
"Dia kan jadi dokter, pa. Tugasnya melayani dan merawat orang sakit. Fatim juga mau sendiri kok. Iya kan, Fat?" Fatim pun mengangguk lemah karena perasaan tidak enaknya.
Kedua laki-laki itu berjalan menghampiri anak-anaknya.
"Terima kasih ya, nak Fatim. Maafkan Leon. Dia memang selalu merepotkan banyak orang." ujar papa Marco dengan lembut.
"Tidak apa-apa, om. Karena sudah ada om yang menemani, saya pamit kembali kerja lagi ya, om."
"Oh iya, silahkan."
"Aku juga mau kembali ke ruangan ku. Kalau ada apa-apa, kabari saja aku."
"Terima kasih, Dam. Aku senang bisa mengenal mu." kedua laki-laki beda kewarganegaraan itu berpelukan sejenak.
"Semoga lekas sembuh ya nak, Leon." ucap Adam sambil menepuk pelan lengan Leon. Pemuda itu menyunggingkan senyum tipis sembari mengucapkan terima kasih.
"Kemana mamamu perginya? Kenapa Fatim yang menemani mu?" tanya Marco pada anaknya, ketika Fatim dan papanya sudah keluar dari ruangan itu.
"Baru di toilet, pa." balas Leon dengan suara yang lirih.
"Fatim itu pasti seorang anak yang baik. Orang tuanya saja juga baik. Kamu jangan terlalu sering memanfaatkan kebaikannya. Papa merasa sungkan."
"Iya, Pa. Fatim itu memang seorang anak yang baik. Bahkan dia juga pintar sekali merawat anakmu. Seumur-umur, baru kali ini mama lihat Leon mau meminum obat." ucap mama yang tiba-tiba sudah berada di belakang suaminya.
"Hah, benarkah?" tanya Marco tak percaya melihat perubahan anaknya.
Tanpa sadar, keluarga itu terus memuji kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan oleh keluarga Fatim.
__ADS_1
**
Sementara itu di tempat yang luas dan berbeda, keluarga Salman dan Wulan akhirnya tiba di bandara.
Mereka kembali mengucapkan syukur, akhirnya bisa kembali ke tanah air dengan selamat. Dengan hati-hati mereka menuruni garbarata pesawat.
Mereka berkumpul dengan rombongan umrahnya, untuk berfoto bersama. Senyum sumringah terpancar di wajah mereka meskipun rasa capek mendera. Mereka pun saling bersalaman dan berpelukan, sebelum pulang ke rumahnya masing-masing.
Di tempat penjemputan, terlihat sopir opa Atmaja sudah berdiri di sana. Bergegas mereka menghampirinya.
"Selamat datang kembali di tanah air, pak, Bu." ucap sopir itu sambil membungkukkan badannya, ke arah majikannya.
"Terima kasih, pak. Ayo kita segera ke mobil." ajak opa Atmaja.
Ketiga orang sopir itu pun membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Lalu membantu membawakan barang-barang majikannya.
Lagi, ucapan syukur keluar dari mulut mereka setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, dan kini sudah sampai di kediamannya.
Para asisten rumah tangganya opa Atmaja, menyambut kedatangan majikannya dengan antusias. Bahkan mereka sampai berdiri teras rumah.
"Selamat datang, tuan, nyonya." ucap mereka sopan dan membungkukkan badannya. Lalu membawakan barang-barangnya yang cukup banyak, ke dalam rumah.
Kini mereka berkumpul di ruang keluarga. Dengan senyum yang terus mengembang dan wajah ceria, mereka membuka oleh-oleh dan memberikan pada seluruh asisten rumah tangganya dengan rata.
Masih ada banyak oleh-oleh untuk karyawan mereka yang bekerja di showroom, dan counter. Untuk tetangga dan untuk teman-teman mereka.
Setelah itu, mereka menuju kamar masing-masing untuk beristirahat sejenak.
__ADS_1
"Terima kasih ya, mas. Sudah mengajak seluruh keluarga ku untuk melaksanakan ibadah umroh. Semoga besok kita bisa gantian, keluarga ku yang memberangkatkan keluarga mu umrah atau naik haji."
"Sama-sama. Kita kan sudah menjadi satu keluarga. Keluarga mu, ya keluarga ku juga. Tidak usaha merasa sungkan atau berpikir macam-macam."
"Hem, baiklah, mas."
"Kamu dulu atau aku dulu yang mandi duluan, mas?" tanya Wulan. Ketika keduanya duduk tepi ranjang.
"Kalau bisa mandi bersama, kenapa harus mandi sendiri-sendiri?" Salman mengerlingkan matanya nakal, membuat Wulan tampak salah tingkah.
Melihat istrinya yang tampak bersemu merah, Salman segera mengangkat tubuh ramping istrinya menuju kamar mandi.
Wulan sangat terkejut dengan ulah suaminya yang tiba-tiba itu. Hingga ia menjerit dan memukul pelan dada bidang suaminya, karena sangat usil. Tapi Salman tak menghiraukannya dan justru bersemangat untuk memandikan istri bulenya.
**
Mama Laura sudah mandi, dan kini tengah duduk di ranjang tempat tidurnya sambil membuka akun media sosialnya. Ia ingin bertemu dengan para sahabatnya karena sudah lama mereka tidak berkumpul.
Ia memberi kabar di grup WhatsApp nya yang hanya terdiri dari empat anggota saja, tentang kepulangan dirinya dari umrah.
Dan ia mengundang teman-temannya untuk ke rumahnya, karena ingin memberikan oleh-oleh untuk mereka.
Matanya membulat ketika, mama Tiwi segera mengabarkan padanya tentang musibah yang dialami oleh Leon.
Hal itu sontak membuatnya terkejut. dan mama Laura pun segera memberitahu pada seisi rumah.
Daddy dan mommy merasa bersalah atas musibah yang menimpa Leon. Karena meninggalkannya di tempat yang cukup asing tanpa memiliki teman.
__ADS_1