
"Kak, lihat deh. Ini foto anaknya Wulan. Cantik banget ya." ucap Fatim sambil memperlihatkan foto bayi pasangan Salman dan Wulan di handphonenya.
"Iya. Nanti kalau anak kita sudah lahir, kalau perempuan cantiknya juga seperti kamu, dan kalau laki-laki tampan nya juga seperti aku." Fatim menoleh ke arah suaminya sambil terkekeh kecil.
"Percaya diri sekali kamu, kak."
"Tentu dong, percaya diri itu lebih baik, dari pada minderan."
"Hem. Oh iya, kita ke Indo yuk. Aku ingin menjenguk bayinya Wulan."
"Kapan?"
"Kakak bisanya kapan?"
"Mungkin lusa." ucap Leon setelah sejenak berpikir.
"Iya, tidak apa-apa kak. Aku mau."
"Okay. Nanti aku siapkan dulu tiketnya. Sekarang, aku mau tengok anak kita di dalam perut." Leon mulai memeluk Fatim, lalu mengecupnya.
"Tidak perlu di tengok. Sebentar lagi juga akan lahir kok." Fatim pura-pura menjauhkan tangan suaminya.
"Itu masih dua bulan lagi, dan aku sudah sangat tidak sabar." ucap Leon dengan suara yang mulai parau, dan tidak lagi mendengarkan suara Fatim.
Tangannya sudah mulai bergerilya, demi mendapatkan apa yang ia mau. Ia melakukannya dengan hati-hati. Agar tidak menyakiti anaknya yang ada di dalam perut istrinya, yang sudah begitu buncit.
Meskipun perutnya sudah membesar, Fatim masih bisa melayani suaminya dengan baik. Setelah dua jam, akhirnya keduanya menyudahi acara tengok bayi pada malam hari itu.
__ADS_1
Leon benar-benar merasa terpuaskan. Hingga ia mengecup kening dan perut Fatim berkali-kali. Tak lupa ia juga menghapus peluh di wajah Fatim.
"Mas, dimana bajuku tadi? Tolong ambilkan."
"Ada di bawah tempat tidur. Tidak usah di pakai. Kita selimutan saja berdua. Toh sebelum subuh kita mulai lagi kan?" Leon mengerlingkan matanya nakal.
"Ish, kamu itu deh, mas. Benar-benar."
"Lhoh, kita kan sudah halal. Jadi, ya sah-sah saja dong. Lagian aku juga tahu, kalau berhubungan di trisemester akhir itu baik untuk kehamilan. Bisa memperlancar proses persalinan. Masa, kamu yang seorang dokter tidak tahu itu. Atau memang sebenarnya tahu, tapi tidak mau berterus terang dengan ku. Iya kan?"
Leon menowel hidung Fatim. Ibu hamil itu tersenyum malu. Memang benar sekali apa yang dikatakan suaminya itu. Ia memang lebih pemalu.
Soal hubungan di atas tempat tidur, memang Leon lah yang sering mengajaknya duluan. Berbeda dengan Wulan dan Salman. Keduanya sama-sama saling menawarkan diri. Agar pasangan merasa jika kita memang butuh dirinya.
**
"Ma, pa. Kami ingin menjenguk anaknya Wulan dan Salman. Apakah kalian mau ikut?" tanya Leon, disela-sela aktivitas makannya.
Mama Margaretha dan papa Marco sejenak saling beradu pandang, lalu mengangguk.
"Kapan rencananya?"
"Bagaimana kalau lusa, pa. Bukan kah dalam minggu-minggu ini kita ada beberapa rapat penting dengan perusahaan lain. Tentu masih sibuk."
Semenjak menikah, Leon memang mengalami perubahan. Apalagi setelah tahu istrinya hamil. Ia benar-benar berusaha menjadi laki-laki dewasa yang bertanggung jawab.
Ia mulai tekun dan serius bekerja. Setiap Minggu, ia mengajak keluarganya mengikuti pengajian yang diadakan di masjid, yang cukup jauh dari tempatnya.
__ADS_1
Meskipun cukup jauh, dan diadakan di pagi hari, mereka tampak bersemangat untuk menghadiri. Karena itu adalah salah satu cara mereka, bisa mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan agama. Selain dari live streaming atau google.
Fatim yang berada di rumah juga membaca buku-buku tentang keyakinannya. Setelah itu ia tularkan pada suami dan mertuanya pelan-pelan.
Papa Marco kembali berpikir sejenak tentang ucapan Leon. Lalu menganggukkan kepalanya.
"Betul juga apa katamu. Papa hampir saja lupa, jika tidak kamu ingatkan."
Mama Margaretha tersenyum dan bersyukur, anak semata wayangnya bisa berubah. Semua itu tak luput dari peran menantunya yang banyak mengingatkan suaminya.
Sarapan pagi mereka telah selesai. Papa Marco dan Leon berpamitan berangkat ke kantor. Fatim dan mama mertuanya mengantar mereka sampai ambang pintu.
Setelah kedua lelaki yang sangat mereka cintai sudah melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah, Fatim dan mama Margareth kembali masuk rumah. Untuk membersihkan meja makan. Setelah itu, barulah keduanya menyulam.
Fatim sangat senang sekali menyulam. Dia bisa merajut karena mendapat bimbingan dari mama mertuanya.
Dulu ia sudah berhasil membuat sebuah syal yang indah berwarna merah. Kali ini ia akan melanjutkan merajut sebuah sweater untuk anak-anak. Sweater itu juga berwarna merah.
"Fatim, mama sudah persiapkan semua peralatannya. Kamu susul mama ke belakang ya, sambil bawa minuman dan cemilan. Mama tidak ingin bayimu kelaparan." teriak mama Margareth.
Fatim mengulas senyum sambil geleng-geleng kepala, mendengar perintah mertuanya. Padahal mereka baru saja menghabiskan sarapan paginya.
Meskipun begitu, ia tetap melaksanakan perintah mama mertuanya. Ia mengambil minuman dan cemilan dari dalam lemari pendingin.
❤️❤️
__ADS_1