
"Grandma, grandpa." Gumam Daddy Marquez yang berdiri di bawah anak tangga sejenak. Lalu ia segera menghampiri kedua orang tuanya.
"Oh, bau mu sedap sekali." Ucap grandpa, saat mengurai pelukan dengan anaknya.
"Karena bau ini lah yang membuat Melati jatuh cinta denganku, pa." Balas Marquez dengan candaan.
Pria itu duduk di samping melati, dan kembali membersihkan keringatnya dengan handuk kecil, yang masih menempel di bahunya.
"Ayo diminum dulu, pa, ma." Melati mempersilahkan mertuanya untuk minum dan menikmati cemilan yang sudah disediakan oleh asisten rumah tangganya.
"Kenapa grandpa dan grandma tidak memberitahu kami kalau mau kesini? Agar kami bisa menjemput." Tanya Daddy Marquez.
"Sengaja kami ingin memberi kejutan untuk kalian."
"Iya, dan kami benar-benar terkejut dengan kedatangan grandpa dan grandma. Aku pikir kejutan yang lain."
Setelah menatap kedua orang tuanya, Marquez menatap istrinya. Lalu keduanya menyunggingkan senyum, teringat dengan percakapan keduanya tentang kejutan tadi.
"Grandpa dan grandma mau istirahat dulu? Pasti capek habis perjalanan jauh." Tawar Marquez.
"Iya, kami memang sedikit lelah. Tapi tak sabar ingin bertemu dengan Maryam." Ucap grandma.
"Mereka ada di rumah yang satunya. Pak Atmaja baru saja sembuh dari sakit." Balas Marquez.
"Ayo, kita kesana sekarang." Ajak grandpa.
"Okay, Marquez mandi dulu. Grandpa dan grandma makan dulu ya."
Setelah mendapat persetujuan dari keluarganya, Daddy nya Wulan itu bangkit berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Sedangkan mommy Melati masih berbincang-bincang dengan kedua mertuanya.
Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya Daddy Marquez sudah siap dan kembali bergabung dengan keluarganya.
Di tangannya sudah ada tas sang istri. Ia menyerahkan tas itu pada pemiliknya. Daddy Marquez adalah pria yang lucu tapi juga romantis. Sehingga tanpa istrinya minta, ia sudah membawakan tasnya.
Ia memperlakukan mommy Melati sebagai ratu dalam hidupnya. Dan hal itu ternyata juga menurun ke anaknya. Salman juga memperlakukan Wulan seperti ratu dalam rumah tangganya.
"Ayo, kita berangkat sekarang." Ajak Daddy Marquez.
"Ayo." Balas keluarganya. Mereka bangkit berdiri dan berjalan menuju carport.
Dalam perjalanan, tak lupa mereka membelikan oleh-oleh untuk keluarga opa Atmaja. Mereka membeli buah-buahan, dan juga bunga segar agar memberi efek relaksasi bagi yang sakit.
Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, mereka kembali melanjutkan perjalanannya.
Dan tak berselang lama, akhirnya mereka sudah sampai di kediaman mertua Wulan, yang sama besar dan megahnya dengan kediaman Marquez.
"Silahkan masuk, tuan." Ucap asisten rumah tangga itu pada keluarga bule dihadapannya. Ia memundurkan tubuhnya, dan sebelah tangannya memberi isyarat untuk masuk.
"Terima kasih, bi." Ucap mereka.
"Silahkan duduk dulu, tuan. Saya akan panggilkan nyonya besar dan keluarganya." Ucap asisten rumah tangga, sangat ramah pada tamunya.
Keluarga Marquez duduk di sofa besar nan empuk, sembari menunggu kedatangan keluarga menantunya.
Tak lama kemudian, semua keluarga besannya berjalan menghampiri ke arah Daddy Marquez duduk.
Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan. Senyum merekah di wajah mereka. Karena sudah lama tidak bertemu, dan akhirnya kini bisa bertemu lagi.
__ADS_1
Ketika melihat baby Maryam, grandpa dan grandma saling berebut untuk menggendongnya. Membuat bayi itu kebingungan dan hampir menangis.
"Hai, baby. Ini grandpa dan grandma. Apa kamu melupakan kami?" Ucap grandpa.
Setelah sejenak melepas rindu dengan buyutnya, mereka kembali duduk. Tak lupa untuk menanyakan kabar kesehatan opa Atmaja, yang beberapa hari lalu sempat drop.
Karena keasyikan mengobrol, tak terasa hari sudah siang. Mama Laura menjamu keluarga besannya dengan mengajak makan siang bersama.
Tak ragu keluarga dari pihak Wulan itu bangkit dari duduknya dan berjalan bersama menuju ruang makan.
"Ma, bagaimana kalau bibi masaknya kurang banyak dan kurang spesial." Bisik papa Reyhan, saat keduanya berjalan beriringan menuju ruang makan.
"Tenang, selama ada mama. Semua pasti beres." Mama Laura berkata dengan jumawa.
"Percaya diri banget sih, mama. Bukankah sejak tadi kita ngobrol di depan. Lalu kapan mama bicara sama asisten rumah tangga kita?" Mama Laura menunjukkan handphone dalam genggaman tangannya.
Tadi ia memang sempat mengirim pesan pada asisten rumah tangganya, untuk memasak aneka hidangan yang banyak dan lezat, bagi seluruh tamunya.
"Mama, pintar sekali sih." Dengan gemas papa Reyhan mencubit dagu istrinya.
"Papa. Malu ih, kalau ketahuan mereka." Sungut mama Laura kesal.
"Iya, kalian sudah masuk cctv ku." Seloroh Marquez tiba-tiba, yang membuat wajah mama Laura memerah karena malu. Sedangkan papa Reyhan hanya meringis.
"Dad, Laura jadi malu kan." Tegur Mommy Melati pada suaminya.
"Maafkan tingkah suamiku. Dia memang begitu orangnya." Ucap mommy merasa tak enak dengan Laura.
"Tidak apa-apa, Sis. Suamiku juga seperti itu orangnya. Cukup konyol." Papa Reyhan mendelik, mendengar istrinya mengatakannya dirinya seperti itu.
__ADS_1
"Kalau suamimu cukup konyol, suamiku rajanya konyol." Balas mommy, yang membuat Marquez mengerucutkan bibirnya. Sedangkan papa Reyhan dan mama Laura terkekeh.