Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
182. Merasa seperti sebuah mimpi


__ADS_3

"Maafkan jika mungkin lamaran ini terkesan mendadak. Daripada harus diundur-undur, takutnya malah tidak baik, dan bisa mengundang dosa bagi kami. Saya memang baru saja menjadi seorang mualaf. Pemahaman yang saya miliki tentang agama ini barulah seujung kuku. Tapi in syaa Allah saya akan terus berusaha untuk menjadi seorang mualaf dan suami yang baik." imbuh Leon lagi, karena melihat ketiga pemilik rumah itu hanya diam saja.


"Semua keputusan om serahkan pada putri kami. Karena bagaimana pun juga, dia lah yang akan menjalani kehidupan rumah tangga dengan mu, nak Leon. Fatim, mungkin kamu bisa berikan jawaban mu." setelah menoleh pada Leon, kini papa Adam menoleh pada Fatim.


Gadis itu terlihat menautkan kedua tangannya, karena cukup nervous berada di situasi itu.


Ia tak menyangka, jika Leon melamar dirinya secepat itu. Padahal pagi tadi, ia sudah sempat berburuk sangka padanya. Dan seharian penuh ia terus merutuki nasib dirinya.


Hening sekian menit berlalu. Karena Fatim merasa malu untuk mengatakan jawabannya. Tapi ia harus mengatakannya saat itu juga. Agar sikapnya tidak menyakiti hati laki-laki yang ada dihadapannya.


Sementara Leon sendiri juga mulai menegang. Berkali-kali ia menghirup lalu membuang nafas. Rasa percaya diri yang ia miliki ketika di rumah tadi, mendadak sirna.


'Ya Allah, apakah aku terlalu percaya diri? Kenapa untuk sekedar menjawab, 'ya' saja. Susah sekali?' batin Leon.


Akhirnya Fatim berdehem untuk mengusir kegugupannya. Sementara ketika Leon mendengar sura deheman Fatim, ia semakin nervous.


"Saya, akan berikan jawabannya sekarang." ucap Fatim memulai pembicaraannya.


"Saya, menerima lamaran dari kak Leon." lirih Fatim.


Leon membulatkan matanya, lalu bersorak kegirangan.

__ADS_1


"Hore! Akhirnya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan." seru Leon sambil bangkit berdiri dan merentangkan kedua tangannya.


Semua orang menatapnya sambil geleng-geleng kepala sambil menepuk jidatnya, melihat tingkahnya yang masih seperti anak kecil.


Kedua orang tuanya serempak menarik ujung baju bagian bawah milik Leon, agar anaknya sadar.


Dan benar saja, Leon langsung terduduk. Dengan raut wajah yang merah menahan malu. Ia hanya bisa mengucapkan maaf sambil meringis.


Untuk mengalihkan perhatian mereka yang masih menahan tawa karena ulahnya, Leon mengeluarkan kotak berwarna merah yang cukup besar dari jas nya. Lalu membukanya di hadapan Fatim.


"Fatim, sebagai tanda kamu mau menerima lamaran ku ini. Terima lah perhiasan yang nilainya tak seberapa ini." Fatim mengangguk sambil menundukkan kepalanya.


"Silahkan berdiri Fatim. Aku akan memakaikannya untukmu." Fatim menoleh pada kedua orang tuanya, seolah meminta persetujuan, lalu berdiri.


Lalu Leon pun mengambil cincin berlian bermata pink yang indah. Dan disematkan di jari manis Fatim. Setelah itu, ia mengaitkan sebuah kalung di leher calon istrinya.


Semua bertepuk tangan dan mengucapkan kalimat tahmid. Karena acara lamaran pada malam hari itu berjalan lancar.


Tanpa di suruh, sejak tadi Wulan terus mengabadikan momen itu dalam jepretan kamera handphonenya.


Kini mereka membahas soal hari bahagia bagi kedua calon suami-istri. Karena bagaimana pun juga jarak rumah keduanya sangat jauh. Sehingga harus dipersiapkan lebih matang.

__ADS_1


Terlebih, Marco juga akan mengurus proyek kerja sama dengan rekan kerjanya. Selain itu, mereka juga harus memikirkan kesehatan Leon, yang masih dalam proses pemulihan pasca operasi.


Oleh karena itu, mereka sepakat akan menggelar acara resepsi pernikahan dua bulan mendatang. Tapi, bukan Leon namanya kalau tidak protes. Karena waktu dua bulan, baginya adalah waktu yang sangat panjang dan lama.


"Em, mengulur hari pernikahan itu saya rasa kurang baik. Bagaimana kalau besok kami menikah dulu, pesta pernikahannya belakangan."


"Leon." kedua orang tuanya serempak berkata.


"Apa! Besok?" seru Fatim. Ia mendongakkan kepalanya, dan menatap Leon. Jantungnya kembali berdegup kencang.


"Om, rasa itu adalah hal yang baik. Jika kalian pergi berdua, kami sebagai orang tua Fatim merasa lebih tenang." papa Adam menyetujui rencana Leon.


"Terima kasih sudah menyetujui permintaan anak kami. Dan maafkan bila anak kami memiliki banyak permintaan." papa Marco meminta maaf pada calon besannya.


"Tidak apa-apa." Adam pun menyunggingkan senyum.


Setelah menyelesaikan masalah pernikahan, keluarga Leon pamit pulang. Karena hari juga sudah semakin larut. Keluarga Fatim mengantarkan mereka sampai ambang pintu depan.


"Sayang, mama tidak menyangka. Kamu akan secepat ini menikah." Mama Tiwi mengusap lembut rambut Fatim.


"Em, Fatim juga tidak menyangka, ma." lirih gadis itu.

__ADS_1


"Sayang, sebaiknya kamu segera ke kamar. Persiapkan berkas-berkas penting mu. Dan besok jangan lupa bangun pagi. Karena kita akan berangkat ke KUA juga pagi."


Fatim hanya bisa menganggukkan kepalanya, lalu berjalan menyusuri anak tangga dengan langkah kaki yang pelan. Karena masih merasa semua ini sebagai sebuah mimpi yang indah.


__ADS_2