Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
45. Arus listrik


__ADS_3

"Kak Salman." pekik Wulan, wajahnya terlihat memerah karena panik melihat Salman yang sudah jatuh tersungkur ke lantai. Ia segera masuk, dan mengulurkan tangannya membantu Salman untuk berdiri.


"Kak, kak Salman tidak apa-apa? Mana yang sakit? Ada yang berdarah tidak?" cecar Wulan sambil mengelilingi tubuh Salman, untuk memastikan tidak ada luka yang serius. Sedangkan Salman justru berdesir hatinya melihat perhatian yang Wulan tunjukkan.


"Kak, kakak tidak apa-apa kan? Kakak ngga sampai lupa ingatan kan? Masih ingat Wulan kan?" kini Wulan menatap Salman dengan serius.


"A_aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing karena kepala ku terbentur dinding." balas Salman terdengar gemetar.


"Ah, syukurlah. Wulan lega mendengarnya." Wulan mengurut dadanya sambil membuang nafas lega.


"Tapi Wulan tidak yakin. Biasanya kakak selalu bersikap dingin ke Wulan, kenapa sekarang justru terlihat gemetaran? Apa sebaiknya nanti aku anterin kakak ke dokter untuk memeriksakan diri? Siapa tahu ada luka dalam yang membuat kak Salman sedikit berbeda."


"Tidak, tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri. Silahkan ke dalam kalau begitu." ucap Salman masih dengan suaranya yang bergetar.


Ia melangkah keluar dan meninggalkan Wulan yang terbengong menatapnya.


"Arghhh..."

__ADS_1


Erang Wulan sambil memegangi perutnya. Teringat tujuan utamanya pergi ke toilet, ia pun segera menutup pintu nya. Tanpa ia sadari, Salman menoleh dan menatap pintu yang sudah tertutup.


'Aneh, kenapa aku nervous bicara dengannya? Biasanya juga tidak.' batin Salman. Ia menghentikan langkahnya, lalu menempelkan tangannya di dadanya.


'Astaghfirullah, jantung ku. Kenapa berdetak secepat ini? Gara-gara jatuh tadi, ataukah karena berdekatan dengannya?' batin Salman lagi, bahkan kini wajahnya pucat.


Ia menghela nafas panjang untuk menetralkan perasaannya.


"Aku tidak boleh mencintainya. Ingat! Ada dinding pembatas yang tinggi Salman." gumamnya untuk mengingatkan diri sendiri.


Salman berjalan menghampiri opa, papa dan relasi kerjanya yang kebetulan memang sedang mengadakan makan siang di restoran itu.


"Tidak apa-apa pa, tadi Salman hanya terpleset saja di kamar mandi." balas Salman dengan berbisik pula.


"Apa! Terpleset? Kita harus segera mengecek kondisi mu Sal. Opa tidak mau terjadi apa-apa dengan mu." suara opa Atmaja justru meninggi ketika mendengar Salman yang berbisik pada papanya.


Ia sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada cucu kesayangannya.

__ADS_1


"In shaa Allah Salman tidak apa-apa opa. Mari kita lanjutkan makannya." ucap Salman meyakinkan opanya. Ia juga merasa tidak enak karena pandangan rekam kerja tertuju padanya.


Sementara itu, Wulan yang telah kembali dari toilet dan ternyata melewati meja dimana Salman berkumpul, mendengarkan semua pembicaraan itu.


Hatinya diliputi rasa was-was dan bersalah. Takut jika terjadi apa-apa pada pujaan hatinya. Apalagi melihat opa dan papanya Salman yang begitu perhatian pada pemuda tampan itu.


Setelah Salman dan semuanya kembali menikmati makan, Wulan dengan langkah pelan kembali ke tempat duduknya.


"Wulan, apa kamu tidur di toilet ya? Kenapa lama sekali? Keburu dingin nih makanannya." celetuk Leon, ketika melihat Wulan menghampirinya.


"Tadi toiletnya antri, kebetulan kita kesini saat jam makan siang kan?" dusta Wulan sambil mengaduk makanannya.


Sebelum ia mulai menyuap, lagi-lagi pandangannya terkunci pada sosok Salman yang tengah menikmati makan siangnya sambil bercengkrama dengan rekan kerjanya.


Bagai sebuah arus listrik yang memiliki tegangan tinggi, Salman juga tak sengaja menatap Wulan. Sehingga keduanya saling beradu pandang cukup lama.


"Ayo dimakan." Leon menyenggol lengan Wulan, menyadarkan nya dari tatapan penuh cinta itu.

__ADS_1


"Eh, iya Leon." balas Wulan sambil tersenyum canggung, lalu memasukkan nasi ke mulutnya. Sedangkan Leon menatap tajam ke arah Salman.


'Pasti laki-laki itu ada hubungannya dengan Wulan. Sehingga membuatnya berubah.'


__ADS_2