Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
132. Romantis setelah menikah


__ADS_3

"Ayo, aku bantuin kamu melepas riasannya." Salman menggandeng tangan Wulan menuju meja rias. Dan mendudukkannya di sana.


"Ternyata kamu orangnya romantis juga ya mas."


"Hah, memangnya kamu baru tahu, kalau suamimu ini adalah orang yang romantis?" Wulan mengangguk.


"Dulu sikap mu terlalu dingin seperti es batu kalau dengan ku."


"Kamu mengatakan aku dingin seperti es batu?"


Salman pura-pura memasang wajah marah. Wulan mendongakkan kepalanya menatap laki-laki yang tengah cemberut itu. Dan mencubit kedua pipinya karena gemas.


"Itu dulu kok. Karena sekarang aku sudah berhasil mencairkan hati mu."


Dengan spontan Wulan mengecup bibir Salman, hingga membuat laki-laki itu membeku dan membulatkan matanya.


"A-apa yang kamu lakukan tadi?" ucap Salman dengan nada serak.


"Mau tau jawabannya?" Wulan kembali menempelkan bibirnya di bibir Salman.


"Nah, itu jawabannya." Wulan terkekeh.


"Bu-bukankah seharusnya yang melakukan itu duluan aku?"


"Ah, nunggu kamu kelamaan. Dulu saja, harus aku yang mengejar-ngejar kamu." Wulan pura-pura cemberut.


"Siapa bilang. Tadi aku sudah mengecup kening mu lho. Apa kurang?"


Wulan tidak menjawab tapi hanya senyum-senyum sendiri. Sekali lagi Salman mengecup kening istrinya lembut.


Setelahnya perlahan ia melepaskan accesoris yang menempel di tubuh Wulan. Dan keduanya bergiliran mengambil air wudhu.


Keduanya mengerjakan sholat dhuhur berjamaah, dengan Salman sebagai imamnya. Keduanya sholat dan memanjatkan doa dengan khusu'.


Meminta pada Tuhan, agar senantiasa menjaga rumah tangganya. Barulah setelah itu Wulan mengecup punggung tangan suaminya.

__ADS_1


Hari berganti malam. Semua sudah berada di kamar setelah acara makan malam selesai.


Dua insan yang tidak pernah berpacaran di satukan dalam satu kamar. Tentu saja hal itu membuat keduanya merasa sungkan.


Tapi, kembali lagi niat awal. Mereka menikah karena sebuah ibadah. Meskipun ragu, tapi Wulan memantapkan hatinya agar malam itu ia bisa melayani suaminya dengan baik.


Bukankah menawarkan diri terlebih dahulu pada suami, akan mendapat pahala lebih?


Setelah selesai menggosok gigi, ia mengganti pakaiannya dengan gaun malam. Ia keluar dari kamar mandi dan berjalan dengan anggun.


Melihat suaminya yang tengah berdiri di balkon, ia segera menghampirinya. Lalu memeluknya dari belakang.


Jantung Salman berdegub kencang, ketika sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Ia membalikkan badannya dan menatap Wulan tanpa kedip.


Tak menyangka jika istrinya telah siap lebih dulu. Wanita itu benar-benar membuktikan menjadi istri yang baik.


Salman berusaha menetralisir perasaan gugupnya dengan menghirup nafas dalam-dalam.


"Ka-kamu cantik sekali malam ini sayang."


Salman mengapresiasi istrinya dengan sebuah pujian. Tak etis rasanya, ketika pasangan telah berusaha memberikan apa yang terbaik untuk kita, tapi kita hanya cuek saja.


"Terima kasih."


"Ayo kita ke kamar. Tak rela hatiku jika ada yang melihat mu berpenampilan menarik seperti ini." Salman mengangkat tubuh Wulan. Gadis itu membekap mulutnya yang menganga karena speechless.


Salman meletakkan Wulan di atas ranjang tempat tidurnya dengan hati-hati. Lalu menatap wajahnya.


"Apa kamu sudah siap melakukannya malam ini?"


"Ketika para saksi berkata 'sah', maka sejak saat itulah aku siap lahir batin melayani mu setulus hatiku wahai suamiku."


Salman mengecup kedua tangan Wulan, lalu beralih ke kening dan ubun-ubunnya. Ia melantunkan doa malam pertama agar Wulan bisa mengikutinya.


Selanjutnya Salman memberi sentuhan sentuhan lembut pada Wulan. Sehingga membuat gadis itu merasa lebih rileks.

__ADS_1


Meskipun keduanya tidak pernah sekali pun melihat film Upin Ipin, tapi naluri keduanya lah yang mendorongnya.


Sehingga pada malam hari itu, Wulan berhasil menyerahkan kehormatan dan kesuciannya pada laki-laki yang dicintainya dengan ikhlas.


"Terima kasih untuk semua yang kamu berikan padaku sayang."


Salman berkali-kali menghujani wajah Wulan dengan kecupan hangat. Setelah keduanya melakukan kewajibannya.


Setelah itu Salman menggendong Wulan menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuh bersama sebelum tidur.


**


Terdengar suara ketukan pintu. Salman segera membukanya. Terlihat dua asisten rumah tangganya membawakan nampan untuk sarapan pagi.


"Lhoh, kenapa di antar kesini, bi? Bukan kah kami bisa turun ke bawah untuk menikmati sarapan pagi bersama."


"Maaf, mas. Tapi non Wulan sendiri yang memintanya."


Salman menoleh pada Wulan yang duduk di ranjang tempat tidur. Lalu mempersilahkan kedua asisten rumah tangganya masuk.


Mereka meletakkan nampan itu di meja balkon.. Karena tak ada meja yang cukup untuk menampung makanan sebanyak itu.


"Terima kasih, bi."


"Sama-sama, mas."


"Sayang, kenapa kamu menyuruh mereka mengantarkan makanannya ke kamar?"


"Em, itu ku masih sakit mas. Tidak kuat aku berjalan sampai bawah."


Salman menutup mulutnya.


"Maafkan aku, sudah membuatmu jadi begini."


"Tidak apa-apa. Lama-lama juga biasa. Kamu mau lagi ngga?" kekeh Wulan di ujung kalimatnya.

__ADS_1


"Aku kan laki-laki normal, tentu saja mau. Tapi, aku suami yang memiliki perasaan. Tidak mungkin meminta jika istriku keadaannya belum pulih benar. Bisa-bisa aku dilaporkan ke kantor polisi, atas tuduhan pelecehan."


Keduanya tertawa bersama. Lalu Salman menyiapkan makanan di dekat Wulan. Agar istrinya bisa makan dengan nyaman.


__ADS_2