
"Kenapa mama dan papa tidak mengabari kami kalau mau kesini?" Tanya Fatim, ketika sudah mengurai pelukan dengan mertuanya. Lalu mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Kami memang sengaja tidak mengabari kalian, Fatim. Agar menjadi kejutan." Balas mama Margareth.
"Sayang, ayo ikut Oma." Mama Margaretha mengulurkan tangannya ke arah Abidah yang tampak anteng, duduk di dalam stroller.
"Sudah lama tidak bertemu, kamu tambah cantik sekali sayang."
Mama Margareth menghujani wajah cucunya dengan kecupan.
"Yuk, ikut opa." Papa Marco mengulurkan tangannya pada Abidah.
"Hem, baru juga sebentar pa. Sudah diserobot saja." Gumam mama Margareth dengan mata yang mendelik.
Marco tampak kegirangan, ketika Abidah mau menerima uluran tangannya, dan kini duduk dalam pangkuannya.
Tak lama kemudian, asisten rumah tangga datang. Ia membawakan cemilan dan minuman untuk besan majikannya.
"Ayo, Sis. Diminum dulu." Mama Tiwi mempersilahkan pasangan suami-istri istri dihadapannya untuk mencicipi hidangan yang sudah disajikan.
"Terima kasih. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot, Sis. Oh iya, dimana Leon dan suamimu." Tanya mama Margaretha lagi.
"Mereka semua sedang bekerja." Balas mama Tiwi.
"Kerja?" Ulang kedua orang tua Leon kompak. Keduanya saling beradu pandang.
"Leon kerja? Kerja apa dia? Tidak mungkin kan dia ikut bekerja Papa mertuanya? Bagaimana kalau dia salah suntik?" Papa Marco yang sejak tadi lebih banyak diam, kini bertanya karena diliputi rasa penasarannya. Tapi pertanyaannya justru membuat mereka terkekeh.
__ADS_1
"Kak Leon sekarang membuka counter, pa. Sengaja dia tidak bilang ke mama dan papa. Katanya biar menjadi kejutan bagi kalian jika bertemu nanti. Tapi jangan tanya-tanya soal ini dulu ke kak Leon ya, pa, ma. Karena dia ingin mengatakan hal ini sendiri pada papa dan mama." Fatim menjelaskan.
Papa Marco manggut-manggut sambil menyunggingkan senyum tipis. Ia bangga pada putranya, ternyata dia sudah dewasa. Mau bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Entah berapa pun hasilnya.
Padahal jika Leon meminta sejumlah uang padanya, dan berapapun nominalnya, tentu akan dikirim. Karena dia adalah pewaris satu-satunya di keluarga Marco.
"Jam berapa dia pulang?" Tanya papa Marco lagi.
"Biasanya siang dia pulang, pa. Ada seorang karyawan yang membantunya mengelola usahanya." Balas Fatim lagi.
"Mama dan papa bisa istirahat dulu, sembari menunggu kepulangan kak Leon. Mari Fatim antar ke kamar."
"Tidak, kami sudah terlalu lama istirahat di dalam pesawat. Sambil menunggu kepulangan Leon, kami bermain dengan si kecil ini saja." Papa Marco menowel dagu Abidah, menggerakkan tangannya, dan tak lupa mengecup pipinya lagi.
Fatim dan mama Tiwi, diam-diam sudah mengirimkan pesan untuk suami mereka, sambil bercakap-cakap dengan kedua orang tua Leon.
"Kenapa kalian tidak mengabari kami?" Papa Adam juga memprotes besannya.
"Kita sengaja ingin memberi kejutan untuk kamu sekeluarga. Kalau menunggu kalian mengunjungi kami ke Belanda, butuh berapa tahun lagi?" Balas papa Marco, yang membuat papa Adam terkekeh.
"Maafkan atas keegoisan kami, Marco."
Tak lama kemudian setelah kedatangan papa Adam, Leon juga datang.
"Mama, papa." Serunya sambil berlari kecil, dan mendekat ke arah kedua orang tuanya. Ia menyalami dan berpelukan dengan mereka.
Untuk yang kesekian kalinya, Marco dan Margaretha menerima sederet kalimat protes. Dan kini datang dari anaknya sendiri.
__ADS_1
**
"Umrah?" Ulang papa Adam, saat menerima panggilan telepon dari papa Reyhan.
"Iya, kamu mau tidak?" Papa Reyhan mengulang pertanyaannya.
"Tentu saja aku mau. Apalagi sekarang aku juga kedatangan besan ku. Sekalian saja aku ajak mereka. Pasti mereka juga sangat senang."
"Oh ya, kenapa bisa barengan gitu. Dengan kedatangan grandpa dan grandmanya Wulan?"
"Mungkin mereka berangkat bersama kemarin. Oh iya, terima kasih, ya. Kamu sudah memberiku informasi yang menarik."
"Sama-sama."
"Siapa mas, yang menelpon?" Tanya mama Tiwi, sambil menghampiri suaminya yang tengah duduk di tepi ranjang tempat tidur.
"Reyhan. Dia mau mengajak kita umrah bersama. Apa kamu mau?" Papa Adam menatap istrinya dengan seksama.
"Tentu saja aku mau. Bahkan aku berandai-andai, kalau kita tinggalnya di Mekkah, jadi tidak perlu repot-repot mengurus semuanya sebelum berangkat."
Papa Adam terkekeh kecil mendengar jawaban yang meluncur dari bibir istrinya, yang dirasa terlalu mengandai-andai.
"Semoga suatu saat keinginan kamu bisa terwujud ya, ma. Sekarang doakan papa saja biar selalu mendapat rezeki yang banyak. Agar kita bisa dengan mudah menjejakkan kaki di tanah suci itu."
"Iy, pa. Tentu saja mama tidak akan pernah lupa mendoakan papa."
"Ya sudah, kita tidur dulu. Besok pagi kita sampaikan kabar ini pada Marco dan istrinya."
__ADS_1
Mama Tiwi mengangguk, mengiyakan ucapan suaminya. Setelah itu, keduanya membenarkan selimut dan berniat tidur.