
Sepanjang perjalanan pulang, Wulan terus menyunggingkan senyum. Membayangkan hal yang terjadi di pernikahan Aisyah.
Ia masih tak percaya ada lelaki tampan yang memiliki sejuta pesona. Dan yang paling penting, acuh terhadap kehadirannya. Hal itu membuat Wulan semakin tertantang untuk mengetahui seluk-beluk tentangnya.
Dengan melenggang santai, Wulan memasuki rumah mewahnya yang bak istana.
"Genduk ayu, apa yang terjadi dengan mu?" seorang wanita yang tengah duduk santai memainkan handphonenya terperanjat kaget melihat kehadiran Wulan.
"Mommy." seru Wulan dengan mata yang berbinar. Ia menghambur ke pelukan mommy nya dengan senyum sumringah.
"Wulan, apa yang terjadi dengan mu?" mommy memperhatikan penampilan putrinya dari ujung kepala ke ujung kaki, lalu balik ke atas lagi, sambil mengernyit heran. Apalagi Wulan tampak tersenyum sumringah.
"Memang apa yang terjadi dengan Wulan? Ngga ada apa-apa kan?" Wulan memperlihatkan dirinya baik-baik saja.
"Tapi, baju siapa yang kamu pakai ini?" Kemana bajumu yang tadi?"
"Wulan buang ma, udah kotor kena kuah opor."
"Lalu ini, baju punya siapa?"
"Tebak dari siapa hayo?" Wulan justru membuat mommy nya semakin bingung.
__ADS_1
"Good afternoon." sapa seorang laki-laki yang baru saja masuk rumah. Membuat kedua wanita itu menoleh ke arahnya lalu saling melempar senyum.
"Daddy." seru Wulan sambil memeluk ayahnya.
"Tunggu sebentar." Daddy mengurai pelukan dan memperhatikan penampilan putrinya dari atas sampai bawah. Sebagaimana istrinya tadi yang mengernyit heran.
"Kostum apa yang kamu pakai baby?"
"Oh, ceritanya panjang Dad. Tapi ngga apa-apa kan Wulan sesekali pakai."
"Kamu seperti orang kedinginan."
"Iya Dad, Wulan kedinginan. Ya sudah Wulan tinggal ke kamar dulu ya, bye."
**
Sementara itu di tempat lain, hati yang berbunga-bunga juga tengah dirasakan oleh pasangan pengantin baru, yakni Aisyah dan Fatih.
Setelah melewati acara resepsi yang panjang dan di tambah lagi masih menemui tamu yang hadir terlambat, membuat keduanya merasakan capek.
Namun hal itu tak membuat keduanya melupakan kewajibannya. Aisyah ingin menjadi istri yang berbakti pada suaminya.
__ADS_1
"Aku telah menyiapkan air hangat untukmu, mandilah. Agar rasa capek di badan mu hilang." ucap Aisyah sambil tertunduk malu.
"Iya Ai, terima kasih."
Setelah Fatih keluar dari kamar, Aisyah duduk di tepi ranjang. Dengan perasaan yang tak bisa diartikan. Ia terus beristighfar untuk menenangkan hatinya.
Sekian menit berlalu, Fatih telah kembali ke kamar, yang bertepatan dengan adzan Maghrib. Ia pun berpamitan pada istrinya untuk pergi ke masjid yang ada di samping pondok. Dengan diiringi senyum, aisyah mengangguk mengijinkan suaminya.
Setelah sholat Isya', barulah Fatih pulang. Lagi-lagi ia mendapati istrinya yang masih dalam posisi yang sama, duduk di tepi ranjang. Ia pun memberanikan diri mendekatinya.
"Ai, kamu sudah sholat belum?" tanya Fatih dengan suaranya yang bergetar.
"Sudah." balas Aisyah sambil mengangguk.
Hening sekian menit, sampai akhirnya terdengar suara ketukan pintu.
"Biar aku yang buka mas." Aisyah bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju pintu. Rupanya uminya yang mengetuk pintu. Ia ingin mengajak mereka makan bersama. Aisyah pun mengangguk setuju. Bergegas ia mendekati suaminya lagi.
"Mas, umi mengajak kita makan bersama."
"Iya Ai." keduanya berjalan beriringan menuju ruang makan untuk menikmati makan malam bersama, tanpa sepatah kata pun. Namun, tentu saja hati mereka yang berbicara. Yang mengatakan, 'aku bahagia bersamanya'.
__ADS_1
❤️❤️