Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
242. Demi Wulan


__ADS_3

Tak berselang lama setelah Salman dan Wulan duduk, pelayan datang membawakan pesanan makanan untuk mereka.


Mata Wulan langsung membeliak lebar melihat makanan yang ia inginkan, disajikan dihadapannya.


"Makanlah sepuasnya sayang. Agar kamu tidak kurus karena terus menerus di sedot oleh bayi kita. Bayi kita juga jadi tumbuh sehat dan gembul."


Wulan menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum, lalu tangan kanannya tergerak mengambil sepotong sushi dan mengunyahnya


Ibu menyusui itu melahap makanannya dengan binar bahagia. Seperti anak kecil yang mendapatkan apa yang diinginkan.


"Memangnya dengan memandang ku, bisa mengenyangkan perut? Ha." Cicit Wulan sambil menyodorkan sepotong nasi yang dibungkus dengan rumput laut, dan di dalamnya terdapat potongan alpukat dan udang.


Salman sebenarnya tidak menyukai makanan itu. Ia lebih suka makanan khas Indonesia seperti nasi kucing. Tapi agar istrinya bahagia, ia pun menerima suapan itu.


"Enak kan?"


Salman menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Setelah sampai rumah ia berjanji akan membuat sambal terasi dan menggoreng ikan asin.


Tak butuh waktu lama, makanan yang ada di meja mereka telah disapu bersih. Keduanya pun segera beranjak dari tempat duduknya, untuk membayar makanannya.


Sesampainya di kasir, Salman terkejut ketika pelayan itu mengatakan jika makanannya sudah dibayar.


"Pasti ini kerjakan Jack. Aku jadi berhutang budi dengannya." Gumam Salman sambil mendengus kesal.


Ia memang tidak suka mendapatkan sesuatu secara gratis. Karena tahu bagaimana rasanya orang yang membangun usaha sampai sukses.


Salman juga bukan tipe teman yang suka meminta gratisan. Selama dirinya mampu, ia akan membayarnya. Begitu pula jika dirinya tidak mampu, maka lebih baik menahan keinginannya.


Salman pun mentransfer sejumlah uang pada temannya tadi. Agar tidak merasa berhutang budi.


Setelah itu keduanya kembali masuk mobil. Sesuai dengan permintaan Wulan, Salman menghentikan laju mobilnya ketika di pinggir jalan ada abang-abang penjual siomay ikan.


"Kamu tunggu disini ya. Biar aku belikan dulu."


"Tidak, aku mau ikut."

__ADS_1


Wulan justru membuka pintu mobilnya duluan, dan berlari kecil menuju penjual siomay ikan.


Salman terkekeh geli sambil menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan istrinya yang terlihat seperti anak kecil.


Pria itu segera turun dari mobil dan menghampiri istrinya. Karena ia tahu, Wulan tidak membawa dompetnya.


Semenjak menikah dan memiliki anak, memang Wulan memiliki kebiasaan baru. Yakni sering kelupaan membawa dompetnya, ketika hendak pergi kemana saja.


Untung suaminya beruang. Maksudnya adalah orang yang memiliki banyak uang. Bukan binatang beruang.


Jika tidak, pasti akan dimarahi penjual. Karena membeli tapi tidak membawa uang.


"Bayarin. Dompetnya lupa." Celoteh Wulan sambil meringis. Sampai penjual yang melihatnya juga terkikik pelan sekali.


"Hem, tidak usaha berkata. Aku sudah tahu kebiasaan barumu."


Salman merogoh dompet dalam tasnya. Lalu mengambil selembar merah dan mengikhlaskan kembaliannya.


Wulan berjalan mendahului suaminya. Dengan wajah riang, ia menenteng jajanannya.


"Ya ampun, ternyata istri ku memang masih bocah." Gumam Salman, sambil geleng-geleng kepala. Ia berjalan mengekor di belakang Wulan.


"Mas, jangan lupa Mixue ya." Wulan mengingatkan suaminya.


"Siap tuan putri."


Wulan tergelak mendengar balasan Salman. Pria itu menatap istrinya sekilas.


Ia masih tidak menyangka, wanita yang dulu begitu mengusik hatinya, kini justru membuat hati dan harinya terasa berwarna. Dengan segala tingkah lucunya.


"Mas!"


Salman seketika menginjak rem mobilnya kuat. Sehingga keduanya sampai terhuyung ke depan.


Pasangan suami-istri itu menarik nafas lega sambil mengusap dada.

__ADS_1


"Ada apa sayang?"


Salman bertanya dengan raut wajah menyiratkan kepanikan. Sementara istrinya justru mengulas senyum.


"Alhamdulillah, untung tidak kelewatan."


"Hah, maksudnya?"


"Tuh, hampir saja kita kelewatan." Wulan menunjuk gerak Mixue.


"Ya Allah, sayang. Aku pikir ada sesuatu yang berbahaya. Ternyata..."


Salman menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan istrinya bulenya. Ia pun membelokkan mobilnya di pelataran gerai Mixue.


"Antriannya panjang sekali, mas. Kalau kelamaan menunggu bagaimana?" Keluh Wulan dan terlihat murung.


Salman selalu punya ide untuk menghadapi kekonyolan istrinya.


Ia mengeluarkan dompetnya. Lalu menarik lembar merah dan memberikan satu persatu pada seluruh antrian. Hingga ia tiba di urutan pertama.


"Berikan saya semua jenis minuman yang ada di kedai ini, sekarang. Dan berapa totalnya, saya tidak mau dianggap berbohong." Titah Salman, yang membuat pelayan kedai itu melongo.


Tak lama kemudian pelayan menyuruh temannya yang lain menyiapkan pesanan Salman. Sedangkan dirinya menjumlah pesanan Salman.


"Totalnya lima ratus ribu, kak." Ucap pelayan.


"Ini."


Salman menyerahkan lima lembar uang merahnya pada kasir. Setelah itu ia mendekati istrinya yang sejak tadi berdiri.


"Sayang, kenapa kamu tidak duduk?"


"Tidak dapat tempat duduk." Balas Wulan singkat.


Salman mendekati meja pasangan muda mudi.

__ADS_1


"Kalian mau uang ini?" tanya Salman, dan pasangan muda-mudi itu pun mengangguk.


"Beranjak dari tempat duduk kalian. Dan aku akan menyerahkan dua lembar uang merah pada kalian."


__ADS_2