Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
136. Mengunjungi oma


__ADS_3

Siang itu Salman mengajak Wulan pergi ke rumah omanya. Untuk mengabarkan rencana keberangkatan umroh. Dengan senang hati Wulan ikut.


Setelah berpamitan dengan keluarganya, mereka berangkat menuju kediaman Oma Rohmah. Tak lupa Salman membukakan pintu untuk Wulan. Lalu mobil lun melaju dengan kecepatan sedang.


Wulan tampak menikmati pemandangan sepanjang jalan menuju kediaman Oma. Hamparan sawah yang luas, terasa begitu menyegarkan mata.


Salman sengaja membiarkan istrinya menikmati waktunya seperti itu. Sampai akhirnya mobil berhenti di depan counter.


"Kamu mau beli pulsa, mas?" Wulan menoleh pada Salman.


"Aku ngga pernah beli pulsa, sih. Orang counter itu punya papa." sahut Salman dengan entengnya.


"Ish, jahat ih. Ternyata papa punya usaha counter ya. Kenapa ngga pernah cerita?" Wulan memukul pelan lengan suaminya.


"Dulu, aku sudah pernah bercerita. Mungkin kamu saja yang lupa. Karena terlalu memikirkan aku." Salman segera keluar mobil, sebelum mendapat pukulan lagi dari istrinya.


Setelah keluar, Salman membukakan pintu untuk Wulan. Salman menggenggam tangan istrinya penuh cinta saat berjalan.


"Fatim." seru Wulan, saat memasuki pelataran rumah, dan melihat gadis yang pernah hadir ke acara pernikahannya tengah duduk bercerita dengan kakeknya.


"Wulan." Keduanya melempar senyum dan berpelukan.


"Kenapa kamu ada di rumah Oma?"


"Aku bantuin kakek ku jualan, Wulan."


"Maa syaa Allah, luar biasa. Kamu gadis hebat." Wulan memuji Fatim dengan wajah yang berbinar.


"Aku masuk dulu ya."

__ADS_1


Setelah berpamitan, Wulan dan Salman menuju rumah.


"Assalamu'alaikum." ucap Oma sambil membukakan pintu untuk cucunya.


"Wa'alaikumussalam. Oma, seharusnya Salman dulu yang mengucapkan. Kan Salman yang bertamu." mereka terkekeh bersamaan.


"Tidak harus seperti itu sayang. Kebetulan Oma tadi dengar suara mobil mu. Waktu Oma tengok lewat kaca jendela, ternyata benar kamu yang datang. Ayo masuk."


Mereka pun saling bersalaman dan mengecup punggung tangan Oma dengan takzim sebelum masuk rumah.


Sementara Wulan dan Salman duduk, Oma ke dapur untuk membuatkan minuman dan cemilan.


Wulan mengedarkan pandangannya menyapu ke setiap sudut rumah yang mungkin luasnya seperti kamar tidurnya.


"Rumah Oma Rohmah memang sederhana. Tidak seperti rumah Oma Ani. Tapi keduanya sama-sama nyaman untuk ditempati. Terkadang aku dan suaminya Aisyah juga sering menginap disini." Salman menjelaskan pada istrinya. Walaupun ia tahu istrinya itu tidak akan menghina rumah omanya.


"Iya, yang penting kenyamanannya. Aku juga senang kok disini. Rumahnya minimalis. Jadi tidak perlu capek-capek membersihkannya. Ada sungai dan sawahnya juga. Kalau aku jenuh, liat pemandangan sawah langsung kembali fresh."


"Terima kasih, Oma. Seharusnya tidak perlu repot-repot.Wulan bisa kok ambil sendiri."


"Tidak apa-apa. Ayo di makan." ulang Oma, mengingatkan.


Wulan tanpa ragu mencicipi kue serabi.


"Enak sekali, Oma. Rasanya gurih. Wulan suka."


Sambil menikmati kue serabi, mereka bercakap-cakap membahas soal umrah. Oma Rohmah, sangat senang ketika mendapat tawaran itu.


Tanpa terasa, suara adzan Dhuhur terdengar. Salman dan Oma berpamitan untuk mengerjakan sholat di masjid.

__ADS_1


Wulan yang sedang berhalangan tidak ikut ke masjid. Melainkan mendekat ke arah Fatim yang tengah melayani pembeli.


"Aku juga mau mencobanya. Buatkan untukku. Saosnya yang banyak. Karena aku suka pedas." pinta Wulan.


"Okay. Tunggu sebentar ya." Fatim segera menyiapkan pesanan Wulan dalam wadah mangkok plastik.


"Nih." ucap Fatim sambil menyodorkan cilok yang mengepulkan asap panasnya.


"Aromanya enak." celoteh Wulan sebelum mencoba.


Ia menusuk cilok yang paling besar lalu menyuap ke mulutnya.


"Enak sekali, Fatim." celoteh nya lagi, sambil menyuap.


Fatim tersenyum melihat wanita yang mampu meluluhkan hati pujaan hatinya itu.


Keduanya bercakap-cakap. Menceritakan perbedaan antara keduanya. Sesekali keduanya juga melempar candaan.


Ketika ada pembeli yang mendekat, Wulan juga belajar untuk melayani. Terasa menyenangkan bisa memiliki teman yang berbeda profesi.


Hingga tak sadar keluarga nya yang tadi pamit ke masjid sudah kembali pulang. Mereka ikut duduk di dekat Fatim dan Wulan.


"Kakek, tidak menyangka lho. Orang bule juga doyan makan cilok." canda kakek Somad. Mereka yang mendengar juga ikut terkekeh.


"Wulan makam apa saja mau, kek. Soalnya sudah lama juga tinggal di Indo. Kakek sudah coba makanan barat belum? Kalau belum, kapan-kapan main ke rumah Wulan ya sama Fatim. Nanti biar mommy buatkan." Wulan menimpali ucapan kakek Somad dengan riang.


Mereka kembali bercanda sambil menunggu pembeli. Dan ketika pembeli datang. Wulan bangkit dari duduknya untuk melayani. Ia sangat luwes melayani pembeli. Padahal itu adalah pengalaman pertamanya.


Pembeli semakin berdatangan ketika melihat yang melayani adalah seorang bule. Bahkan mereka ingin berfoto dengan Wulan. Istri Salman itu menyetujui dengan senang hati.

__ADS_1


Sebuah kebersamaan yang indah jika kita mau membuka hati untuk orang lain.


__ADS_2