
Setelah selesai sholat Dhuhur dan makan siang bersama. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Gua Hira.
Gua Hira menjadi saksi bisu ketika Nabi Muhammad menerima wahyu pertama dari Allah. Letaknya berada di tebing menanjak yang agak curam.
Untung saja semua rombongan jamaah umrah fisiknya cukup kuat. Sehingga mereka bisa menaiki bukit itu. Bahkan grandma dan grandpa yang sudah beruban terlihat bersemangat.
Di tempat itu, keluarga Wulan kembali teringat, saat-saat pertama mereka masuk Islam, dan mengerjakan kewajiban sholat.
Saat-saat itu adalah saat yang sulit. Karena dibutuhkan sebuah keikhlasan melepas apa yang dipahami selama ini.
Hari sudah semakin sore. Pastinya tubuh mereka juga sudah di dera rasa lelah. Mereka kembali ke hotel. Melakukan aktivitas yang sama. Yakni sholat Maghrib, sholat Isya' , berdoa dan berdzikir lalu beristirahat.
Di sana mereka benar-benar mendekatkan diri pada Allah. Mengingat segala tanda-tanda kekuasaannya. Agar menumbuhkan rasa takut untuk berbuat maksiat.
Di saat kebanyakan orang sibuk berfoto Selfi dan menguploadnya di berbagai media sosial.
Keluarga Salman dan Wulan hanya beberapa kali saja mengabadikan momen di tempat tersebut, dengan niatan untuk menjadi kenang-kenangan.
Tanpa berniat menguploadnya di media sosial. Yang bisa saja memicu penyakit hati bagi orang yang melihatnya.
Biarlah itu semua menjadi amalan, yang hanya dirinya dan Tuhannya yang tahu.
**
__ADS_1
Hari berikutnya, mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Pagi itu tempat pertama yang mereka tuju adalah Jannatul Baqi.
Objek wisata religi satu ini cukup sentimental. Karena itu merupakan pemakaman utama di Madinah. Keluarga, kerabat, serta sahabat Nabi Muhammad banyak yang dimakamkan di sini.
Pemakaman adalah sebuah tempat bagi orang yang sudah meninggal.
Tour guide menasehati, bahwa adabnya ketika masuk ke pemakaman, kita harus melepas alas kaki. Dilarang keras untuk meminta doa pada orang yang sudah meninggal. Yang dikenal dengan istilah ngalap berkah.
Karena yang namanya orang meninggal, sudah tidak bisa mendoakan orang yang masih hidup. Tidak bisa mengabulkan hajatnya.
Dan justru seharusnya orang yang masih hidup mendoakan dan beramal untuk orang yang sudah meninggal.
Dulu, orang-orang yang meninggal saat haji atau umroh sempat dikuburkan di tempat tersebut. Namun, karena keterbatasan tempat, kebijakan tersebut tidak diberlakukan lagi. Jenazah yang meninggal tetap di bawa pulang ke negaranya.
Selanjut mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Jabal Tsur.
Di Jabal Tsur, terdapat bongkahan-bongkahan batu besar. Kondisi nya masih gersang. Udara semakin terasa panas, mengingat saat itu sudah memasuki waktu sholat Dhuhur.
Mereka mempercepat langkah menuju Masjid Jawatha. Masjid Jawatha memang tidak semegah Masjid Nabawi atau Masjidil Haram.
Namun, masjid ini juga memiliki sejarah penting dan menjadi yang tertua di Arab Saudi. Memang sebagian struktur aslinya telah hilang, tapi masih digunakan sebagai tempat ibadah.
Masjid ini sangatlah sederhana, dan jauh dari kesan mewah. Tidak ada kubah ataupun menara. Meskipun begitu, tidak mengurangi kekhusukan mereka dalam beribadah.
__ADS_1
Bahkan mereka justru kagum terhadap bangunan yang masih kokoh berdiri. Padahal bahan baku nya adalah batu. Sedangkan pintunya kayu biasanya yang tidak terlalu besar.
Masjid Jawatha mengingatkan kita tetap sederhana sebagai seorang muslim.
Tidak jauh dari masjid itu ada sebuah wahana rekreasi. Mereka sejenak bermain-main disitu sampai hari menjelang sore.
Hingga beberapa hari ke depan mereka melaksanakan ibadah umroh. Di hari terakhir, tak lupa mereka menyempatkan diri membeli oleh-oleh untuk orang-orang terdekat.
Mereka mengunjungi pasar Zakfariah. Pasar yang menjual segala macam kebutuhan sehari-hari dan oleh-oleh seperti, peralatan ibadah, perhiasan, jam tangan, kurma, barang elektronik, dan masih banyak lagi barang lainnya.
Mencicipi rasa kurma membuat Wulan dan keluarganya ketagihan. Karena buah itu memiliki rasa manis yang pas. Mereka pun membeli oleh-oleh yang cukup banyak. Agar semua bisa menikmati.
Meskipun di Indo juga banyak toko yang menjual makanan khas timur tengah, tetap saja memiliki kualitas yang berbeda.
Semua tengah berkemas-kemas. Memastikan semua barang tidak ada yang tertinggal. Karena nanti sore mereka akan berangkat menuju bandara.
Di jam yang telah ditentukan, deretan bus berjejer rapi di pelataran hotel. Untuk menjemput rombongan, dan mengantarkan mereka ke bandara.
Ada sejumput rasa sedih ketika harus meninggalkan tempat suci itu. Mereka berharap suatu saat bisa kembali mengunjunginya.
Bus pun melaju dengan kecepatan sedang, melewati jalan yang mulus, dan sekitar kiri kanannya Padang pasir yang telah menghijau. Sekali lagi sebagai pengingat bahwa kiamat semakin dekat.
Akhirnya rombongan bus telah sampai di bandara. Rasa yang bercampur aduk kembali menyerang mereka sebelum masuk pesawat.
__ADS_1
'Selamat tinggal Baitullah. Kiblat nya orang seluruh dunia. Semoga bisa mengunjungi mu lagi di lain kesempatan.' batin Wulan, dan tanpa sadar ia meneteskan air mata.
Setelah itu, pesawat mulai lepas landas dan menghantarkan mereka kembali ke tanah air.