
Fatim menenangkan suaminya yang terlihat bersedih, karena tidak bisa bermain barongsai dengannya dalam waktu yang cukup lama.
Setelah kesedihan Leon mereda, ia dengan buru-buru memandikan Fatim. Lalu ia sendiri segera mandi, dan barulah keduanya menyusul kedua orang tua mereka yang telah menunggunya di ruang makan.
Saat Fatim dan Leon sampai di ruang makan, tampak kedua orang tua mereka tengah bersenda gurau. Bayi mereka juga masih tidur pulas.
"Asyik benar, apa yang sedang kalian bicarakan ma, pa?" Tanya Leon sambil menarik sebuah kursi, untuk duduk Fatim.
"Kamu datang terlambat, mau tahu saja urusan orang tua." Balas papa Marco.
"Mumpung semua sudah berkumpul, ayo kita mulai sarapan paginya." Ajak mama Tiwi.
Papa Adam pun mempersilahkan kedua besannya untuk terlebih dulu mengambil makanan.
Mereka memuji rasa rendang yang enak. Lalu menambahi dengan acar mentimun yang segar. Keduanya menjadi perpaduan yang pas.
Mama Tiwi dan papa Adam saling beradu pandang dan melempar senyum. Memang sudah seharusnya mereka berkata enak, karena memasaknya saja, membutuhkan waktu yang sangat lama.
"Apakah kamu tidak ingin memberitahu resepnya padaku." Celetuk mama Margareth.
"Jika kamu meminta, tentu saja akan aku beritahu resepnya. Bahkan kita bisa praktek memasak bersama, jika kamu kesini lagi." Mama Tiwi mengulas senyum pada mama Margareth.
"Oh, pasti kamu sengaja menahan ku. Agar tidak buru-buru pulang." Goda mama Margareth.
Mereka lebih mempercepat makannya, karena harus segera buru-buru berangkat ke bandara.
Setelah menyelesaikan sarapannya. Mereka kembali merapikan diri, lalu berangkat bersama menuju ke bandara.
__ADS_1
Dan sesampainya di bandara, mereka harus berpisah di tempat pemberangkatan. Peluk cium tawa dan saling mendoakan mengiri kepulangan kedua orang tua Leon.
Papa dan mama Margareth mengecup Abidah hingga berkali-kali. Tentu saja keduanya akan sangat merindukan bayi kecil yang masih kemerahan kulitnya.
"Jangan lupa, setelah sampai kalian harus segera memberi kabar pada kami." Pesan mama Tiwi.
"Tentu saja, aku tidak akan melupakan hal itu." Balas mama Margareth sambil mengulas senyum.
Setelah itu orang tua Leon melewati garbarata sebelum naik ke pesawat. Tak lupa mereka saling melambaikan tangan.
Fatim dan keluarganya memastikan sampai pesawat benar-benar mengudara. Barulah mereka menuju ke arah mobil terparkir.
Entah kenapa, perasaan Leon mendadak jadi tidak tenang dan terlihat gelisah. Hingga sepanjang perjalanan pulang, dia yang biasanya banyak bicara, kini diam saja.
"Kak, kenapa kamu diam saja?" Tanya Fatim, saat keduanya sudah berada di dalam kamarnya.
"Tidak ada apa-apa. Mungkin aku cuma sedikit kecapekan." Leon menenggelamkan tubuhnya di atas tempat tidur.
**
Sementara itu di kediaman Wulan,
Mereka tengah menggelar syukuran untuk putri pertamanya yang sudah berumur tiga bulan dan syukuran karena baru saja membuka cabang counter nya yang ke sebelas.
Mereka sengaja mengundang anak-anak yatim-piatu. Bahkan untuk akomodasi, Salman lah yang menyediakan. Yakni menyewa sebuah bus untuk menjemput anak-anak itu.
Di dalam rumah mewah Daddy Marquez, telah dihias dengan banyak balon dan pita yang berwarna-warni. Gula kapas yang berwarna-warni juga di gantung.
__ADS_1
Salman juga mengundang dua orang MC, yang akan menyamar menjadi badut, untuk memeriahkan acara.
Setelah semua siap, acara pun di mulai. Kedua badut itu membuka acara dengan ucapan salam. Tentu saja keduanya menirukan logat anak-anak yang cedal. Sehingga terdengar lucu.
Kedua badut itu awalnya mengisahkan tentang salah satu kisah nabi, untuk memberi wawasan pada anak-anak dan mengingatkan kita para orang tua.
Anak-anak itu mendengarkan dengan seksama. Dan terkadang mereka tertawa cekikikan, karena kedua MC itu pandai mengemas sebuah kisah menjadi lebih menarik, tanpa meninggalkan kaidah-kaidah penting di dalamnya.
Setelah kisah nabi selesai, kedua badut itu mengadakan permainan untuk anak-anak. Yang tidak bisa mengikuti gerakan sang badut, maka akan mendapat hukuman. Wajahnya akan diberi bedak bayi.
Anak-anak itu sangat antusias mengikuti setiap gerakan sang badut. Hingga akhirnya musik berhenti, badut berhenti dan mereka ikut berhenti. Tapi beberapa dari mereka ada yang salah gerakannya. Sehingga mereka harus rela di hukum dengan di colek bedak bayi.
Tidak hanya permainan itu saja yang mereka mainkan, melainkan ada juga beberapa permainan lainnya. Anak-anak itu tetap antusias mengikuti acara tersebut. Hingga akhirnya tanpa terasa sudah tiba di penghujung acara.
MC yang menyamar menjadi badut, mengajak anak-anak untuk mendoakan baby Maryam dan keluarganya. Agar selalu diberi kesehatan dan kebaikan-kebaikan lainnya.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Semuanya dipersilahkan mengambil makanan yang telah terhidang di meja prasmanan.
Tentu saja anak-anak itu sangat senang sekali, karena menu makanannya begitu menggiurkan.
Ada donat hias, ayam goreng, ayam bakar, lele bakar, cumi asam manis, orek tempe, urap, brokoli crispy dan masih banyak lagi jenis sayur lainnya.
Untuk minumannya ada es buah, es cincau dan tak lupa air mineral.
Mereka dipersilahkan makan sepuasnya. Keluarga Salman dan Wulan pun juga ikut menikmati makanan itu sambil duduk lesehan dengan mereka.
Setelah acara selesai, anak-anak juga mendapat masing-masing satu tas. Di dalam tas itu, ada satu box nasi dengan menu yang sama seperti yang dihidangkan. Perlengkapan sekolah, perlengkapan sholat, serta uang saku senilai satu juta rupiah.
__ADS_1
Anak-anak itu juga bersalaman dengan keluarga Wulan dan Salman sebelum pulang.
Kedua orang tua baby Maryam dan keluarganya sangat senang bisa menggelar acara itu, karena bisa berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan.