
Suasana yang jauh berbeda, tengah dilalui Leon dan Fatim. Tak berselang lama setelah Wulan dan suaminya datang ke rumahnya untuk berpamitan, keduanya juga ikut berpamitan pada kedua orang tuanya untuk pergi jalan-jalan.
Mama Margaretha berpesan pada anaknya, agar lebih berhati-hati. Karena sekarang istrinya tengah hamil muda. Yang artinya ia tidak boleh terlalu capek.
Leon geleng-geleng kepala mendengar nasehat mamanya yang terlihat seperti orang yang sedang membaca novel. Tidak pernah ada habisnya, dan justru selalu bersambung.
Setelah memastikan tiada kata yang keluar dari mulut mamanya, Leon dan Fatim pun masuk ke mobil.
"Kita ini mau kemana dulu, kak?"
"Itu rahasia. Kalau aku kasih tahu sekarang. Nanti kamu akan menolak." Leon tersenyum tipis.
"Jangan bilang kalau kak Leon mau mengajak aku ke hotel lagi." Fatim mencebikkan bibirnya.
"Kok tahu." Leon terkekeh, yang membuat Fatim mulai kesal dengannya.
"Tahu gitu kita di rumah sajalah kak."
"Jangan cemberut, nanti cantiknya hilang, lho." Leon berusaha meraih dagu istrinya, tapi tidak kena. Karena wanita itu sudah lebih dulu menghindar.
Menempuh perjalanan hampir dua jam, membuat keduanya cukup merasakan lelah. Tapi hal itu tergantikan oleh pemandangan indah yang menakjubkan di depan mata.
Ternyata Leon tidak membawa Fatim ke hotel. Melainkan membawanya menuju Bloemenmarkt.
Setelah memarkirkan mobilnya, keduanya berjalan beriringan memasuki tempat wisata itu. Leon menggandeng tangan Fatim dengan erat.
Bloemenmarkt adalah pasar bunga apung di dunia. Yang terletak di antara Muntplein dan Koningsplein di tepi selatan kanal Singel. Tempat itu didirikan pada tahun 1862.
__ADS_1
Tujuh hari dalam satu minggu, Penjual bunga beban berdiri dengan semua bunga-bunga dan lampu yang terkenal di Belanda. Bloemenmarkt terdiri lebih dari selusin toko bunga dan Taman toko serta toko kios.
Meskipun penduduk toko setempat di sini juga, pasar terutama dirancang untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.
Lampu yang ditawarkan untuk dijual telah ditunjuk sebagai siap untuk ekspor, sehingga pengunjung dapat membeli tulip, daffodil, narcissus dan umbi lainnya sebagai kenang-kenangan abadi perjalanan mereka ke Amsterdam.
Tentu saja dengan segala keindahannya itu, membuat Fatim sampai tak bisa berkedip matanya. Ia begitu menikmati berada di tempat wisata itu.
Kedua tangannya, ia rentangkan, sambil menghirup dalam-dalam semerbak wangi dari aneka bunga yang ada di taman itu.
Leon ikut tersenyum menatap istrinya, yang tengah tersenyum.
**
Karena rasa iba melihat Natalie menemani suaminya sendirian di rumah sakit, Wulan dan keluarganya menemaninya cukup lama.
Salman sebagai yang lebih muda, membelikan aneka cemilan untuk dinikmati Natalie. Karena wanita itu tidak bisa meninggalkan suaminya sendirian.
Sementara itu mereka kembali ke rumah grandpa. Sambil menunggu jam keberangkatan pesawat yang akan menuju ke Indo berikutnya.
Wulan merebahkan badannya yang terasa pegal, karena duduk seharian. Tak lama kemudian, ibu hamil itu langsung menggelepar tak sadarkan diri, dan memasuki alam mimpi.
Salman hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat tingkah istrinya itu. Lalu ikut menjatuhkan diri disampingnya.
**
Setelah menyelesaikan sholat Maghrib, mereka kembali berangkat menuju bandara dengan diantar oleh grandma dan grandpa.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, grandma terus menasehati agar kedua cucunya itu selalu menjaga kandungannya baik-baik.
Salman dan Wulan mengangguk, dan menyimak baik-baik nasehat itu, tanpa berniat membantahnya. Karena itu semua juga demi kebaikan keluarga kecilnya.
Grandpa dan grandma mengantarkan mereka sampai di tempat pemberangkatan. Mereka pun saling berpelukan dan kembali memberi pesan.
"Titip cucu dan cicit grandpa ya, Sal. Jangan lupa, kalian harus selalu memberi kabar pada kami. Apalagi saat nanti melahirkan. Kami akan kesana untuk menjenguknya. Tak sabar rasanya untuk segera menimang cicit."
"In shaa Allah, Salman akan menjaga istri dan calon bayi kami sebaik mungkin, pa. Doakan kami juga ya."
"Hem." Grandpa menepuk bahu Salman.
Setelah puas berpamitan, Salman dan Wulan berjalan meninggalkan grandpa dan grandma yang masih mematung sambil menatap balik ke arahnya, menuju ke jembatan garbarata.
"Sini. Kamu bersandar di bahuku saja, dari pada bersandar di badan pesawat." Salman menepuk bahunya, sambil tersenyum.
**
Tepat pukul enam, pesawat yang di tumpangi Salman dan Wulan mendarat dengan selamat, di bandara internasional.
Keduanya berjalan menuju tempat kedatangan. Senyum merekah, dan tangan yang melambai dari sekumpulan orang yang lain adalah keluarga mereka.
"Alhamdulillah. Akhirnya kalian sampai juga." ucap mommy dan Daddy bersamaan. Mereka saling melempar senyum dan berpelukan erat. Seolah sudah lama tidak bertemu.
Keluarga Salman juga ikut menjemput mereka. Karena mereka sangat merindukan keduanya. Terlebih merindukan perut gendut Wulan.
Setelah puas melepas rindu, mereka berjalan beriringan menuju mobil terparkir. Wulan tak dibiarkan membawa kopernya sendiri. Karena mereka tidak ingin ia kecapekan.
__ADS_1
❤️❤️