
Keesokan paginya, seperti biasa Wulan menggeliat manja saat matanya lamat-lamat terbuka.
"Selamat pagi dunia. Wulan bersiap menyambut hari ini dengan penuh semangat." gumamnya sambil tersenyum sendiri.
Ia segera beranjak dari tempat tidurnya, lalu membuka tirai jendela. Sinar matahari yang terasa silau membuatnya menyipitkan mata.
Setelah menghirup udara pagi dalam-dalam, lalu ia melakukan sedikit gerakan untuk melemaskan otot-otot badannya. Barulah setelah itu ia mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Selamat pagi semua." sapa Wulan dengan senyum sumringah nya, pada seluruh anggota keluarga yang tengah duduk mengitari meja makan.
Mereka pun menoleh bersamaan ke arah Wulan yang berjalan ke arahnya.
Gadis itu terlihat sudah rapi mengenakan blazer warna abu dengan rok warna senada dan kemeja warna biru muda. Terlihat seperti wanita karier.
"Pagi sayang." balas mereka bersamaan dengan tersenyum juga.
Ketika Wulan telah sampai, ia mengecup satu persatu pipi anggota keluarganya. Lalu duduk di kursi kosong dekat dengan mommy nya.
"Di hari anniversary mu, apa kamu tetap akan berangkat ke kantor genduk ayu?" tanya mommy.
"Iya, apa kamu tidak kangen dengan Daddy dan mommy?" imbuh Daddy Marquez.
"Hem, lalu apa yang harus Wulan lakukan Dad, mom?" tanya Wulan, setelah ia menghabiskan setengah gelas jus jeruknya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita menghabiskan hari ini untuk jalan-jalan?" usul Daddy.
Semua pun mengangguk setuju termasuk Wulan. Gadis itu tersenyum sumringah, seperti anak kecil yang akan di ajak tamasya kedua orang tuanya.
Mereka segera mengisi perut, dengan hidangan yang telah tersedia dengan penuh lahap dan tentunya sambil bercakap-cakap.
Setelah menghabiskan makanannya, mereka bersama membersihkan sisa makanan yang ada di meja. Lalu kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap.
Wulan pun mengganti pakaiannya dengan yang lebih pantas untuk di pakai jalan-jalan.
Celana jeans panjang, kaos lengan pendek warna putih dan outer warna moccha. Rambutnya yang panjang di ikat ke atas bak ekor kuda. Sebuah tas, ia selempang kan di bahu kirinya.
Setelah yakin dengan penampilan nya, ia pun segera keluar kamar. Dan ternyata bersamaan dengan anggota keluarganya yang lain juga baru saja keluar kamar.
Nampaknya ia memang sudah tak sabar ingin mengelilingi tanah kelahirannya. Mereka berjalan bersama menuju mobil yang telah siap di depan rumah.
"Wulan, kamu mau kemana?" seru Leon yang kebetulan hendak masuk mobil bersama papanya.
Ia bisa melihat apa yang dilakukan oleh keluarga Wulan karena pagarnya hanya setinggi satu meter.
"Kami mau jalan-jalan Leon." seru Wulan sambil berteriak juga.
Mendengar balasan Wulan, seketika membuat Leon ingin bergabung dengannya.
__ADS_1
"Leon, kamu harus bekerja. Banyak pekerjaan menanti mu. Biarkan Wulan bersenang-senang dengan keluarganya dulu." ucap papanya sebelum Leon sempat mengatakan keinginan nya pada Wulan.
"Tapi pa...."
"Kamu bisa pergi dengan Wulan nanti malam. Atau hari-hari selanjutnya kan?" potong papanya lagi.
"Baiklah pa." ucap Leon pasrah.
"Hati-hati, nanti malam kita keluar ya." teriak Leon sebelum mobil yang ditumpangi Wulan meluncur sempurna.
Leon menatap kepergian mobil mewah yang dalam hitungan detik sudah terlihat lagi. Setelahnya barulah ia masuk ke mobil.
"Fokus menyetir." ucap papa pada Leon. Pemuda itu pun hanya menganggukkan kepalanya. Papanya yang melihat hal itu menghirup nafas dalam-dalam.
Jatuh cinta memang bisa membuat segalanya berubah. Mood yang tadinya bagus, bisa jadi buruk. Hanya karena sesuatu yang tidak sampai.
"Sepertinya kamu terlalu berambisi untuk mendapatkan Wulan."
Leon menoleh menatap papanya sejenak.
"Kami sudah bersama sejak masih kecil pa. Tentu saja hati ini tak bisa jauh darinya. Dan berambisi untuk memilikinya."
"Jangan kamu genggam sesuatu terlalu serius. Jika benda itu terlepas, kamu akan begitu merasakan kehilangan." nasehat papa.
__ADS_1