Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
57. Moldi


__ADS_3

Mobil yang membawa Leon dan Wulan melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ibu kota yang tidak terlalu ramai pengendara.


Di dalam mobil, mereka saling bertukar cerita dengan penuh binar bahagia. Apalagi grandma dan grandpa yang sudah lama tidak bertemu dengan cucunya yang cantik bak bulan purnama, sehingga mommy nya ngotot memberi nama Wulan. Keduanya selalu menanyakan apa saja kegiatan gadis itu, sehingga beberapa kali dalam perayaan hari raya, tidak ke Belanda.


Wulan tersenyum kecil menanggapi mereka yang aktif bertanya. Lalu menceritakan apa saja kegiatannya. Grandma dan grandpa semakin bangga memiliki cucu sepeti Wulan, tak hanya cantik tapi ia juga pandai.


Untuk yang kedua kalinya, keluarga Leon menatap kebersamaan Wulan dengan grandma dan grandpa nya dengan senyum yang mengembang.


Tak lama kemudian, mobil telah memasuki kawasan rumah mereka. Lalu mobil berhenti tepat di pinggir jalan. Wulan, grandma dan grandpa segera turun dari mobil. Leon pun membantu menurunkan barang bawaan Wulan.


"Setelah kamu memasukkan koper mu, aku akan mengajakmu jalan-jalan. Bukan kah kita sudah lama tidak jalan bersama menyusuri setiap sudut kota ini?"


"Aku capek Leon, lagian kita baru sampai bukan? Pasti grandma dan grandpa akan mengajak ku bercerita sepanjang hari. Kamu tahu kebiasaan mereka bukan?"


"Hem, baiklah. Lagian kita masih punya waktu banyak disini."

__ADS_1


Wulan hanya mengangguk sambil tersenyum. Jiwa bermainnya mendadak menguap. Ia hanya ingin bekerja dengan baik, itu saja.


Mereka saling melambaikan tangan, lalu mobil bergerak mundur dan memasuki pelataran rumah Leon. Rumah mereka memang bersebelahan. Rumah grandma dan grandpa bercat putih, sedangkan rumah keluarga Leon bercat abu-abu. Dari segi bangunannya pun hampir sama.


Setelahnya mereka memasuki pelataran masing-masing. Wulan mengedarkan pandangannya melihat pelataran yang di tumbuhi aneka bunga yang berwarna-warni dan terlihat cantik.


Grandma dan grandpa nya memang suka bertanam sejak kecil. Maka dari itu, hobi mereka menurun ke menantunya.


"Ayo sayang kita masuk." ajak grandma sambil merangkul bahu Wulan, gadis itu pun mengangguk sambil tersenyum.


Mereka bertiga berjalan beriringan melewati jalan setapak. Dan berhenti di depan pintu kayu yang berwarna coklat. Grandpa mempersilahkan cucunya masuk terlebih dulu, setelah pintunya ia buka.


"Moldi." teriak Wulan ketika seekor anjing berwarna putih menubruknya. Gadis itu langsung menggendongnya dan membelai bulunya yang lembut itu.


"Ternyata kamu masih mengingat ku ya." cicit Wulan dengam gemasnya, sambil mengecup hewan peliharaan grandma dan grandpa nya.

__ADS_1


"Tuh, Moldi saja begitu kangen dengan mu. Sampai-sampai ia menubruk mu. Grandma harap, kali ini kamu betah berada di sini Wulan."


"Iya grandma. Wulan pasti betah disini." balas Wulan, tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari anjing kesayangan keluarga mereka.


"Ayo, kita ke kamar mu Wulan." ajak grandpa.


Wulan mengangguk, lalu mereka bertiga berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Wulan yang berada di lantai atas.


Wulan kembali mengedarkan pandangannya di kamarnya yang sengaja di design dengan warna serba pink. Yang merupakan warna kesukaannya. Mulai dari selimut, gorden, dan beberapa accesoris lainnya.


Design itu pun tak berubah sejak ia masih kecil sampai sekarang. Hanya ada beberapa barang yang memang sudah tidak layak pakai, sehingga perlu diganti dengan yang baru.


"Terima kasih grandma, grandpa. Telah mempersiapkan semua ini untuk Wulan." ucap Wulan sambil tersenyum, lalu memeluk mereka.


Huk...huk..huk

__ADS_1


Suara anjing Moldi saat melihat tuannya saling berpelukan. Mereka bertiga pun saling mengurai pelukan dan melihat ke arah Moldi sambil terkekeh.


"Sepertinya kamu marah pada kami ya, karena tidak di ajak berpelukan?" tanya Wulan disela-sela tertawa nya.


__ADS_2