
"Anda mengalami gegar otak ringan. Sehingga kami melakukan operasi pada bagian kepala anda, untuk membersihkan otak anda yang terkena cairan darah, akibat benturan keras yang anda alami." jelas sang dokter, yang membuat sekujur tubuh Leon mendadak panas dingin.
Ia paling takut ketika membayangkan berada di dalam ruang operasi, yang terdapat banyak alat-alat yang tajam dan berbahaya. Dan semua alat itu digunakan untuk membuka tempurung kepalanya.
"Kamu kenapa, Leon?" tanya Salman, dan semua orang tengah menatap perubahan wajah Leon yang terlihat ketakutan.
Mamanya Leon segera mendekat dan menenangkannya.
Sedangkan papa nya berbicara pada dokter, jika anaknya sebenarnya sangat takut berada di rumah sakit. Karena seorang teman laki-lakinya dulu pernah meninggal di meja operasi. Hal itu yang membuatnya menjadi trauma dan sangat membenci yang namanya rumah sakit.
Tapi perlahan rasa traumanya itu hilang dan ia merasa nyaman berada di rumah sakit, karena ada Fatim yang sering menjaganya.
"Tenanglah, Leon. Kamu itu baru sakit, sebentar lagi akan sembuh. Lihat, disini banyak orang-orang yang menemanimu." ucap mama Margaretha, sambil menunjuk satu persatu tamunya. Ia mengusap lembut kepala anaknya.
Wulan dan Fatim mendekat ke arah Leon. Keduanya mengukir senyum dan mencoba untuk menenangkannya.
"Leon, kamu itu seorang laki-laki yang kuat. Masa takut sih berada di rumah sakit? Sebentar lagi kamu akan sembuh dan segera pulang kok." ucap Wulan.
"Iya kak, betul apa yang dikatakan Wulan. Di rumah sakit itu tidak seseram seperti apa yang ada dalam pikiran mu. Team medis bekerja untuk menyelamatkan nyawa orang. Mungkin justru lebih horor ketika kamu melihat ku menangis dulu, sehingga make up ku luntur dan kamu justru meneriaki ku seperti hantu." ucap Fatim.
__ADS_1
Kali ini Leon sedikit menyunggingkan senyum, walaupun masih ada rasa takut yang menyelimutinya. Setidaknya kata-kata Fatim tadi cukup mengalihkan pikirannya yang buruk tentang rumah sakit.
Leon kembali membayangkan saat ia dulu bertemu dengan Fatim, dan beberapa kejadian yang telah ia lewati bersama gadis itu. Dan hal itu semakin membuatnya rileks.
Melihat perubahan di wajah Leon, Fatim bersemangat untuk mengajaknya berbicara panjang lebar, untuk menghilangkan rasa trauma di pikirannya.
Mereka yang melihat cukup lega, kondisi Leon berangsur membaik.
Untuk menjaga mental pasien, dokter akhirnya membisikkan kondisi Leon pada papanya. Agar Leon terus diberi nasehat-nasehat dengan cara yang halus, agar trauma yang di alami bisa benar-benar hilang.
Jika rasa traumanya tidak dihilangkan, hal itu akan membuat kinerja otaknya meningkat, dan rasa nyeri di kepalanya akan semakin bertambah hebat.
Papa Marco manggut-manggut dan tidak begitu mempermasalahkan hal itu. Toh, sekarang Leon sudah cukup membaik dan terlihat tenang. Karena ada Fatim yang menghiburnya.
Dokter dan perawat berpamitan keluar pada mereka yang ada di ruangan itu. Tapi Leon tidak mengetahui dan tidak menyadarinya, karena perhatiannya masih terfokus pada Fatim.
Hari sudah beranjak siang, mereka berpamitan untuk pulang. Agar Leon bisa istirahat lebih maksimal. Keluarga Fatim pun juga berpamitan.
Tapi Leon justru dengan terang-terangan meminta Fatim untuk menemaninya. Karena hanya dia satu-satunya dokter yang bisa ia percaya tidak akan melukainya.
__ADS_1
Sejenak Fatim merasa tidak enak dengan permintaan Leon tersebut. Ia pun menoleh pada kedua orang tuanya dan juga pada kedua orang tua Leon.
Demi kebaikan bersama, mereka mengijinkannya untuk menemani Leon.
Tak berselang lama, setelah rombongan yang menjenguk Leon pulang, petugas yang mengantar makanan pun masuk ke ruangan sambil mendorong meja makan. Membawakan jatah makan siang untuk Leon dan kedua orang tuanya.
Dengan sangat manja Leon minta Fatim untuk menyuapinya. Fatim kembali menengok ke arah kedua orang tua Leon, dan keduanya mengangguk mengiyakan.
Akhirnya dengan perasaan tak nyaman, Fatim menyuapi Leon. Dan laki-laki itu terlihat sangat menikmati makanan yang disuapkan Fatim.
Kedua orang tua Leon yang melihat hal itu semakin berpikir bahwa anaknya telah jatuh cinta pada gadis dihadapannya. Karena hanya dia yang bisa membuat anaknya tenang. Gadis yang berbeda keyakinan dengan mereka.
Sebenarnya di dalam lubuk hati Marco dan Margaretha juga menyukai perilaku Fatim. Tidak hanya menyukai perilaku Fatim saja, tapi mereka juga menyukai perilaku kedua orang tua Fatim.
Marco dan Margaretha juga berpikir, akankah cinta anaknya bisa bersambut? ataukah justru kandas seperti dulu kala.
Sejujurnya keduanya juga merasa kasian jika nasib cinta anaknya terus menerus tak bersambut.
Jika pun bersambut, bagaimana cara menyatukan perbedaan yang ada?
__ADS_1