
Sore itu, Fatim mengajak suaminya pergi ke rumah kakeknya. Dengan senang hati pria bule itu menuruti ajakan istrinya. Apa saja akan dilakukannya, agar istrinya bahagia.
Setelah keduanya berpamitan pada orang tua masing-masing, mereka pun berangkat dengan mengendarai mobil.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah kakek Somad, Leon dibuat terkagum-kagum dengan pemandangannya yang menyejukkan mata.
"Kenapa kamu baru mengajak ku kesini sekarang, sayang?"
"Memangnya kenapa?" Fatim mengernyitkan dahi menatap suaminya.
"Aku suka sekali dengan tempatnya. Menyejukkan hati dan juga mata."
"Sama. Makanya aku sering berkunjung, bahkan menginap di tempat kakek."
"Apakah kita nanti akan menginap?"
"Kamu lihat rumah kakek ku dulu. Nanti baru kamu putuskan, mau menginap atau tidak."
"Memangnya kenapa?"
"Rumah kakek jauh dari kata mewah. Bahkan orang bilang, rumah kakek itu seperti gubug reyot."
Leon terkekeh menanggapi ucapan istrinya. Ia pikir, Fatim hanya merendah. Rasanya tidak mungkin, di jaman yang maju dan modern seperti ini, masih ada rumah seperti gubug reyot.
Bahkan ia juga tidak bisa membayangkan, seperti apa rumah gubug reyot itu. Karena sejak bayi, ia sudah tinggal di kota besar.
"Kamu kenapa tertawa, kak? Pasti juga mau menghina."
"Sstt... Jangan terus berprasangka buruk dengan suami mu ini. Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk rumah gubug reyot itu. Apalagi mendengar namanya saja, baru kali ini. Terdengar lucu ditelinga."
Fatim menoleh menelisik wajah suaminya yang tampak masih terkekeh. Ibu hamil itu baru sadar, jika suaminya memang tinggal di kota besar sejak kecil. Jadi tidak pernah tahu bagaimana bentuk tempat tinggal orang-orang jaman dulu.
__ADS_1
Fatim kembali melihat jalan, dan mengarahkan suaminya agar tidak nyasar. Setelah menempuh hampir satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di desa kakek Fatim.
Dahi Leon mulai mengernyit, ketika melihat deretan rumah yang kecil-kecil. Bahkan lebih luas kamarnya sendiri dari pada rumah-rumah itu.
"Pertigaan itu nanti kita belok kiri ya, kak. Terus di samping kanan ada rumah warna hijau. Nah, itu rumah kakek Somad."
Leon menganggukkan kepalanya, mendengar arahan dari istrinya.
"Stop. Stop. Tuh, rumah cat hijaunya." Pekik Fatim, hingga membuat suaminya berhenti mendadak.
"Sayang. Jangan mengejutkan aku begitu dong." Leon mengusap dadanya, sambil menghirup nafas panjang.
"Maaf, kak. Takutnya nanti kebablasan." Fatim meringis menatap suaminya.
"Aku kan sudah pelan-pelan. Tidak bakal kebablasan." Leon pun menoleh ke arah rumah bercat hijau itu, dan mengamatinya dengan seksama.
Rumahnya memang benar-benar kecil. Terdiri dari satu lantai. Tapi begitu asri, karena beberapa pohon mangga dan aneka jenis bunga sengaja ditanam di pinggir pelataran rumah.
"Bagaimana tanggapan mu tentang rumah kakek, kak?"
Fatim terkekeh kecil, mendengar penilaian suaminya tentang rumah kakeknya.
"Kalau begitu, ayo kita masuk."
"Tunggu, aku parkir kan mobilnya di dalam sekalian."
Leon segera memarkirkan mobilnya di pelataran rumah kakek Somad.
Belum juga keduanya turun dari mobil, pintu rumah itu sudah terlihat dibuka. Dan muncullah seorang lelaki yang berambut serba putih. Tapi fisiknya masih terlihat segar, dan terlihat ia menyunggingkan senyum. Seolah tahu siapa yang datang.
"Ayo kak, kita segera turun." Ajak Fatim sekali lagi, dan Leon pun mengangguk. Keduanya turun bersamaan.
__ADS_1
"Fatim." Seru kakek Somad dengan wajah yang berbinar.
"Kakek." Balas ibu hamil itu.
Ia berjalan cepat, menyongsong kakeknya. Setelah mengecup punggung tangan kakeknya, keduanya saling berpelukan.
"Kapan kamu datang?"
"Dua hari yang lalu kek." Balas Fatim sambil mengurai pelukannya.
"Oh, perut mu sudah besar sekali. Berapa usia kandungannya?" Kakek mengusap perut buncit Fatim.
"Tujuh bulan, kek."
"Oh, sebentar lagi akan melahirkan. Eh, iya. Ini..."
"Suami Wulan kek." Potong Leon dengan cepat.
Pria bule itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan mengecup punggung tangan kakeknya.
"Aku masih tidak menyangka, ternyata jodoh cucuku adalah pria bule."
"Saya juga tidak menyangka, kek. Ternyata jodoh saya orang Indo." Kakek Somad terkekeh mendengar jawaban Leon.
"Oh iya, sudah sore, tidak baik ibu hamil di luar rumah. Ayo kita masuk dan bicara di dalam."
Fatim dan Leon mengangguk bersamaan, lalu keduanya berjalan mengekor sang kakek.
Leon tercengang hingga dirinya berdiri di ambang pintu. Melihat kesederhanaan yang ada di rumah kakek Somad. Kondisinya seratus delapan puluh derajat, sangat berbeda jauh dibandingkan dengan rumahnya.
"Jangan bengong seperti itu. Nanti kakek bisa tersinggung." Bisik Fatim, lalu menggandeng tangan suaminya. Agar segera duduk di kursi tamu.
__ADS_1
Setelah duduk, Leon pun masih mengedarkan pandangannya menyapu ke setiap sudut ruangan rumah itu.
"Jangan terkejut, rumah kakek memang seperti ini adanya. Berbeda jauh dengan rumah kamu, Leon." Ucap kakek, yang bisa melihat keterkejutan di wajah suami cucunya itu.