
Tak terasa sudah hampir 2 jam mereka melakukan ibadah. Akhirnya ritual sakral itu pun selesai. Satu persatu para jama'ah meninggalkan tempat suci.
Namun Wulan masih dalam posisi yang sama, yakni duduk. Sejak awal sampai akhir, ia berusaha untuk khusu', tapi tetap saja tidak bisa. Hatinya selalu menyangkal setiap ucapan orang yang ada di depan.
"Ayo kita pulang sayang." ucap grandma padanya.
"Iya grandma." Wulan pun bangkit dari duduknya. Dengan langkah gontai ia keluar ruangan.
Tiba-tiba Leon menggandeng tangannya. Sehingga membuat gadis itu sedikit terkejut, lalu menoleh ke arahnya.
"Kenapa kamu memegang tangan ku?"
"Aku melihat mu tampak lesu. Makanya aku menggandeng tangan mu. Siapa tahu kamu butuh seseorang untuk menguatkan mu." Wulan sejenak tertegun dengan balasan laki-laki disampingnya.
'Andaikan yang mengucapkan seperti itu kak Salman. Pasti hatiku sangat senang. Eh, dasar gadis bodoh. Kamu dan dia kan berbeda.' batin Wulan.
Ia menghela nafas panjang. Lalu berjalan mendahului Leon. Lelaki itu segera mengejarnya dan kembali menangkap tangannya.
__ADS_1
Wulan akhirnya pasrah, membiarkan tangan sahabat masa kecilnya memegang tangannya. Seperti dulu saat keduanya bermain bersama.
Leon pun terlihat senang, Wulan membiarkannya melakukan hal itu.
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" usul Leon. Dan semua pun mengangguk setuju.
Leon mengemudikan mobilnya menuju restoran yang tak jauh dari tempat ibadah itu. Setelah sampai, mereka segera mencari tempat duduk.
Sengaja mereka duduk di luar ruangan sembari menikmati lalu lalang kendaraan lewat, dan mata mereka termanjakan oleh pemandangan-pemandangan di sekitar yang tampak indah dengan tanaman bunga yang berwarna-warni.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawakan buku pesanan. Mereka pun segera memesan menu favorit masing-masing.
Saat melewati sebuah meja yang terletak cukup jauh dari tempatnya duduk, ia melihat seorang anak kecil yang memakai jilbab. Tengah duduk sendirian. Karena maraknya kasus penculikan anak, ia berniat menemani anak kecil itu.
"Hai." sapa Wulan sambil tersenyum ramah, hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya. Anak kecil itu membalas dengan senyum pula.
"Boleh Tante duduk disini menemani mu?" Anak kecil itu pun mengangguk.
__ADS_1
"Maaf Tante hanya ingin menemani mu duduk di sini. Karena takut banyak nya kasus penculikan yang terjadi. Setelah orang tua mu datang, Tante akan pergi." ucap Wulan menjelaskan.
"Terima kasih Tante." Anak kecil itu terlihat bernafas lega sambil menyunggingkan senyum yang tulus.
"Dimana orang tua mu cantik?"
"Sedang ke toilet Tante."
"Oh iya, kamu masih kecil kenapa memakai penutup kepala? Apa tidak gerah?"
Wulan yang tak bisa menyembunyikan rasa penasaran langsung bertanya.
"Karena menutup aurat adalah kewajiban setiap muslimah Tante. Mama selalu menasehati ku bila aku tidak mau memakai hijab. Katanya nanti aku akan di hukum neraka yang ada api panasnya. Aku sangat takut Tante."
Anak kecil itu berkata sampai terisak dan mata yang berkaca-kaca. Wulan yang awalnya bergidik ngeri, kini justru garuk-garuk kepala karena anak kecil itu menangis. Ia pun berusaha untuk menenangkannya.
"Maafkan Tante ya. Tante tidak bermaksud membuat mu sedih." ucapnya berulang kali. Sampai akhirnya, seorang wanita mendekati mereka.
__ADS_1
"Anisa, kenapa kamu menangis."
Wulan dan anak kecil itu pun mendongakkan kepalanya melihat ke asal suara. Wulan terkejut ketika wanita yang ada dihadapannya adalah wanita yang pernah ia lihat selama seminggu saat pulang kerja.