Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
130. Menepikan ego


__ADS_3

"Ka-kamu jadi tambah cantik saja nak." ucap mama Tiwi, saat melihat Fatim duduk di sampingnya. Papa Adam menoleh dan menatap wajah putrinya yang memang bertambah cantik.


"Belajar make up dimana?" imbuh papa Adam.


Mendapat pertanyaan beruntun dari kedua orang tuanya membuat Fatim bingung mau menjawab apa. Karena yang membuatnya menjadi cantik seperti itu adalah laki-laki bule yang tidak ia ketahui namanya.


"Kebetulan tadi ketemu teman, ma. Terus iseng saja dia merias Fatim jadi seperti ini."


Papa dan mama hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O sambil manggut-manggut. Mereka kembali menyaksikan acara yang tengah berlangsung. Yakni prosesi sungkeman.


Salman dan Wulan bersimpuh dihadapan Daddy dan mommy. Untuk meminta restu pada keduanya.


Daddy menyerahkan seluruh tanggungjawabnya pada Salman. Ia berharap pemuda itu bisa membimbing Wulan dengan baik. Karena Wulan adalah seorang mualaf yang masih perlu banyak belajar.


Salman tidak bisa menjawab, iya. Karena sejatinya dirinya juga masih banyak belajar. Tapi ia akan berusaha untuk menjadi imam yang baik bagi Wulan.


Mommy berpesan pada Wulan, agar anaknya itu berusaha untuk menjadi istri yang sholihah. Mengangkat derajat suaminya.


Wulan mengangguk dan akan berusaha menjadi seperti apa yang ibunya pinta.


Setelah itu, mereka bergantian bersimpuh. Doa dan nasehat yang sama untuk kedua mempelai itu.


Mereka larut dalam suasana yang penuh dengan kesan haru.


Setelah selesai, kini mereka bersimpuh dihadapan kedua orang tua Salman.

__ADS_1


Orang tua Salman juga mendoakan segala kebaikan untuk anak-anaknya. Menasehatinya bahwa dalam kehidupan berumah tangga tidak selalu indah seperti yang dibayangkan.


Adakalanya sebuah ujian diberikan untuk melihat seberapa besar kekuatan dan keyakinan cinta kita pada pasangan.


Dan tetap terus berusaha menjalani rumah tangga dengan penuh keikhlasan. Karena sejatinya berumah tangga adalah ibadah terlama sepanjang perjalanan hidup kita.


Suasana sungkeman adalah momen yang paling mengharukan. Sehingga tak jarang mereka meluapkannya sampai menangis tersedu.


Selesai acara sungkeman, dilanjutkan dengan ceramah mengenai pernikahan. Karena tamu undangan berasal dari dua keyakinan yang berbeda, maka mubaligh tidak menggunakan potongan ayat dalam penyampaiannya.


Hanya artinya saja, agar mudah dipahami oleh para hadirin. Semua mendengarkan ceramah itu dengan tenang dan baik. Termasuk keluarga Leon.


Leon sendiri lebih mudah menerima ceramah itu karena sedikit kebencian dihatinya perlahan menghilang, setelah mendengar ucapan Fatim tadi.


Dan Leon baru menyadari hal itu. Leon menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskan pelan. Ia malu dengan sikapnya selama ini. Sempat menjadi penghalang mereka.


Kini tiba saatnya acara foto bersama. Satu persatu keluarga di panggil ke depan untuk berfoto dengan pengantin.


Dan kini tiba giliran keluarga Leon. Mereka naik ke atas altar pelaminan, lalu bersalaman dengan pengantin dan kedua orang tuanya.


Saat menyalami pengantin ada rasa tidak enak ketika Leon berhadapan dengan Salman. Untuk waktu sekian detik keduanya saling beradu pandang dan diam.


Hingga akhirnya Leon menjabat dan memeluk Salman secara bersamaan. Wulan dan Fatim tersenyum melihat itu.


Kedua wanita itu tahu jika menyingkirkan egoisme sangat sulit. Dan hanya orang-orang yang berlapang dada yang bisa melakukan itu semua.

__ADS_1


"Selamat atas pernikahan kalian. Semoga selalu langgeng sampai maut memisahkan." ucap Leon berusaha bijak.


"Aamiin. Terima kasih doanya. Maut hanya memisahkan kami sementara waktu. Tapi selanjutnya in shaa Allah akan kembali bersama di surga atas kehendak-nya." timpal Salman sambil mengurai senyum.


"Aku akui, kamu memang lebih smart daripada aku. Pantesan saja Wulan begitu mencintaimu. Sehingga memutuskan pindah pemahaman."


"Dia pindah karena keinginannya sendiri. Bukan karena aku.


"Okay. Aku percaya itu."


"Semoga kamu lekas menyusul kami."


Leon terkekeh mendengar doa Salman.


"Selama ini aku hanya mencintai Wulan. Tidak pernah sekali pun aku berkenalan atau bahkan tertarik dengan gadis lain. Jadi mungkin doa mu belum bisa dikabulkan Tuhan dalam waktu dekat."


"Jangan salah. Apa kamu lupa, bagaimana kisah ku dengan Wulan. Siapa tahu kamu juga akan bernasib sama."


Sekali lagi Leon terbahak-bahak mendengar ucapan Salman. Baru kali itu keduanya bisa sedekat dan tertawa lepas. Seolah tidak pernah ada masalah sama sekali. Dan seolah sudah saling mengenal lama.


"Okay, terserah apa katamu. Btw, aku mau turun dulu. Tidak enak dengan yang lain. Sekali lagi selamat ya." ucap Leon mengakhiri percakapan dengan Salman.


Lalu ia mengulurkan tangan pada Wulan mengajak bersalaman. Tapi Wulan menangkupkan kedua tangannya lalu mendekatkan ke dadanya. Sembari mengurai senyum.


Walaupun ragu, Leon melakukan hal yang sama.

__ADS_1


__ADS_2