
Leon masih duduk terdiam bersandar tembok luar masjid. Sambil menata hatinya, ia mendengarkan setiap percakapan di dalam. Dan, saat orang-orang yang berada di dalam hendak keluar, buru-buru ia menjauh dari tempat itu.
Leon kembali masuk ke mobil, dan melihat dengan seksama gerak-gerik Wulan dan rombongannya. Ternyata mereka akan berwudhu, karena telah memasuki waktu Maghrib.
Tak lama kemudian, adzan dikumandangkan. Ia mencoba mencermati setiap untaian kata yang terdengar indah.
Tidak hanya itu saja, ia juga heran ketika melihat orang-orang yang berbondong-bondong datang ke masjid hendak melaksanakan sholat Maghrib.
Pandangan pemuda itu tak pernah luput dari aktivitas jama'ah masjid. Bahkan ia tetap mengarahkan kamera handphonenya untuk merekam semua kejadian itu.
Beruntung mobilnya parkir agak jauh dari mobil grandpa. Jadi mereka tidak akan tahu jika dirinya tengah memata-matai.
Dan saat mobil Wulan melaju, dengan tangkas Leon membelokkan mobilnya untuk mengikuti Wulan kembali.
Leon lega, ketika akhirnya mobil Wulan bergerak menuju kawasan perumahannya. Ia pun sedikit melambatkan laju kendaraannya dan berhenti di tikungan jalan, agar keluarga Wulan tidak curiga. Setelah memastikan keluarga Wulan masuk rumah, barulah ia melajukan mobilnya menuju kediamannya.
__ADS_1
"Leon, darimana saja kamu? Kenapa pergi ngga bilang-bilang?" mama langsung mencecar Leon dengan pertanyaan.
"Leon pergi ke rumah teman sebentar ma. Dah, Leon mau mandi dulu." balas Leon, dan ia pun segera berlalu menuju kamarnya.
Di dalam kamar, ia masih berpikir tentang apa yang terjadi di masjid tadi, hingga kembali melihat video di handphonenya.
"Lebih baik aku mandi saja. Daripada memikirkan hal tadi, bisa-bisa aku juga ikut-ikutan seperti mereka lagi. Lagian Wulan itu kenapa bodoh sekali sih. Pake acara ngajak grandpa dan grandmanya juga. Amit-amit deh, semoga ngga ketularan." gumamnya, lalu segera beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.
**
"Kenapa kita tidak meminta papa untuk menjemput kita honey?"
"Aku tidak ingin merepotkan mereka honey. Lagi pula kita tidak akan langsung ke rumah, tapi menginap di hotel. Karena hari sudah malam. Aku tidak ingin mengusik ketenangan tidur mereka. Biarlah besok pagi kita yang akan gantian memberikan kejutan untuk mereka."
Mendengar jawaban dari suaminya, mommy Melati tidak lagi bertanya. Baginya menuruti kemauan suami adalah sebuah kewajiban baginya.
__ADS_1
Sebuah mobil taksi berhenti tepat dihadapan mereka. Keduanya pun segera masuk.
"Kita ke Consenvatorium hotel pak." ucap Marquez dengan menggunakan dialeg bahasa setempat. Sopir itu pun mengangguk.
Kedua insan itu saling terdiam dan menggenggam erat jemari satu sama lain.
Dan setelah satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di Consenvatorium Hotel. Yakni hotel bintang lima yang berada di jantung kota dan letaknya yang dekat dengan tempat-tempat wisata.
Hotel yang di lengkapi dengan teknologi kamar yang canggih, seprai mewah, Wi-Fi berkecepatan tinggi gratis, dan bar pribadi. Semuanya juga didekorasi dengan lantai kayu ek dan perabotan krem. Kamar mandi yang luas dilengkapi dengan bilik shower hujan yang besar, bathtub marmer, TV cermin LCD kamar mandi, dan handuk katun mikro.
Semua tamu memiliki akses gratis ke Kesejahteraan Holistik Akasha hotel, yang membentang lebih dari 1000 meter persegi dan menawarkan segalanya mulai dari pijat oriental, pusaran air, Hammam, sauna, kolam Watsu, kolam renang besar, dan area relaksasi.
Para tamu dapat bersantap di Brasserie Conservatorium dan area lounge yang terletak di dalam halaman kaca dan baja. Selain itu, restoran pemenang penghargaan terkemuka di Schilo Van Coevorden, Taiko, menyajikan berbagai hidangan yang terinspirasi dari Asia. Juga terletak di hotel adalah Taiko Bar, di mana para tamu dapat menikmati koktail khas Asia dan sushi. Tamu juga dapat menikmati DJ in-house pada hari Kamis, Jumat, dan Sabtu.
Setelah membayar ongkosnya, keduanya turun dari taksi dan segera berlalu menuju resepsionis. Marquez memilih sebuah kamar presiden suit, yang harga sewa perharinya hampir 12 juta. Harga yang cukup murah untuk seorang pebisnis hebat seperti Marquez.
__ADS_1