
Kini, pesta pernikahan di rumah opa Atmaja untuk Salman di gelar. Salman dan Wulan kembali di rias menjadi lebih cantik.
Setelah semua siap dan tak ada yang terlewat, rombongan pengantin itu berangkat menuju kediaman Salman.
Keluarga Fatim juga tengah bersiap-siap menuju ke kediaman Salman. Karena mama Laura memang mengundang mereka untuk kembali datang.
Fatim, saat itu berangkat dari rumah sakit. Karena ia harus profesional dalam mengerjakan pekerjaannya.
Namun naas, taksi online yang ia tumpangi mengalami ban bocor. Padahal sebentar lagi sampai di tempat yang dituju.
Daripada menunggu terlalu lama, ia memutuskan untuk berjalan kaki. Sama sekali ia tidak malu ketika melakukan hal itu, padahal notabenenya ia keturunan anak orang kaya. Toh, jalan kaki juga lebih menyehatkan. Itung-itung sebagai olahraga ringan, pikirnya.
Beberapa rombongan mobil melintas di dekatnya. Tapi hanya satu yang berhenti tepat di sampingnya. Padahal mobil itu tadi sudah melintas, melewati Fatim, tapi kembali mundur. Tampak seorang laki-laki turun dari mobil itu.
"Hai, sedang olahraga ya." sapa Leon sambil tersenyum sumringah.
"Tidak. Baru tidur. Sudah tahu, pakai tanya lagi." sahut Fatim santai. Tapi Leon justru terkekeh.
"Kamu mau kemana? Kali ini aku mode serius nih. Jawabnya juga dengan serius lho."
"Aku mau menghadiri acara pernikahan kak Salman."
"Ya sudah, ayo ikut mobil ku. Masih muat kok."
Fatim mengernyitkan dahi, sambil berpikir.
"Ada kedua orang tuaku juga. Aku tidak akan macam-macam. Memangnya muka ku terlihat menyeramkan ya."
"Menyeramkan itu tidak masalah. Yang jadi masalah adalah manusia yang baik diluar, tapi buruk dalamnya. Bagai singa berbulu domba."
__ADS_1
"Ya ampun. Tuhan. Mimpi apa aku. Ngga kamu, ngga Salman. Semuanya sama saja. Sama-sama membuatku tak berkutik. Jangan lama-lama, ntar kulit mu item lho. Kalau aku kelamaan dibawah sinar matahari tidak apa-apa. Soalnya sudah putih dari sananya."
Leon masih sempat melempar candaan pada Fatim, sebelum akhirnya menarik lengan gadis yang memakai gamis berwarna peach itu.
"Silahkan masuk." Leon membukakan pintu belakang untuk Fatim.
Sesaat gadis itu melongokkan kepalanya melihat siapa yang ada di dalam. Dan ternyata di kemudi belakang ada mamanya Leon.
"Maaf Tante. Tadi kak..." Fatim mengerutkan keningnya lalu menatap Leon. Ia tidak tahu nama laki-laki yang ada di depannya itu.
"Astaga. Kamu ini teman macam apa. Masa nama temannya sendiri lupa. Namaku Leon." Fatim manggut-manggut.
"Tante, tadi kak Leon menawarkan tumpangan untuk saya. Katanya sekalian mau menghadiri pesta di kediaman kak Salman. Apakah boleh?" Fatim meminta ijin pada orang tua Leon dengan sopan.
"Silahkan. Ayo masuk." balas mamanya Leon dengan senyum.
"Terima kasih Tante." Fatim masuk dan duduk disamping wanita yang telah melahirkan Leon. Mobil pun kembali melaju dengan kecepatan sedang.
"Saya Fatim, Tante."
Gadis itu menyalami dan mencium punggung tangan mamanya Leon dengan takzim. Membuat wanita berambut pirang itu memuji dalam hati sikap Fatim yang sopan.
"Saya Margaretha, mamanya Leon. Dan itu Marco suami Tante. Apa kamu masih kerabat dengan suaminya Wulan."
"Bukan Tante. Mama saya menjalin hubungan persahabatan yang baik sejak masa mudanya dengan mamanya kak Salman. Dan kebetulan saya dengan kak Salman itu lahirnya barengan, Tan."
"Oh, lucu sekali. Bisa bareng seperti itu." keluarga Leon terkekeh bersama.
"Oh iya, alian berdua bisa kenal, bertemu dimana?"
__ADS_1
Fatim menatap Leon yang ada didepannya. Seolah-olah meminta saran.
"Baru juga kenal kemarin, ma. Makanya dia tuh lupa sama namaku."
Tante Lusi manggut-manggut sambil mulutnya membentuk huruf O.
"Kamu seorang dokter?" tebak Tante Lusi melihat jas putih yang di bawa Fatim. Gadis itu pun tersenyum sambil mengangguk.
"Bisa dong, obatin anak Tante yang sempat stress karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Karena Wulan menikah dengan pria lain."
"Mama." seru Leon. Tapi mamanya justru terkekeh.
Akhirnya mobil sampai di kediaman megah opa Atmaja. Mereka pun bersama-sama turun.
"Fatim." ucap mama Tiwi, saat mengetahui anaknya keluar dari mobil. Dan yang membuka pintunya adalah seorang laki-laki.
"Mama." Fatim, mengulurkan tangannya mencium punggung tangan ibunya.
Doni dan kedua orang tuanya melihat hal itu.
"Kenapa kamu bisa..."
"Taksi yang Fatim tumpangi bannya bocor. Alhamdulillah ada kak Leon dan keluarganya yang berbaik hati memberi Fatim tumpangan. Sehingga tidak perlu menunggu taksi lain, ma."
"Oh, alhamdulillah. Mama lega."
Keluarga Fatim dan Leon saling berjabat tangan dan mengucapkan terima kasih, karena telah menolong anaknya.
Sambil masuk ke tempat acara, mereka bercakap-cakap. Dan setelah sampai, mereka justru terlihat duduk berdekatan.
__ADS_1
Tak lama kemudian, acara pun segera di mulai. Semua mengikuti acara dengan antusias.
Sepanjang acara, Leon diam-diam memperhatikan Fatim dari samping. Gadis itu terlihat tengah memainkan handphonenya.