
Pagi harinya, keluarga Wulan tengah berkumpul di meja makan. Untuk menikmati sarapan pagi bersama.
Saat itu, Marco bertanya pada grandma dan grandpa, kapan keduanya akan kembali ke Belanda. Jika pulang dalam waktu cepat, bisa berangkat bersama.
Beberapa perusahaan mengajak Marco untuk bekerja sama. Dan menginginkan bertemu langsung dengannya.
Tapi ternyata grandma dan grandpa belum bisa memberikan jawaban, tentang kepulangannya. Karena masih ingin berkumpul dengan anak dan cucunya.
Ditambah lagi ketika bertemu dengan haji Dahlan. Seorang laki-laki sepuh yang memiliki banyak wawasan. Membuat keduanya ingin sering berjumpa dengannya. Untuk menimba ilmu.
Rencananya, Marco akan meneruskan pengobatan Leon di negara asalnya. Agar tidak perlu bolak-balik ke Indo.
Untuk bodyguardnya sengaja masih berada di Indo. Agar bisa memberi pelajaran bagi manusia-manusia yang tidak memiliki sikap yang baik. Seperti Ronald dan Romi.
Leon terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan papanya itu. Tanpa memberi tahu sebelumnya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena di sanalah mereka tinggal. Dan ia juga tahu, jika papanya adalah orang yang cukup sibuk.
Pemuda itu dilanda kebingungan. Satu sisi ia ingin berkumpul dengan keluarganya dan membantu mengembangkan bisnisnya. Sedangkan disisi yang lain, ia juga ingin mengejar cintanya.
Ia juga tak tahu kenapa bisa secinta itu pada Fatim. Apalagi rasa cintanya tumbuh dalam waktu yang singkat.
Berbeda ketika ia cinta dengan Wulan. Dimana setiap hari mereka bertemu, bermain, dan pergi kemana pun juga bersama. Dan tentu saja hal itu terjadi sejak kecil hingga dewasa. Yang artinya membutuhkan waktu yang lama. Dan semua itu bisa hilang sekejap ketika bertemu dengan Fatim.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan pagi bersama, dan Marquez telah berangkat kerja. Dimana suasana rumah itu terlihat sepi, Leon mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya yang bersebelahan.
"Pa, ma. Leon mau bicara hal penting. Boleh masuk?"
"Ada apa, Leon?" Mama Margaretha membukakan pintu untuk anaknya, lalu menatap wajahnya yang terlihat gelisah. Akhirnya ia mempersilahkannya masuk.
Kini mereka bertiga duduk berjejer di tepi ranjang.
"Ada masalah apa sih? Kok berlipat-lipat macam baju kusut mukamu." kekeh Marco.
"Papa serius mau pulang ke Belanda? Kapan? Katanya kita mau belajar bareng sama haji Dahlan, kok malah memutuskan balik ke Belanda cepat-cepat?" Leon memberondong papanya dengan pertanyaan.
"Hem, apa itu yang membuatmu gelisah?"
"Em, mungkin ini terlalu cepat untuk Leon mengatakan pada kalian." sesaat Leon menjeda ucapannya untuk menghirup nafas. Lalu kembali melanjutkannya.
"Leon... ingin melamar Fatim." suara Leon terdengar lirih, tapi mampu mengejutkan kedua orang tuanya.
"Melamar?" ulang kedua orang tuanya secara bersamaan. Mereka saling beradu pandang, lalu menatap Leon.
"Ka-kamu yakin, Leon?" tanya papa Marco, yang juga mewakili isi hati istrinya.
__ADS_1
"Takutnya kalau kelamaan, Fatim bisa diambil orang, pa, ma. Nanti Leon patah hati lagi. Setelah di buat Wulan patah hati." Leon berkata disertai ekspresi menangis.
"Kalau jodoh ngga kan kemana, Leon. Lihat tuh Salman sama Wulan." ucap mamanya.
"Masa iya sih, nasib Leon harus jadi penjaga jodoh orang lain? Kapan jagain jodoh sendiri?" cicit Leon lagi yang membuat kedua orang tuanya terkikik pelan.
"Kali ini Leon yakin, kalau Fatim ada rasa dengan Leon. Tolong dong, pa. Sebelum papa berangkat ke Belanda, lamarin Fatim buat Leon. Leon janji, akan sungguh-sungguh belajar jadi orang yang baik, suami yang baik, dan rajin bekerja. Masa iya, yang kerja cuma, Fatim. Kan kasian dia."
"Kamu yakin?" tanya mama, dan Leon mengangguk.
"Kenapa kalian ngga coba pacaran saja? Agar bisa mengenal lebih dekat." usul papa Marco. Leon menggeleng kuat.
"Tidak, pa. Fatim itu tidak mau pacaran. Kalau ada laki-laki yang serius dengannya, harus segera melamarnya. Dia tidak ingin berbuat dosa yang mungkin saja terjadi ketika pacaran."
Papa Marco cukup lama berpikir, sambil menelisik wajah anaknya. Untuk melihat adakah kebohongan atau kejujuran yang ia lakukan.
"Hem, baiklah. Nanti malam kita kesana. Papa akan minta tolong keluarga Marquez untuk mengantarkannya kesana." ucap Marco.
"Serius kan, pa?" tanya Leon dengan menggoyangkan lengan papanya yang disertai wajah berbinar.
"Tapi kamu juga harus membuktikan keseriusan mu. Karena menjadi pemimpin rumah tangga itu tidak mudah. Dan juga kamu harus semangat kerja. Karena laki-laki itu tulang punggung keluarga."
__ADS_1
"Siap, pa. Leon akan lakukan apapun itu, demi Fatim." riak wajah gembira menyelimuti Leon. Seperti anak kecil yang mendapat permen.