Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
178. Bidadari hidupku


__ADS_3

Keluarga Wulan duduk di tempat yang sudah disediakan untuk mereka.


Tak berselang lama setelah kedatangan Wulan sekeluarga, rombongan papa Reyhan dan rombongan papa Adam juga hadir.


Kini mereka sedang bersalaman dengan yang empunya rumah. Lalu berjalan ke arah mereka, sesuai arahan papa Andre.


Sebagai menantu yang baik, Wulan segera berdiri dan menyalami keluarga suaminya. Lalu mempersilahkan mereka duduk.


Terlihat mereka tengah bercakap-cakap sembari menunggu acara di mulai.


Leon hanya diam, dengan pandangan yang intens mengarah pada Fatim. Gadis itu terlihat cantik dengan balutan gamis warna navi dan jilbab warna biru muda. Leon tak menyangka jika warna bajunya ternyata sama dengan yang di pakai Fatim.


Fatim bergerak dan tak sengaja menoleh ke arahnya. Ia terkejut mengetahui jika dirinya sedang ditatap oleh pemuda bule itu.


'Apa dia sejak tadi menatap ku seperti itu?' batin Fatim diiringi jantung yang berdegup kencang.


Sekali lagi ia menoleh, dan melihat Leon tersenyum ke arahnya. Wajahnya seketika bersemu merah.


Tamu undangan telah memenuhi kursi yang telah disediakan. Acara pun siap di mulai. Seorang MC membacakan susunan acara. Lalu mulai menginjak acara yang pertama.


Semua mengikuti satu persatu acara dengan baik. Sehingga acara pada malam hari itu berjalan dengan lancar.


Saat tamu dipersilahkan mengambil hidangan, Leon berada di dekat Fatim, dan membisikkan sesuatu.

__ADS_1


"Terima kasih untuk semua yang kamu lakukan untukku. Do'akan aku agar bisa menjadi seorang mualaf yang baik, dan bisa membina rumah tangga yang baik bersama dengan bidadari penyelamat hidup ku."


Wajah Fatim seketika bersemu merah mendengar ucapan Leon. Entah mengapa kata-kata itu seperti ditujukan untuk dirinya. Karena dialah wanita yang menyelamatkan hidup pria dihadapannya.


Tapi seketika ia membuang nafas, karena takut jika ia terlalu menghayal. Yang bisa membuatnya sakit hati. Fatim hanya bisa mengangguk, dan segera berlalu meninggalkan Leon.


Keseruan acara aqiqah pada malam hari itu akhirnya selesai. Satu persatu tamu undangan mulai meninggalkan tempat acara.


Sengaja keluarga itu pulang belakangan. Agar tidak terlalu antri di tempat parkir. Mereka kembali bercakap-cakap.


'Kamu cantik sekali malam ini wahai bidadari penyelamat hidup ku.' sebuah pesan Leon kirimkan pada Fatim.


Merasa handphonenya bergetar, Fatim segera membuka aplikasi warna hijaunya, dan membulatkan matanya ketika melihat Leon lah yang mengirim pesan untuknya. Padahal jarak mereka hanya terpisah oleh dua kursi. Wajahnya kembali memerah ketika membaca isi pesan tersebut.


'Ada-ada saja dia itu.' batin Fatim dan sengaja tak membalasnya.


'Aku tahu, kamu juga memiliki perasaan seperti apa yang ku rasakan. Apakah aku boleh berkunjung ke rumahmu bersama dengan kedua orangtuaku?'


Fatim kembali membuka handphonenya, ketika merasakan benda pipih itu bergetar lagi. Mulutnya menganga ketika membaca isi pesan dari Leon.


'Astaghfirullah. Apa sih maunya tuh, bule?' Fatim menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.


"Fatim, kamu kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?" Mama Tiwi mencolek sebelah pipi Fatim yang bersemu merah. Membuat gadis itu terkejut dan dengan cepat menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Fa-Fatim, tidak apa-apa kok, ma. Ayo kita segera pulang." ajak Fatim sambil bangkit berdiri.


Mau tak mau mamanya juga ikut bangkit dari duduknya, lalu sekeluarga nya berpamitan pada keluarga sahabatnya itu.


"Kamu kenapa sih, Fat. Tiba-tiba mengajak pulang. Padahal kami sedang seru-serunya mengobrol." Mama Tiwi menoleh sebentar memperhatikan wajah anaknya, ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Eh, Fatim tadi... cuma mengantuk saja, ma. Ingin buru-buru tidur." kilah gadis itu.


Ia tidak ingin kedua orang tuanya mengetahui tentang apa yang dialaminya sekarang. Entah kenapa ia tidak memiliki keberanian untuk menceritakan semuanya.


"Kamu itu tidak pandai berbohong, Fat. Ayo buruan cerita. Kami tak sabar menunggu cerita dari mu." desak mama Tiwi lagi.


"Pasti anak kita sedang terkena virus merah jambu, ma." timpal papa Adam.


Ia mengetahui aktivitas anaknya selama berada di rumah sakit. Ia tidak melarang jika anaknya ada rasa dengan Leon. Karena pemuda itu telah menjadi seorang mualaf.


"Oh, pasti dengan lelaki itu." Mama Tiwi langsung paham dan tersenyum menggoda anaknya, hingga Fatim tersipu malu.


Sesampainya di rumah, Fatim segera membersihkan diri lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Masih jelas dalam ingatannya tentang pandangan dan senyuman Leon yang intens padanya. Ia kembali membaca chat dari si bule yang belum di hapus.


"Ya Allah, apakah dia benar-benar menyukai ku? Atau cuma prasangka ku saja?" gumamnya.


Sedangkan di tempat lain, yang baru saja sampai rumah, juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Fatim.

__ADS_1


Ia membuka galeri handphonenya, dan memandang lekat foto dirinya dengan dokter muda itu.


"Aku ingin menjadikan mu bidadari di hatiku. Semoga Tuhan mengijinkan." gumamnya sebelum terlelap tidur.


__ADS_2