
Selama tiga hari di rumah sakit, banyak yang menjenguk opa Atmaja. Tidak hanya rekan kerjanya saja, tapi juga keluarga sahabatnya dan Oma Rohmah.
Mereka mendoakan kesembuhan untuknya dan selalu menyemangatinya, sehingga dalam kurun waktu tiga hari ia sudah kembali sehat. Dokter pun mengijinkan untuk pulang.
Hal itu membuat opa Atmaja sangat senang, karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan baby Maryam yang sangat menggemaskan.
Sesampainya di rumah, ia sudah di sambut oleh cucu dan cicitnya.
"Maryam, buyut ku." Seru opa, saat ia menginjakkan kakinya di teras. Ia menggendong Maryam dan mengangkatnya tinggi.
"Opa, hati-hati. Opa kan belum sembuh benar."
"Siapa bilang? Nih, sudah ketemu obatnya." Kekeh opa Atmaja. Ia duduk di sofa sambil mengecup pipi buyutnya.
**
Di belahan bumi lainnya, mama Margaretha dan suaminya tengah bersiap-siap. Keduanya akan berangkat ke Indo mengunjungi anak dan cucunya.
"Sudah tidak ada barang yang tertinggal kan, ma?" Tanya papa Marco memastikan. Pandangannya menatap ke arah koper yang berdiri di dekat kaki istrinya.
"Aku rasa tidak ada, pa."
"Baguslah. Kalau begitu, ayo kita istirahat dulu."
Dan di rumah sebelahnya, yakni rumah grandpa. Hal yang sama juga tengah berlangsung. Grandpa dan grandma tengah memasukkan baju-baju dan perlengkapan pribadi lainnya dalam koper.
Tak sabar keduanya untuk bertemu dengan anak, cucu, dan cicitnya, meskipun tiap bulannya mereka bertemu. Setelah selesai, keduanya juga bersiap untuk tidur.
**
__ADS_1
Di pagi harinya, grandpa, grandma dan kedua orang tua Leon berangkat bersama menuju bandara. Kedua keluarga itu memang sudah merencanakan ke Indo beberapa hari yang lalu.
"Grandpa dan grandma sudah sarapan belum?" Tanya papa Marco, ketika keduanya sedang duduk dalam taksi online yang mereka tumpangi.
"Sudah. Apakah kalian belum sarapan? Kita bisa mampir dulu." Balas grandpa.
"Sudah, pa. Justru kalau grandpa dan grandma belum sarapan, kami akan mengajak kalian mampir untuk sarapan bersama." Balas papa Marco.
Mereka tampak antusias menceritakan Abidah dan Maryam. Karena sudah lama tidak bertemu dengan bayi-bayi itu. Sehingga tanpa terasa, sudah sampai di bandara.
Dengan santai mereka berjalan beriringan menuju badan pesawat. Tentunya setelah melalui pemeriksaan terlebih dahulu.
**
Setelah sepuluh jam mengudara, akhirnya pesawat yang ditumpangi rombongan grandpa landing dengan mulus di bandara internasional.
Dengan hati-hati grandpa dan grandma melewati garbarata pesawat. Kedua orang tua Leon yang berjalan dibelakang keduanya juga memerhatikan keduanya, bersiap untuk menangkap tubuh mereka jika sewaktu-waktu jatuh. Karena usia keduanya yang sudah senja.
"Sampai bertemu grandpa, grandma." Ucap kedua orang tua Leon.
Setelah saling mengurai pelukan, pasangan sepuh itu masuk ke dalam taksi. Mereka pun saling melambaikan tangannya.
Tak berselang lama, setelah mobil taksi yang ditumpangi grandpa melaju, kedua orang tua Leon juga memasuki mobil taksi yang ada di dekat mereka. Mobil itu bergerak menuju jalan ke rumah besan mereka.
**
"Grandma, grandpa." Ucap Mommy Melati, dengan wajah terkejut. Ketika melihat mertuanya sudah berdiri dihadapannya.
"Grandpa, grandma. Kenapa tidak bilang kalau mau kesini? Melati kan bisa menjemput kalian. Ayo masuk." Mommy Melati menggandeng tangan kedua mertuanya. Mereka berjalan menuju sofa ruang tamu.
__ADS_1
"Kenapa sepi? Bukankah ini weekend?" Tanya grandpa sambil mengedarkan pandangannya.
"Wulan ada di rumah mertuanya. Beberapa hari lalu, opa Atmaja sakit. Kalau Marquez sedang nge-gym. Sebentar ya pa, ma, biar Melati panggilkan dia."
"Honey." Ucap Mommy sambil mendekati suaminya yang sedang treadmill.
"Honey, kamu mau ikut treadmill juga?" Tanya Marquez sambil menyeka keringatnya yang bercucuran, dengan handuk kecil. Mommy Melati menggelengkan kepalanya.
"Lalu, ada apa honey?"
"Aku punya kejutan untukmu. Ayo ikut denganku."
"Oh, ya. Are you really." Ucap Daddy dengan wajah yang berbinar.
Ia segera menekan tombol off, pada alat treadmill nya. Lalu melompat turun, mengikuti istrinya yang sudah lebih dulu berjalan.
"Kejutan apa itu, honey? Apa Wulan hamil lagi? Atau kamu yang hamil?"
Daddy menyeka keringatnya sekali lagi. Dan satu tangannya melingkar di bahu istrinya.
Sedangkan mommy Melati, yang mendengar pertanyaan absturd dari suaminya, seketika menghentikan langkahnya dan menatapnya. Tampak Marquez menyunggingkan senyum tanpa dosanya.
"Ikuti saja jalanku, honey. Nanti kamu juga akan tahu sendiri jawabannya. Selalu saja begitu, tidak sabaran banget sih." Daddy Marquez terkekeh, lalu mengecup pipi istrinya.
"Ish, kamu kan bau asem. Kebiasaan deh." Mommy Melati mengusap pipinya yang terkena keringat suaminya.
"Namanya kebiasaan, jelas tak bisa dirubah. Apalagi kita selalu berduaan. Bisa langsung traveling otakku."
"Ingat, sudah punya cucu."
__ADS_1
"Hahaha. Ku pikir aku masih seorang perjaka." Daddy Marquez terkekeh lebar.