Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
168. Sambutan baik dari Marquez


__ADS_3

Pagi itu dengan di antar oleh Salman, Leon pulang ke rumah Daddy Marquez. Segala urusan administrasi yang totalnya puluhan juta lebih, sepenuhnya di tanggung oleh papa Adam.


Awalnya Marco bersikeras menolak. Tapi Adam pun tetap memaksa untuk tidak menolak bantuan yang diberikan.


Akhirnya, Marco menerimanya. Dan tentu saja ia kembali mengucapkan beribu-ribu terima kasih pada keluarga Fatim. Karena sudah banyak membantu.


Fatim dan papanya mengantar keluarga Leon sampai di teras rumah sakit.


"Jangan lupa jenguk aku di rumah." ucap Leon sebelum masuk ke mobil, pada Fatim.


Keluarga mereka saling beradu pandang, lalu terkekeh kecil. Menyadari Leon yang pasti menaruh hati Fatim. Tapi keduanya belum menyadarinya.


"In shaa Allah." balas Fatim sambil menyunggingkan senyum tipis.


Mereka saling melambaikan tangan, lalu mobil pun mulai melaju meninggalkan pelataran rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, yang mereka bahas adalah orang-orang yang mencelakai Leon. Dan kini mereka bukannya mendekam dibalik jeruji besi, melainkan di balik pondok pesantren.


Awalnya Salman dan Wulan cukup terkejut ketika mendengar hukuman teraneh yang Marco berikan. Tapi setelah mendapat penjelasan, akhirnya mereka pun setuju dengan hukuman yang dijatuhkan.


Tidak hanya itu saja, Marco juga menyampaikan niatnya mengenai belajar tentang keyakinan yang dianutnya.


Tentu saja, Salman dan Wulan menyambut baik akan hal itu. Keduanya akan menyampaikan hal itu pada kedua orang tuanya masing-masing. Agar bisa membantunya.


Kini mereka pun sudah tiba di pelataran rumah megah milik Daddy Marquez. Mommy Melati sudah menyambut kedatangan mereka dengan duduk di depan teras rumah. Senyumnya mengembang ketika satu persatu anggota keluarganya turun dari mobil.


"Biar saya saja yang mendorong Leon, om." ucap Salman pada Marco.

__ADS_1


"Terima kasih, nak. Kamu memang orang yang baik." balas Marco.


Setelah bersalaman mereka menuju kamar Leon, yang sudah dibersihkan oleh asisten rumah tangga di rumah itu.


"Alhamdulillah, Tante senang kamu sudah diijinkan pulang, Leon." ucap mommy setelah Leon duduk bersandar di pinggir ranjang.


"Terima kasih, Tante. Maaf ya jika selama ini disini Leon sudah banyak merepotkan keluarga Tante."


"Sama sekali, tidak. Sudah tidak perlu bicara seperti itu."


Setelah sejenak berbincang-bincang, mereka keluar dari kamar Leon. Agar ia bisa istirahat lebih lama.


Tapi, bukannya beristirahat, Leon malah menggunakan waktunya untuk mencari ilmu pengetahuan lebih banyak lagi lewat internet.


"Kenapa baru sekarang aku menyadari semua ini?" gumamnya sendiri ketika telah menghabiskan waktu beberapa jam untuk mempelajari Islam.


"Kamu harus banyak makan sayur dan rutin mengonsumsi obat-obatan mu, Leon. Agar cepat sembuh." ucap Daddy Marquez di sela-sela makannya.


"Iya, om. Terima kasih sudah diingatkan."


Saat itu mereka membicarakan tentang keinginan Marco sekeluarga untuk belajar agama. Marco pun mengiyakan hal tersebut.


Tentu saja Daddy Marquez menyambut baik keinginan tetangga yang sudah dianggap sebagai saudaranya itu.


"Apa yang bisa kami bantu untuk kalian? Katakan saja, Marc." ucap Marquez.


"Aku ingin belajar pada ahlinya."

__ADS_1


"Tadi Salman sudah mengabari papa, om. sekeluarga bisa belajar dengan haji Dahlan. Kakek nya Aisyah dan Fatih. Kalau berkenan, besok kita kesana saja." usul Salman.


"Ide yang bagus. Kalau begitu Daddy juga ingin ikut, Sal. Biar wawasan kita semakin bertambah luas. Kamu setuju ngga, honey?" Daddy Marquez menoleh pada istrinya.


"Tentu saja aku setuju sayang. Bukan kah belajar bersama itu akan terasa menyenangkan?" mommy Melati tersenyum simpul.


"Aku juga setuju dengan saran dari mu, Salman." imbuh Marco.


Semua setuju dengan saran dari Salman. Mereka pun melanjutkan obrolan seputar itu.


**


Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, seluruh penghuni pesantren akan melaksanakan sholat tahajud pada pukul dua pagi.


Terlihat Ronald dan anaknya masih tertidur dengan pulas. Karena sebelumnya tidak bisa tidur dengan alasan, banyak nyamuk, tempat tidurnya kecil, dan masih harus di pakai dengan anaknya, Romi. Keduanya tidur sampai tumpang tindih, karena gerak mereka luar biasa banyak. Di tambah lagi, kamar itu tidak memiliki AC, hingga hawa terasa sangat panas. Bahkan mereka sampai melepas bajunya.


Di saat seperti itu asisten Marco membuka pintu kamar tahanannya dengan kasar, hingga suaranya begitu memekakkan telinga. Dan pasangan ayah dan anak itu pun terlonjak kaget.


"Hei, siapa kamu? Tidak bisa lihat orang lagi tidur ya!" bentak Ronald dengan wajah yang dipenuhi kilat amarah. Sementara asisten Marco hanya mengulas senyum sinis.


"Kamu lupa, sekarang itu sedang ada dimana? Sudah jam setengah dua dini hari. Cepat siap-siap untuk sholat..." asisten itu terlihat menggaruk kepalanya yang plontos.


Ia lupa nama sholat malam yang dikerjakan oleh umat muslim. Sedangkan Ronald dan Romi saling beradu pandang lalu mengalihkan pandangan ke seluruh sudut ruangan.


"Pokoknya, aku tidak mau tahu. Kalian harus cepat bangun, dan kita berangkat ke masjid sekarang." tegasnya sekali lagi.


"Iya-iya. Bawel."

__ADS_1


__ADS_2