
"Hah. Tidak-tidak. Maksud Leon bukan seperti itu, kek. Meskipun berbeda, tapi rumah kakek ini sungguh asri, hawanya sejuk. Berbeda dengan di daerah tempat tinggal Leon, cukup panas hawanya."
Kakek Somad terkekeh kecil, menanggapi ungkapan hati pria bule dihadapannya.
"Kalau begitu, menginap saja disini sementara waktu."
"Boleh, boleh." Leon mengangguk antusias.
"Fatim, kapan kamu datang." Pekik nenek Siti.
Wanita sepuh yang memakai jilbab navy itu berlari kecil mendekati cucunya yang tengah duduk anteng di sofa tamu.
"Nenek." Pekik Fatim, ia berdiri lalu merentangkan tangannya dan bersiap memeluk neneknya.
"Fatim, kangen banget sama nenek." Ucapnya ketika sudah berpelukan dengan nenek Siti.
"Sama, sayang. Nenek juga kangen sekali dengan mu."
Keduanya saling mengurai pelukan, lalu perhatian nenek tertuju pada perut buncit cucunya. Ia pun bertanya hal yang sama, seperti yang dilontarkan suaminya tadi.
"Berapa usia kandungan mu?" Nenek mengusap lembut perut cucunya.
"Tujuh bulan nek?"
"Oh, sebentar lagi akan melahirkan. Tak sabar rasanya bisa menggendong cucu." Ucap nenek dengan wajah yang berbinar.
"Cicit, nek." Ralat kakek Somad. Yang membuat mereka terkekeh.
__ADS_1
"Ah, iya. Cicit maksudnya. Sudah tua sekali aku. Sampai lupa menyebut nama."
"Kamu juga belum membuatkan minuman dan menyediakan cemilan untuk cucu kita." Kakek Somad mengingatkan.
"Hem, bukan kah kamu duluan yang mengetahui kedatangan cucu kita. Aku kan baru selesai mandi sore."
"Sudah, sudah. Biar Fatim sendiri yang ambil minumannya. Kakek sama nenek duduk saja, menemani kak Leon."
"Nenek tidak akan membiarkan mu kerepotan mengambil minum sendiri. Ayo nenek temani."
Nenek Siti merangkul bahu cucunya. Lalu keduanya berjalan menuju dapur. Sedangkan kakek dan Leon yang duduk di sofa bercakap-cakap.
"Nenek masak apa? Baunya enak sekali." Hidung Fatim kembang kempis mengendus aroma yang menguar di dapur.
"Pindang ikan. Kamu mau makan sekarang?"
Sebentar lagi akan memasuki waktu sholat Maghrib. Waktunya tidak akan cukup untuk menikmati makan dengan santai.
"Nanti saja nek, setelah sholat Maghrib."
"Baiklah kalau begitu. Suamimu sukanya minum apa? Nenek bingung mau menyuguh nya." Fatim terkekeh memberi reaksi pada neneknya.
"Dia minum apa saja mau, nek. Bahkan air putih pun ia tak menolak."
"Ah, kamu jangan bercanda. Masa jauh-jauh datang dari Belanda, kesini cuma nenek suguh pakai air putih. Lagian kamu ini kenapa tidak memberi kabar dulu jika mau kesini? Nenek kan bisa membuatkan mu sesuatu yang pantas untuk disuguhkan."
"Tidak perlu repot-repot, nek. Kita kesini karena kangen, sudah lama tidak bertemu kakek dan nenek. Jadi ingin melepas rindu." Sekali lagi, Fatim memeluk neneknya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Fatim membawa nampan berisi es sari jeruk dan cemilan. Lalu menghidangkannya di atas meja.
Kedua pasang suami-istri itu saling bertukar cerita, hingga samar-samar terdengar suara adzan. Kakek Somad mengajak mereka untuk ke masjid, yang berada di tengah perkampungan.
Mereka pun menyetujuinya, lalu bangkit berdiri untuk bersiap-siap. Karena jaraknya yang cukup dekat, kakek mengajak mereka jalan kaki.
Leon senang dan begitu menikmati sepanjang perjalanan menuju masjid. Rumah warga yang mungil-mungil tampak berbaris rapi, dengan temaram lampu berwarna keemasan.
Bayangan pepohonan dan aneka bunga, yang tumbuh subur di halaman rumah warga, juga menjadi daya tarik tersendiri.
Bulan dan bintang yang menghiasi langit malam, juga menjadi penerang jalan bagi mereka. Sungguh suasana desa di malam hari yang begitu menyenangkan.
Sesampainya di masjid, Leon sedikit terkejut, ketika melihat rumah Allah yang bentuknya cukup kecil. Lagi-lagi, kalah jika dibandingkan dengan luas kamarnya.
Sementara itu, suami dari Fatim terus menjadi pusat perhatian. Hingga jama'ah perempuan, lebih banyak berbisik membicarakan dirinya.
Hal itu lumrah saja terjadi, karena ia bukan warga asli Indo. Tapi Leon yang menjadi pusat perhatian, hanya menanggapi semua itu dengan biasa saja. Karena menganggap dirinya bukan lah seorang artis.
Kini sholat Maghrib berjamaah pun dimulai. Jamaah perempuan, terpaksa menghentikan aksinya membicarakan Leon, dan fokus menunaikan ibadah sholat.
Meskipun tempat ibadah itu kecil, tapi tidak mengurangi kekhusyukan dalam beribadah. Termasuk Leon dan Fatim, yang memanjatkan doa dengan khusu', hingga matanya terpejam.
Keduanya sadar, jika dirinyalah bukanlah apa-apa tanpa pertolongan Allah. Leon semakin mengucap syukur, karena memiliki tempat tinggal yang layak dan nyaman untuk ditempati. Ia juga bersyukur memiliki istri, dan tidak kesulitan untuk bisa mendapatkan anak.
Masih banyak lagi hal-hal lainnya yang tak bisa mereka jabarkan satu persatu. Tapi intinya mereka sangat bersyukur.
Sholat telah usai, mereka berjalan beriringan menuju rumah kakek Somad. Dan hati Leon tergelitik untuk melakukan suatu hal pada masjid di desa kakek Somad.
__ADS_1