
Hari yang dinantikan pun tiba. Yakni hari pernikahan Aisyah Humaira dengan Muhammad Al Fatih. Akad nikah akan di selenggarakan di rumah Aisyah.
Di ruangan yang berbeda, Aisyah dan Fatih tengah di rias. Keduanya di kelilingi oleh sahabat-sahabatnya masing-masing.
Sahabat-sahabat Aisyah yang kemarin hadir, kini juga hadir kembali. Karena tak ingin melewatkan setiap prosesi yang dijalani gadis cantik itu. Termasuk Wulan.
Teman Aisyah yang satu itu memang sangat penasaran dengan pernikahan adat Jawa yang memang banyak prosesnya. Tidak seperti di luar yang serba simple.
"You are very beautiful baby." seru Wulan sambil menangkup wajahnya sendiri. Lalu mencubit gemas pipi Aisyah.
"Oh tidak. Jangan seperti itu baby. Kecantikan ku bisa luntur." pekik Aisyah. Sontak tingkah keduanya mengundang gelak tawa teman-temannya.
"Sorry baby. Aku kelepasan." ucap Wulan sambil meringis.
Di ruangan yang lain, Fatih telah selesai di rias. Ia tampak tampan dengan menggunakan stelan jas warna silver. Di kepalanya bertengger peci warna senada. Dan tak lupa di sisi telinganya tersemat bunga melati.
"Kamu keren sekali Fat. Pasti aisyah akan terpesona dengan mu." ucap Salman memuji ketampanan saudaranya.
__ADS_1
Dan di teras depan rumah, penghulu baru saja datang. Tuan rumah mempersilahkannya duduk di tempat yang telah disediakan. Setelah sejenak bercakap-cakap, penghulu mencoba microfon yang akan digunakan untuk akad nikah.
"Tes....Tes.....Tes." suara penghulu menggema di setiap sudut ruangan. Membuat hati kedua calon mempelai bergetar.
"Sebentar lagi baby." ucap Wulan dengan mata yang berbinar. Aisyah pun mengangguk.
Dan ia dapat merasakan jantungnya yang kian berdegub kencang. Padahal baru mendengar suara penghulu yang mencoba microfon saja. Belum mendengar suara Fatih yang mengucapkan ikrar ijab qobul.
Di ruangan yang lain, Fatih juga merasakan hal yang sama. Jantungnya berdegup kencang.
"Istighfar Fat, semoga Allah mudahkan kamu mengucapkan ikrar ijab qobul." ucap Salman berusaha menenangkan saudaranya. Fatih pun mengangguk lalu menghembuskan nafas panjang.
"Baik umi."
Fatih berdiri, dan berjalan menuju tempat akad dengan di dampingi Salman. Di sana sudah ada penghulu dan beberapa saksi. Salman pun turut di minta Fatih untuk menjadi saksinya.
Kini Fatih dan penghulu saling berhadapan. Penghulu menjelaskan beberapa hal sebelum akad berlangsung. Setelah Fatih paham, barulah akad nikah di mulai. Keduanya saling berjabat tangan.
__ADS_1
"Saya nikah dan kawinkan engkau Muhammad Al Fatih dengan putri ku Aisyah Humaira binti Andre Hermawan dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan perhiasan emas senilai 50 juta rupiah di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah Humaira dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan perhiasan emas senilai 50 juta rupiah di bayar tunai." ucap Fatih lantang.
"Bagaimana saksi, sah?" ucap penghulu.
"Sah, sah, sah." teriak saksi.
"Alhamdulillah." ucap para hadirin.
Mendengar suara Fatih saat mengikrarkan janjinya, membuat Aisyah menitikkan air mata harunya. Bukan kekayaan yang ia cari. Bukan ketampanan yang ia cari.
Tapi ia tahu bersama Muhammad Al Fatih membuat jiwa dan semangatnya dalam berdakwah semakin berkobar.
Karena pemuda itu selalu membimbing anak-anak pondok pesantren dengan penuh semangat yang membara. Bahkan separuh gajinya dikembalikan untuk kepentingan yayasan pondok pesantren.
Dan di usianya yang masih terbilang muda, yakni 20 tahun. Ia sudah menguasai beberapa bahasa. Yakni Inggris, Arab, dan Thailand.
__ADS_1
Sepak terjangnya dalam mengembangkan pondok, tidak diragukan lagi. Itulah yang membuat Aisyah memilihnya.