Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
166. Belajar beribadah


__ADS_3

Setelah sholat Maghrib selesai, dilanjutkan dengan tausyiah singkat. Dan setelah itu, semua menuju ke ruang makan untuk menikmati makan malam.


Sedangkan Romi dan Ronald, kembali ke rumah. Karena tak ingin keduanya membuat kegaduhan saat jam makan berlangsung.


Sesampainya di rumah. Keduanya beradu pandang, melihat di atas meja ada tudung saji.


Dengan penuh semangat, Romi membukanya. Karena perutnya semakin melilit. Matanya membulat ketika melihat nasi, dua potong tahu dan dua potong tempe, serta sayur bayam. Dan semua itu diletakkan dalam wadah mangkok plastik.


"Apa-apaan ini!" dengan penuh amarah, Romi melempar tudung saji itu.


"Cepat habiskan. Jangan banyak protes. Sebentar lagi kembali ke masjid untuk sholat Isya'." tegur asisten Marco.


Akhirnya mau tidak mau, mereka menuang sayur ke piring nasi dan mulai menyuap.


Tiba-tiba seorang anak remaja mendekat ke arah asisten Marco membawa dua plastik besar.


"Tuan, ini untuk anda dan teman-teman anda. Dari tuan Marco."


"Hem, terima kasih."


Asisten itu membawa dua plastik besar nasi box ke dalam. Dan membagi pada rekan satu teamnya.


Ketika membuka box, aroma spaghetti bolognese langsung menusuk indera penciuman, yang membuat lapar. Mereka menyantap makanan itu dengan lahapnya.


Ronald dan Romi membandingkan makanan yang mereka makan dengan yang di makan oleh bule berwajah sangar dihadapannya. Lalu menelan saliva. Karena keduanya juga ingin makanan itu.


Setelah sholat Isya', barulah keduanya duduk di masjid dengan bersila bersama Haji Dahlan dan papa Andre. Sementara asisten Marco berjaga dan mengawasi mereka dengan jarak yang cukup dekat.

__ADS_1


"Pak Ronald, nak Romi. Mulai malam ini kita belajar sedikit demi sedikit tentang agama kita ya. Tadi saat sholat, kalian berdua sempat berbicara. Dan itu tidak boleh dilakukan. Bisa membatalkan sholat kita."


Papa Andre mulai menyampaikan ilmu secara perlahan-lahan. Tapi pasangan ayah dan anak itu tidak begitu memperhatikan, dan justru memainkan jemarinya.


Terkadang juga mendongakkan kepalanya memindai ke sekitar ruangan masjid. Di beberapa tempat, anak-anak remaja memang tengah membentuk halaqoh.


Asisten Marco yang mengetahui tingkah keduanya, kembali menodongkan senjatanya. Agar mereka memperhatikan Andre yang tengah menyampaikan ilmu.


"Pak, ini sudah jam sembilan. Kapan kita akan tidur?"


Bukannya bertanya sesuatu yang berhubungan dengan apa yang disampaikan, Romi justru bertanya tentang hal lain.


"Sekarang boleh tidur, nak. Tapi ingat ya, jam dua bangun untuk mengikuti sholat malam bersama."


"Jam dua siang kan?" tanya Romi lagi pada Andre.


"Bukan, tapi jam dua malam."


"Itu masih malam. Kalau jam delapan saja bagaimana?" Romi coba bernegosiasi.


Haji Dahlan dan papa Andre mengulas senyum.


"Kamu bisa ketinggalan sholat subuh dong." ucap pak Andre.


"Tenang, ustadz. Urusan membangunkan, serahkan pada saya. Jika mereka tidak mau bangun, maka akan kami tembak saja. Biar bisa tidur selamanya." asisten Marco yang mendengar percakapan itu ikut menimpali. Bahkan tak ragu untuk kembali mengeluarkan senjatanya.


**

__ADS_1


"Ada apa sih, pa?" tanya mama Margareth pada suaminya, ketika melihatnya tergelak sambil memegang handphonenya.


"Nih, ma. Lihat." Marco memperlihatkan video Ronald dan anaknya saat mengikuti kegiatan di pondok pesantren.


"Memang berapa lama mereka disana, pa?"


"Sampai mereka mau meminta maaf pada kita."


"Hah, selama itu?" Marco mengangguk yakin.


"Kalau memberi hukuman, jangan tanggung-tanggung, ma. Benar apa kata Adam, disana memang tempat yang paling cocok untuk keduanya.


Di tengah kedua orang tuanya yang tengah bercakap-cakap, Leon justru tampak asyik dengan handphonenya. Ia membuka situs tentang Islam. Terkadang dahinya berkerut, seperti orang yang tengah berpikir sesuatu.


"Pa, anak kita kenapa? Tidak pernah mama melihatnya seserius itu?" bisik Margareth pada suaminya. Kini keduanya memang sedang duduk di sofa tunggu. Marco pun ikut memperhatikan Leon.


"Apa sedang berbalas pesan dengan Fatim ya, pa?" tebak Margareth.


"Bisa jadi, ma."


"Tidak apa-apa, Fatim adalah gadis yang cukup baik. Lebih baik Leon dekat dengannya, bisa berubah lebih dewasa sedikit dan lebih sopan sedikit juga."


"Kenapa papa memberi nilainya cuma sedikit melulu sih sama anak sendiri?"


"Biar dia ada semangat untuk menambah nilai kebaikan yang ada dalam dirinya, ma. Anak kita itu sudah besar. Dan sudah saatnya ia bersikap dewasa dan serius. Tidak berbuat sesuka hatinya melulu. Kalau papa meninggal, siapa yang akan mengurus perusahaan kita nanti?"


"Papa, jangan bicara seperti itu dong. Mama jadi sedih nih." Mama Margaretha meletakkan kepalanya di lengan suaminya.

__ADS_1


"Kita dekati Leon yuk, pa. Mungkin dia butuh sesuatu." Margareth beranjak dari duduknya dan mendekati anaknya.


"Leon, kamu lagi sibuk apa?" tanya mama yang membuat Leon terkejut. Tapi mamanya sudah tahu jika dirinya sedang membuka situs tentang Islam.


__ADS_2