan kedatangan keluarga yang menjenguk saya. Saya jadi bersemangat untuk sembuh."


Semua memandang ke arah Leon dengan raut wajah bingung. Termasuk dokter yang menepuk jidatnya sendiri.


Ia pikir pasiennya mengalami sedikit hilang ingatan dalam berpikir, karena benturan yang terjadi di kepalanya. Padahal maksud pertanyaannya tadi bukanlah seperti itu.


"Maksud saya, apakah anda merasakan sedikit pusing, mual, atau nyeri di bagian tubuh anda." jelas dokter.


"Oh, jadi jawaban saya tadi salah ya, dok." tutur Leon dengan polosnya.


Membuat mereka yang ada di ruangan itu terkikik geli. Selalu saja, ada hal absturd yang ia lakukan.


"Kepala saya memang masih terasa pusing, dok. Apalagi ketika saya mengantuk dan tidak segera diistirahatkan, maka hal itu akan memicu mual.


Kepala ini rasanya juga gatal, dok. Karena tertutup kain perban. Memang kepala saya ini sakit apa? Badan rasanya juga tidak karuan.

__ADS_1


Makanya saya menyuruh. Eh, maksudnya saya minta tolong sama Fatim untuk memijit badan saya. Sudah berapa hari saya di rawat di sini, dok? Rasanya tidak tahan mau mengguyur badan ini dengan air." cerocos Leon, yang sekali lagi membuat mereka terkekeh.


__ADS_2