
Sementara papa Marco dan Margaretha tengah dalam perjalanan menuju Indo. Leon tengah terbaring di meja operasi.
Dokter akan melakukan operasi untuknya, setelah sebelumnya mereka mencukur rambut Leon dengan bersih. Agar tidak terjadi kontaminasi pada bagian dalam kepala.
Hampir dua jam berlalu, team medis memperjuangkan nyawa Leon lewat tindakan operasi. Dan akhirnya operasi itu telah selesai.
Fatim dan keluarganya bergegas mendekat, ketika melihat pintu operasi dibuka. Dan menanyakan kondisi Leon pada team medis yang bertugas.
Semua berucap syukur ketika mendengar operasi itu berhasil. Setelah itu, team medis memindahkan Leon sambil menunggu nya sadar.
Semalaman Fatim tak bisa tidur. Ia terus berada di samping Leon. Jika sewaktu-waktu laki-laki itu membutuhkan bantuannya. Tapi, sampai mendekati waktu subuh Leon belum juga sadar.
**
Setelah melewati sepuluh jam perjalanan udara, akhirnya kedua orang tua Leon tiba di Indo. Bergegas keduanya mencari taksi yang akan mengantarkan mereka menuju ke rumah sakit.
Mereka melihat mobil berwarna biru muda yang berjejer rapi. Keduanya segera mendekati mobil itu dan mengatakan maksud tujuannya. Lalu segera masuk dan menghempaskan tubuhnya di kemudi belakang.
Mereka tertidur di dalam taksi karena rasa lelah yang mendera keduanya, setelah melewati perjalanan panjang tanpa istirahat.
"Pak, Bu. Kita sudah sampai di rumah sakit Mangun Cipta."
Sopir berulang kali membangunkan keduanya. Dan akhirnya mereka menggeliat, lalu seketika teringat dengan Leon.
"Terima kasih, pak. Maaf kami ketiduran." ucap papa Marco merasa sungkan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, pak." balas sopir dengan senyum ramahnya.
Setelah membayar tarifnya, dan mengeluarkan kopernya. Mereka pun berjalan beriringan menuju kamar dimana Leon berada. Sesuai dengan petunjuk yang di kirim oleh papanya Fatim.
Jantung keduanya berdegup kencang ketika berdiri di depan ruangan yang petunjuknya ada di dalam handphone tadi. Dengan sedikit ragu dan perasaan was-was, mereka memutar handle pintu.
Terlihat Fatim dan kedua orang tuanya tengah mengelilingi Leon. Mereka pun menoleh dan menatap kedua orang tua Leon yang berdiri di ambang pintu.
Seulas senyum tersungging di wajah mereka, walau sebenarnya hati mereka sedang tidak baik-baik saja.
Mereka saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri. Fatim tak lupa mencium punggung tangan mamanya Leon, karena merasa wanita itu seumuran dengan ibunya, yang patut dimuliakan dengan cara seperti itu.
Setelah itu kedua orang tua Leon mengamati anaknya yang masih menutup mata berada, tergolek lemas di atas brankar.
"Terima kasih atas bantuan kalian. Maaf sebelumnya aku menuduh kalian yang tidak-tidak." timpal papa Marco.
"Tidak apa-apa. Antisipasi itu penting juga kok." papa Adam menyunggingkan senyum tipis.
"Beristirahatlah dulu. Pasti kalian capek setelah menempuh perjalanan panjang dan lama. Jika nanti Leon sudah sadar, kami akan membangunkan kalian."
"Terima kasih. Tadi kami sudah istirahat sejenak di dalam taksi. Untung saja sopirnya membangunkan kami."
Mereka pun duduk mengelilingi Leon, sambil bercakap-cakap. Berharap dengan mendengar suara yang berisik, Leon bisa segera sadar dan menunjukkan perkembangan yang baik.
Setelah hampir tiga puluh menit berlalu, terdengar suara ketukan pintu. Lalu perlahan pintu itu dibuka. Mereka refleks menoleh ke asal suara.
__ADS_1
Terlihat seorang perawat mengukir senyum tipis ke arah mereka sambil mendorong meja makan.
"Permisi, pak. Ini makanannya sudah siap semua." ucap perawat itu dengan membungkukkan badannya dihadapan Adam.
"Terima kasih, sus. Kamu bisa kembali bertugas." titah papa Adam.
"Baik, pak." perawat itu kembali membungkukkan badan sebelum keluar.
Melihat hal itu mengundang tanda tanya di hati kedua orang tua Leon.
"Sepertinya anda sangat disegani di rumah sakit ini." ucap papa Marco, dan Adam hanya menanggapi dengan senyum tipis. Sengaja ia tidak berkata yang sebenarnya, jika itu adalah rumah sakitnya.
"Saya yakin anda belum sarapan. Mari kita makan bersama." tawar Adam.
"Terima kasih, pak. Tapi sepertinya kami kurang berselera makan." kali ini mama Margareth yang menjawab. Papa Adam menyunggingkan senyum tipis.
"Itu sangat wajar, bu. Siapa pun yang menunggu orang sakit, pasti seperti itu. Tapi kita harus bisa berpikir realistis. Tetap menjaga kesehatan, agar orang yang kita jaga juga lekas sembuh. Bukan malah ikut-ikutan tidak makan. Takutnya nanti kita juga malah sakit."
"Ayo, kami temani makan. Mubadzir kalau perawat sudah menyiapkan makanan sebanyak ini tapi tidak di makan." imbuh papa Adam lagi. Lalu ia pun bangkit dari duduknya.
Akhirnya kedua orang tua Leon juga berdiri. Mereka mengambil makanan yang sudah tersedia.
Menurut kedua orang tua Leon, makanan yang disajikan di rumah sakit itu menunya sangat lezat. Seperti masakan rumahan.
Memang papa Adam sengaja melakukan itu semua untuk kenyamanan keluarga Leon.
__ADS_1